Benih Titipan Tuan Muda

Benih Titipan Tuan Muda
Biarkan Seperti Ini


__ADS_3

Ruangan itu begitu hening, meskipun terdapat dua orang di dalamnya. Namun tak ada obrolan di antara mereka berdua, keduanya sama-sama diam dalam keheningan, dan yang terdengar hanyalah suara detak jarum jam yang menggantung di dinding. Mereka berdua adalah Aster dan Keanu.


Sesekali Aster melihat kearah Keanu dan begitupun sebaliknya. Aster mengambil napas panjang dan menghelanya. "Kenapa tiba-tiba kau menyusul kemari?" tanya Aster memecah keheningan.


"Karena aku ingin memastikan jika calon anakku baik-baik saja." Jawab Keanu dengan nada datar.


Aster tersenyum pilu. Benar, mana mungkin Keanu datang untuk hal yang lain. Bahkan dia rela datang menerjang malam dan dingin hanya untuk memastikan keadaan calon anaknya.


Apa yang bisa Aster harapkan, karena sejak awal dia memang tidak pernah berharga di mata Keanu, dan hubungan mereka tercipta hanya untuk saling menguntungkan saling menguntungkan. Keanu mendapatkan keturunan, sedangkan Aster mendapatkan uang.


"Kau tidak perlu mencemaskan hal itu, anak ini juga anakku, sudah pasti aku menjaganya dengan baik," ucap Aster menegaskan. Dia sedikit tersinggung dengan ucapan Keanu. "Diperkirakan malam ini akan turun hujan, jadi sebaiknya kau menginap saja," Ia menambahkan.


Keanu tak memberikan jawaban apa-apa. Karena tanpa diminta pun, dia memang berencana untuk menginap. Keanu sangat lelah dan malas untuk berkendara.


Suasana kembali hening, tak ada percakapan lagi antara Keanu dan Aster. Ada jarak di antara mereka berdua, dan entah siapa yang lebih dulu menciptakan jarak itu.


"Key, aku ingin bertanya suatu padamu," lagi-lagi Aster yang mengakhiri keheningan di antara mereka berdua.


"Katakan,"


Aster menggeleng. "Lupakan saja. Ini sudah larut malam, sebaiknya kita tidur," ucapnya lalu berbaring dalam posisi memunggungi. Keanu terdiam, entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya jika Aster seperti menjaga jarak diantara mereka berdua.


Kedua mata Aster membulat ketika merasakan sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang. Hangat hembusan nafas Keanu menerpa pertopangan lehernya, memberikan sensasi geli sekaligus nyaman. Dan ketika Aster mencoba melepaskan pelukan itu, keanu menahannya dengan semakin mengeratkan pelukannya.


"Diamlah dan jangan banyak bergerak, biarkan aku memelukmu seperti ini, supaya dia bisa merasakan kehangatan dan rasa aman karena ayahnya selalu melindunginya," lirih Keanu setengah berbisik.


Aster tak memberikan reaksi apapun setelah mendengar ucapan Keanu, lagi-lagi yang dia lakukan demi janin di dalam perutnya. Semua perhatian, kehangatan ,kelembutan dan apa yang Keanu lakukan bukanlah untuk dirinya, melainkan calon anak mereka. Sungguh ironis, memang tak ada yang bisa Aster harapkan dari hubungannya dengan Keanu.


Wanita itu menghela napas pelan. Kemudian Aster memejamkan matanya dan mencoba untuk segera tidur meskipun sangat sulit. Sedangkan Keanu sudah tidur sejak beberapa detik yang lalu.


.


.

__ADS_1


Malam yang dingin telah berlalu. Menandakan jika sang penguasa malam telah kehabisan waktunya untuk menemani para manusia bumi yang kelelahan. Dan posisinya, sekarang digantikan oleh sang penguasa siang.


Disebuah rumah sederhana yang terletak di pinggiran kota. Seorang pria setengah baya terlihat sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Meskipun dia seorang laki-laki, namun untuk urusan memasak dia tak tak kalah dari perempuan. Karena bagaimana pun juga, dulunya dia pernah bekerja sebagai koki di sebuah hotel bintang lima.


Pagi ini ada yang berbeda. Jika biasanya dia menyantap sarapannya sendirian, namun kali ini tidak, karena ada Putri dan menantunya ikut sarapan bersamanya.


"Nak, kau sudah bangun. Duduklah dulu, setelah ini kita sarapan sama-sama," ucap paruh baya itu pada seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah menantunya. "Ngomong-ngomong di mana, Aster? Apa dia masih belum bangun?" tanya paruh baya itu yang tak lain dan tak bukan adalah tuan Jovan.


"Dia sedang mandi, apa kau yang menyiapkan semua makanan-makanan ini!" tanya Keanu sambil menunjuk semua makanan yang tersusun dimeja makan.


Tuan Jovan mengangguk. "Ya, memangnya siapa lagi jika bukan, Papa. Lagipula apa yang bisa diharapkan dari anak manja itu saat pagi seperti ini? Menyiapkan sarapan, rasanya itu sedikit mustahil, karena sebenarnya Aster tidak pandai memasak," jawabnya tersenyum.


Sudah lama sekali Keanu tidak melihat, senyum sahabat itu, senyuman hangat dan tulus seorang ayah. Rasanya saat dia melihat orang lain memiliki keluarga yang utuh, sementara dirinya tidak. Dan terus terang saja, piano juga ingin memiliki keluarga yang utuh seperti mereka, meskipun itu tidak mungkin dan sangat mustahil.


"Apa kau sangat menyayangi putrimu?" pertanyaan itu menghentikan langkah Tuan Jovan yang hendak kembali ke dapur, paruh baya itu kemudian menoleh dan menatap Keanu dengan bingung.


"Kenapa kau bertanya seperti itu, Nak? Tentu saja Papa sangat menyayangi Aster, karena bagaimanapun juga dia adalah hartaku yang paling berharga."Jawab Tuan Jovan. Keanu mengangguk, mendengar jawaban paruh baya itu. "Nak, kau ingin minum apa? Teh atau kopi? Biar Papa membuatkannya untukmu,"


Keanu menggeleng. "Tidak perlu repot-repot, cukup air putih saja,"


Dan obrolan mereka diinterupsi oleh kedatangan orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Aster. Kedua pria itu sama-sama menoleh, dan tatapannya tertuju pada wanita yang berjalan ke arah mereka. Tuan Jovan tersenyum Seraya menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa, sudah cepat duduk, ayo kita sarapan sama-sama," ucapnya dan dibalas anggukan oleh Aster.


Dan selanjutnya, sarapan mereka bertiga lewati dengan tenang, tak ada lagi obrolan di antara mereka bertiga, yang terdengar hanya denting suara sendok dan piring yang saling bersentuhan.


Setelah sarapan selesai. Keanu langsung pergi ke kantor, sementara Aster tetap di rumah ayahnya. Dia sudah mengatakan pada Keanu jika ia akan tinggal bersama ayahnya selama beberapa hari dan Keanu mengijinkannya. Entah kenapa dia tidak tega untuk melarangnya.


"Aster, Papa ingin bertanya sesuatu padamu. Sebenarnya kau dan Tuan Muda Keanu apa benar-benar saling mencintai?"


Deggg...


Pertanyaan itu membuat Astor sedikit tersentak. Sontak ia mengangkat wajahnya, sang ayah berdiri di depannya dengan tatapan serius. Aster terdiam, dia bingung kenapa tiba-tiba ayahnya bertanya seperti itu.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba Papa bertanya seperti itu? Tentu saja benar, aku dan Keanu memang saling mencintai, buktinya Sekarang aku sedang hamil anaknya," jawab Aster meyakinkan.


Tuan Jovan menggeleng. "Tapi bukan itu yang Papa lihat, hubungan kalian berdua begitu kaku dan terkadang kalian berdua terlihat sangat canggung, karena jika kalian memang saling mencintai, pasti tidak akan ada jarak seperti yang Papa lihat. Jujur saja pada Papa, Aster. Sebenarnya seperti Apa hubungan kalian berdua?" tuan Jovan mulai Curiga dengan hubungan Aster dan Keanu. Entah kenapa dia merasa Jika hubungan mereka berdua itu palsu.


Aster menggigit Bibir bawahnya, dia bingung harus menjelaskan bagaimana pada ayahnya tentang hubungannya dan Keanu.


"Pa, sebenarnya aku dan Keanu tidak saling mencintai. Dan hubungan kami berdua terjalin atas dasar saling menguntungkan. Dia menginginkan seorang anak, dan aku membutuhkan uang yang sangat banyak untuk melunasi semua hutang-hutang papa itu dan juga untuk membiayai operasi, Nenek. Pernikahan kami, hanyalah sebuah nikahan kontrak!!" Aster menutup matanya rapat-rapat. Dia menggigit bibir bawahnya, kedua matanya terasa panas dan Aster ingin sekali menangis.


Pada akhirnya dia tetap menceritakan tentang hubungannya dengan Keanu pada sang ayah. Sebenarnya Aster ingin sekali tetap menyimpan rahasia itu dari sang ayah, tetapi ketika dia bertanya, Aster tidak bisa bohong dan memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya padanya.


"Aster, kau~" Tuan Jovan mengangkat tangannya seolah-olah hendak menampar Aster, buru-buru wanita itu mengangkat lengannya dan meletakkan di depan wajahnya.


Dan selanjutnya yang Aster rasakan adalah kehangatan. Aster sungguh tidak menduga jika ayahnya akan memeluknya, dia pikir ayahnya tadi akan memukulnya.


"Aster, Maafkan Papa, karena keadaan keluarga kita kau harus mengorbankan masa depanmu. Jika saja Papa bisa memberimu kehidupan yang lebih layak, pasti kau tidak akan menderita dan banyak berkorban seperti ini. Maafkan Papa, Aster. Papa, sungguh-sungguh minta maaf," ucap Tuan Jovan dan semakin menerapkan pelukannya pada Aster.


Seketika tangis Aster pun pecah, iya benar-benar tidak bisa menahan air matanya setelah mendengar apa yang ayahnya katakan. Dia pikir ayahnya akan kecewa pada dirinya, yang ada dia justru meminta maaf padanya.


Aster menggeleng. "Tidak, Pa. Papa, tidak salah, jadi untuk apa meminta maaf? Lagipula apa yang aku lakukan jika demi keluarga kita. Aku benar-benar tidak ingin Papa terus-terusan dikejar para rentenir itu, karena hutang-hutang keluarga kita," ujar Aster dengan dengan suara parau akibat menangis.


Ayah dan anak itu saling berpelukan dengan. Saling menguatkan satu sama lain. Dan sebagai seorang ayah, Tuan Jovan merasa gagal, jika bukan karena dirinya yang tidak becus pasti Aster tidak akan banyak berkorban seperti ini.


Kemudian Tuan Jovan melepaskan pelukannya pada Aster. Jari-jari besarnya menghapus jejak air mata di wajah putrinya, membuat rasa bersalah kian membuncah di dadanya.


"Jangan bersedih lagi, kau masih memiliki Papa. Papa, akan selalu berada di sisimu dan mendukung apapun keputusanmu." Ucap Tuan Jovan dengan mata berkaca-kaca.


Aster meraih tangan ayahnya dan menggenggamnya."Semua yang aku lakukan hanya demi keluarga kita. Bahkan aku tidak peduli dengan omongan orang-orang diluaran sana, terserah mereka mau menganggapku bagaimana, aku hanya ingin keluarga ini hidup dengan tentram dan nyaman.


Tuan Jovan tersenyum dan menatap putrinya dengan bangga. Ternyata kau sudah dewasa, Nak. Papa sangat bangga padamu, putri Papa yang hebat," ucapnya dengan senyum yang sama.


Aster menyeka air matanya dan tersenyum lebar."Ya, Putri Papa ini memang sangat hebat, dan Papa harus bangga padaku." Ucapnya dan kembali berhambur ke pelukan ayahnya, memeluk sang ayah seperti tadi. Tuan Jovan mengusap kepala Aster dengan sayang lalu membalas pelukannya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2