
"Aku bermimpi kau mencium ku dan mengambil First Kiss ku. Kau membuat bibirku tidak perawan lagi,"
Ucapan Celine semalam terus terngiang-ngiang di telinga Ken. Bagaimana bisa dia bermimpi sekonyol itu? Dan terus terang saja, mimpi itu benar-benar mengganggu Ken sepanjang hari ini. Sampai-sampai dia tidak bisa fokus bekerja. Dia selalu teringat dengan mimpi itu.
Ketukan pada pintu sedikit menyita perhatiannya. Ken mengangkat wajahnya dan seorang wanita bersetelan rapi mengayunkan kedua kakinya memasuki ruangannya. Di tangannya memegang sebuah dokumen yang kemudian dia serahkan pada atasannya tersebut.
"Presdir, ini ada dokumen yang harus segera Anda tandatangani." Ucap wanita itu sambil menyerahkan dokumen tersebut pada Ken.
Ken hanya menganggukkan kepala. Tanpa berkata-kata, dia segera menandatangani dokumen tersebut lalu mengembalikan pada wanita itu. "Oya, Presdir. Tuan Akira, dari Akira Group ingin bertemu dengan Anda dalam waktu dekat ini. Beliau bilang ada kerjasama yang harus dibahas dengan Anda, dan Tuan Akira ingin Presdir langsung yang datang menemuinya. Bukan melalui perwakilan." Ujar wanita itu menerangkan.
"Katakan padanya jika aku baru ada waktu Minggu depan. Jika dia bisa menunggu sampai Minggu depan, aku sendiri yang akan pergi menemuinya. Tapi jika dia tidak sabaran biar Alex yang menggantikan aku." Tutur Ken.
Wanita itu mengangguk. "Baik, Presdir. Akan saya sampaikan. Oya, ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan pada Anda. Nona Celine, menghubungi saya dan berpesan supaya menyampaikan pada Anda jika beliau akan datang mengantarkan makan siang. Jadi Anda tidak perlu pergi ke luar untuk makan siang."
__ADS_1
"Baiklah, kau boleh pergi sekarang." Wanita itu membungkuk pada Ken kemudian beranjak pergi dari hadapannya dan melenggang keluar meninggalkan ruangannya. Masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Selepas kepergian wanita itu. Di dalam ruangan hanya menyisakan Ken sendirian. Suasana di ruangan itu kembali hening dan bisu. Tidak ada lagi obrolan seperti tadi karena memang tidak ada orang lain, Ken benar-benar hanya sendirian.
Denting pada ponselnya sedikit menyita perhatiannya. Tangan Ken berpindah dari keyboard laptopnya pada ponsel yang tergeletak di atas meja. Nama Celine tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Ken membuka pesan itu untuk melihat isinya. Dia penasaran kenapa Celine tiba-tiba mengirim pesan singkat padanya.
"Ge, sebelum makan siang aku akan pergi ke kantormu. Jadi tunggu aku datang, ya." kurang lebih seperti itulah isi pesan yang Celine kirimkan pada Ken.
.
.
Berkali-kali Ken melihat jam yang menggantung di dinding. Hampir pukul 12 siang, tapi Celine belum datang juga. Seharusnya dia sudah datang sejak 30 menit yang lalu, namun sampai sekarang batang hidungnya belum terlihat juga. Rasa cemas seketika menyelimuti perasaan Ken, dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Celine, perasaannya menjadi tidak enak.
__ADS_1
Ken mencoba menghubungi Celine, namun ponselnya tidak aktif. Dan hal itu membuat dia semakin cemas.
Tiba-tiba ponsel milik Ken berdering. Panjang umur, sedang di pikirkan dia malah menghubunginya. Ken segera menerima panggilan itu. "Celine, di mana kau? Bukankah seharusnya kau sudah datang sejak tiga puluh menit yang lalu. Tapi kenapa masih belum sampai juga sampai sekarang?" Ken bertanya tanpa basa-basi.
"Ge, aku mengalami kecelakaan. Kaki kananku terkilir dan aku tidak bisa jalan."
Ken terkejut bukan main setelah mendengar apa yang baru saja Celine katakan. Dia kecelakaan dan tidak bisa jalan? Apa separah itu? Kecemasannya menjadi kenyataan, sesuatu yang buruk benar-benar terjadi padanya.
Tanpa menghiraukan pekerjaannya yang masih terbengkalai, Ken buru-buru pergi ke rumah sakit tempat Celine di rawat. Dia harus memastikannya sendiri apakah lukanya parah atau tidak.
xxx
Bersambung
__ADS_1