Benih Titipan Tuan Muda

Benih Titipan Tuan Muda
Season 2: Sudah Terbiasa


__ADS_3

Sang surya telah menyapa dunia, perlahan terbit dari ufuk timur untuk kembali mengemban tugasnya menyinari bumi. Tidak lupa dia membangunkan para Manusia kelelahan agar tidak melewatkan momen-momen berharga di pagi hari ini.


Di sebuah bangunan mewah yang memiliki tiga lantai. Tepatnya di sebuah kamar megah nan mewah yang seluruh bagiannya di dominasi warna putih dan gold. Seorang gadis terlihat memagut diri di depan cermin.


Tubuh rampingnya dalam balutan dress diatas lutut bermotif bunga mawar , wajah cantiknya dipoles i make up tipis yang membuat kecantikannya terkesan natural. Setelah menyelesaikan ritual paginya, gadis itu melenggang keluar meninggalkan kamarnya.


Tapp...


Langkahnya berhenti di depan pintu kamarnya saat netra hazel-nya bersirobok dengan sepasang mata hitam milik seorang laki-laki yang juga baru keluar dari kamarnya. Si perempuan mengukir senyum lebar, sedangkan si laki-laki hanya memasang muka datar.


"Pagi, Ge." Sapa perempuan itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Celine. Namun tak ada jawaban, Ken menyikapinya dengan dingin.


Celine memperhatikan penampilan Ken yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Warna baru pada rambutnya membuatnya terlihat lebih segar dan lebih tampan.


Yang menjadi pertanyaan Celine, memangnya kapan Ken mengganti warna rambutnya? Karena seingatnya semalam rambut Ken masih berwarna coklat gelap dan sekarang berwarna Blonde.


"Ge, apa kau baru saja mengganti warna rambutmu?" tanya Celine sambil menunjuk rambut blonde milik Ken.


"Bukannya kau sudah melihatnya, jadi untuk apa lagi bertanya?!" jawab Ken dengan sini.


Celine menghela napas dan menatap Ken dengan sebal. "Ge, sebenarnya saat hamil dirimu dulu Mama ngidam apa sih? Sampai-sampai dia harus melahirkan seorang anak yang dingin dan bermulut tajam sepertimu?!" ucap Celine dengan heran.


Karena sudah terlalu terbiasa dengan sikap dingin Ken padanya, sampai-sampai Celine tidak lagi merasa sedih apalagi tersinggung dengan sikap kakak angkatnya tersebut, terlalu terbiasa malah.


"Daripada kau terus saja menggangguku, lebih baik pergi saja dan bantu Mama menyiapkan sarapan." Pinta Ken lalu meninggalkan Celine begitu saja.


Gadis itu mendengus kasar. Rasanya dia ingin merebus Ken di kuali besar dalam air mendidih supaya sifat dinginnya bisa mencair. Impian kecilnya untuk memiliki seorang kakak memang terwujud, tapi sayangnya kenyataan tidaklah seindah realita.

__ADS_1


Celine menggeleng. ",Mama saja melarang ku untuk masuk ke dapur, jadi bagaimana mungkin aku bisa membantu? Jika Mama sampai melihatku masuk ke dapur, bisa-bisa dia malah mengomeli ku habis-habisan." Ujar Celine menjawab.


Gadis itu mengekor di belakang Ken yang sedang menuruni tangga. Berapa kali Celine harus berbenturan dengan punggung bidang Ken ketika dia tiba-tiba berhenti, dan itu sudah terjadi kesekian kalinya.


"Ge, kalau mau berhenti bilang-bilang dong. Keningku sampai sakit keseringan menubruk punggungmu!!" protes Celine sambil mengusap keningnya.


Lagi dan lagi. Ken tiba-tiba berhenti tanpa memberitahu Celine terlebih dulu. Baru saja Celine dan hendak melayangkan protesnya, mulutnya lebih dulu disumpal coklat oleh Ken.


Sejak kepulangan Celine ke rumah mereka, Ken selalu sedia coklat. Karena hanya itu yang bisa membungkam mulut Celine dan membuatnya tidak mengoceh lagi.


"Diam dan jangan banyak bicara!!" pinta Ken sambil mengacungkan jari manisnya di depan muka Celine dan pergi begitu saja.


Dia terlalu muak jika harus terus-terusan mendengar ocehan celine yang tidak ada habisnya. Seperti seekor burung yang baru diberi makan pisang dan pepaya.


"Ma," seru Celine saat melihat Aster yang baru saja meninggalkan dapur.


"Celine, kau benar-benar bosan hidup , ya?!" geram Ken marah.


Celine menoleh pada Ken sambil tersenyum tiga jari."Maaf, Ge. Aku tidak sengaja." Jawabnya sambil tersenyum tanpa dosa. Ken menghela napas. Tidak ada gunanya berdebat dengan Celine yang sangat-sangat menyebalkan itu. Lebih baik dia langsung berangkat ke kantor saja.


Melihat wajah kesal Ken menimbulkan tanda tanya di benak Aster. Dia yakin jika kesal di wajah putranya itu bukan tanpa sebab, lalu pandangan Aster bergulir pada Celine dan menatapnya penuh selidik. Dia sangat-sangat yakin jika Ken kesal karena Celine.


"Kenapa Mama menatapku seperti itu?" tanya Celine dengan bingung.


"Pasti kau bilang keroknya. Kau yang membuat Kakakmu kesal bukan?" tebak Aster 100% benar.


Celine tidak menjawab dan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Aster pun hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua buah hatinya tersebut.

__ADS_1


"Kalian ini, selalu saja begini. Papa, kalian sudah datang. Ayo sekarang kita sarapan," ajak Aster pada kedua buah hatinya.


Ken menggeleng. "Aku sarapan di luar saja. Regita, menghubungiku dan mengajak sarapan bersama. Ma, Pa, aku berangkat dulu." pamit Ken dan pergi begitu saja.


Regita sendiri adalah kekasih Ken. Mereka berpacaran sejak enam bulan yang lalu. Ken menerima cintanya bukan karena dia benar-benar jatuh cinta padanya, tetapi karena Ken merasa kasihan padanya. Regita sudah mengejarnya sejak mereka sama-sama duduk di bangku SMA , namun Ken selalu menolak pernyataan cintanya.


Dan atas saran teman-temannya akhirnya Ken menerima wanita itu menjadi kekasihnya. Regita juga tahu jika Ken tidak pernah mencintainya. Akan tetapi itu tidak masalah baginya, yang terpenting adalah mereka bersama sekarang.


Sarapan kali ini mereka harus tanpa Ken. Baik Keanu maupun Aster sama-sama tidak ada yang bisa menghentikan putranya yang super keras kepala tersebut. Akhirnya mereka berdua mengalah dan membiarkannya pergi. Mereka sarapan bertiga dengan Celine.


xxx


Ken menghentikan mobilnya di sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari perusahaannya. Di sana Regita sudah menunggu kedatangannya bahkan dia juga sudah menyiapkan sarapan untuknya. Ada kopi hitam non gula dan juga dessert rasa macha, Ken adalah pembenci makanan dan minuman manis itulah kenapa Regita memesankan yang pahit untuknya.


"Ken, duduklah. Aku sudah memesankan sarapan untukmu dan ini kopinya, di minum dulu selagi masih hangat."


"Nanti saja. Sebaiknya kita makan sekarang, aku ada jadwal rapat pagi ini, jadi harus capat-cepat ke kantor." Ucap Ken.


"Baiklah Mr Workaholic, aku bisa mengerti. Tapi setidaknya kau harus mengisi perutmu dulu sebelum mulai bekerja, perutmu tidak boleh kosong."


Ken mengangguk. "Aku tahu, dan aku lebih mengerti dengan kondisi tubuhku di bandingkan dirimu. Sebaiknya kau cepat makan juga."


Selanjutnya mereka menyantap sarapannya dengan tenang. Tidak ada obrolan di antara mereka berdua, meskipun mereka duduk saling berhadapan. Sesekali Regita menatap Ken yang sedang menyantap sarapannya dengan tenang.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2