
Sepasang mutiara Hazel itu menatap semesta yang dipenuhi jutaan bintang, sepasang mutiara hazel-nya menyapu, mengelilingi setiap sudut langit yang terlihat megah.
Bulatan jingga itu menawan, membuatnya terlena dalam penuhnya bulan purnama. Celine menarik sudut bibirnya dan tersenyum kemudian. Angin berhembus, menyapa membawa kenyamanan
Desau angin seakan memainkan indahnya irama dawai, membius anak-anak rambutnya yang terurai dan melambai karena hembusan angin nakal. Sepasang mata hazel-nya terpancar dan terfokuskan, di dalam bola mata itu tersimpan sebuah harapan besar.
Celine menoleh seketika saat mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Sudut bibirnya tari ke atas melihat kedatangan Ken di kamarnya.
"Ge, kemarilah dan temani aku melihat bintang." Pintanya.
"Memangnya apa yang istimewa dengan bintang sampai-sampai kau begitu menyukainya?" tanya Ken. Pria itu kemudian berdiri disebelah kanan Celine, menatapnya dengan penuh rasa penasaran.
Celine tampak berpikir. "Em kenapa, ya? Mungkin karena bintang itu istimewa, mereka murni dan tulus, kecerahannya unik. Ketika aku merasa semuanya hilang, aku pergi untuk melihatnya. Ketika diriku merasa meledak dengan kebahagiaan, aku masih terus memandangnya untuk dapat mengucapkan terima kasih. Dan yang aku sukai dari bintang karena mereka adalah satu-satunya yang tidak berbohong kepada kita." Ujar Celine panjang lebar.
Kembali, pandangan Celine bergulir pada langit malam bertabur bintang. "Kau tahu, Ge," ucap Celine tanpa menatap lawan bicaranya. "Mama,pernah memberitahu ku jika bintang-bintang itu sebenarnya arwah orang-orang yang sudah mati."
Ken menoleh dan menatap Celine dengan mata memicing. "Benarkah? Bukannya bintang itu hanya benda langit biasa? Memangnya Mama tahu darimana jika Bintang adalah arwah orang yang sudah mati?" tanya Ken sambil menatap Celine bertanya dengan pandangan bertanya.
Gadis itu menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu, karena mama tidak memberitahuku dari mana dia mengetahui jika bintang adalah arwah orang yang telah tiada." jawab Celine, dia sendiri tidak tahu apakah yang dikatakan oleh ibunya itu benar atau tidak, atau mungkin hanya dongeng sebelum tidur? Semua masih menjadi misteri dan teka-teki.
Ken hanya tersenyum kecil menanggapi cerita Celine. Apakah Ken mempercayainya? Maka jawabannya adalah... dia sendiri tidak tahu. Mungkin saja itu benar, dan mungkin juga tidak.
"Menurutmu bagaimana, Ge? Apa kau percaya jika bintang adalah perwujudan dari arwah orang yang sudah tiada?" Celine menoleh dan menatap Ken penasaran.
__ADS_1
Ken menggeleng. "Entah, aku sendiri tidak tahu, karena belum ada penelitian yang bisa membuktikannya." jawabnya.
Celine mengangguk. "Ya, benar juga yang kau katakan. Oya, Ge.. Dulu sekali, saat aku masih remaja, harapan adalah sesuatu yang sangat menakutkan bagiku. Tak terhitung berapa kali dia membuatku kecewa dan kehilangan semangat hidup."
Ken kembali menggulirkan pandangannya pada Celine. "Kenapa bisa begitu? Memangnya apa yang membuatku takut pada sebuah harapan?" dia menatap Celine penasaran.
"Kau," Celine membalas pertanyaan Ken sambil mengunci manik hitamnya yang juga menatap padanya.
"Aku?" Ken semakin bingung.
Celine mengangguk. "Dulu kau sangat membenciku, bahkan sikapmu selalu dingin dan acuh. Aku selalu berharap jika suatu saat sikapmu akan berubah terhadapku, namun sayangnya harapanku selalu dipatahkan oleh kenyataan jika sikapmu padaku tidak pernah berubah, yang akhirnya membuatku menyerah untuk berharap "
"Namun, bintang jatuh yang melintas di langit malam itu mengabulkan keinginan hatiku. Sesuatu yang selama ini menjadi harapanku akhirnya didengarkan oleh sebentuk bintang mati. Perlahan sikapmu padaku berubah. Kau menjadi hangat dan peduli padaku. Kau hadir sebagai kembang tidurku," ujar Celine panjang lebar.
"Memang bodoh diriku. Jika saja aku mau mengakui perasaanku sejak awal dan mengesampingkan egoku. Mungkin sejak lama kau menjadi seorang malaikat tanpa sayap dalam hidupku, yang melengkungkan senyum di bibirku, dan menyebarkan hangat di beku hatiku. Dia membuatku mengerti apa arti mencintai." Tutur Ken sambil mengunci manik Hazel milik Celine.
"Ge, Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu, aku ingin hubungan kita berlangsung selamanya bahkan maut pun tidak boleh memisahkannya." Ucap Celine tanpa mengakhiri kontak mata diantara mereka.
Tanpa berkat apa-apa, Ken menarik tengkuk Celine kemudian mengecup bibir ranumnya dan sedikit melumattnya. Sebelah tangan kiri Ken menari pinggang Celine dan membunuh jarak diantara mereka.
Ken terus memagut mesra bibir Celine yang merona, mencium bibir itu penuh kelembutan dan bergaiirah.
Membuat Celine terhipnotis oleh tatapan Ken yang lembut namun berbahaya, dan ketika pria itu mencium bibirnya, ia pun diam saja.
__ADS_1
Celine tidak bisa memungkiri nya, ciuman Ken terasa begitu memabukkan dirinya. Dan tanpa ia sadari, ia pun menerima ciuman itu. Ciuman yang manis itu. Diam-diam Ken tersenyum di sela lumattan nya, ada rasa bahagia di hatinya ketika ia tau Celine tak menolak ciuman dari nya.
Bibir keduanya saling memagut, dan melumatt penuh gairah. "Aahhh..." satu dessahan lolos dari bibir Celine, membuat Ken semakin liar mencumbu calon wanitanya.
Cumbuan Ken turun ke bagian leher jenjang mulus milik Celine yang tanpa noda, menjilat dan menyesap serta sesekali mengigit kecil di leher mulus gadis itu hingga tampak bekas merah tanda kepemilikan di sana .
Celine terus mendessah, merasakan sesuatu yg membuatnya geli serta menggelitik area leher nya. Dia meremas helaian coklat milik Ken, memberi akses padanya untuk melakukan sesuatu yg lebih.
Ketika bibir Celine terbuka , buru-buru Ken menelusup kan lidahnya ke dalam mulut itu. Ken memainkan liidahnya di dalam mullut hangat Celine lalu mengabsen satu persatu deretan gigi putihnya yang rapi. Dan ciuman itu baru berakhir ketika Ken merasakan pukulan pada Dadanya, rupanya Celine sudah tidak sanggup untuk melanjutkannya lagi
Ken mengakhiri tautan bibirnya. Dan setelah bibirnya terlepas, sebisa mungkin Celine meraup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang hampir kosong. Wajahnya memerah padam, dia benar-benar ingin mengutuk Ken karena sudah membuatnya kehabisan nafas.
"Ge, kau berniat untuk membunuhku, ya? Aku hampir saja kehabisan nafas karena dirimu!!" ucapnya sambil merengut kesal.
Ken terkekeh. Satu jitakan mendarat mulus pada kening Celine. "Jangan banyak protes. Sebaiknya masuk ke dalam dan segera tidur. Besok aku ingin membawamu ke suatu tempat." Ucap Ken.
Celine menoleh dan menatapnya dengan mata berbinar-binar. "Kemana?" tanya Celine penasaran.
"Besok kau akan tahu sendiri. Sekarang Cepat tidur," pinta Ken sekali lagi.
Celine menghela napas. Dengan terpaksa gadis itu menganggukkan kepala. Kemudian dia kembali ke kamarnya dan pergi tidur. Sedangkan Ken pergi ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.
xxx
__ADS_1
Bersambung