
Aster menoleh ke belakang saat merasakan sepasang tangan kekar memeluknya dengan hangat. wanita itu tersenyum lebar Keanu memberikan kehangatan yang begitu nyata untuknya. Meskipun puluhan tahun telah berlalu, namun kehangatan itu tidak pernah berubah.
"Apa yang sedang kau lamun kan, Hm? Apa kau sedang memikirkan anak-anak?" tanya Keanu sambil melonggarkan pelukannya.
Aster mengganggu kan kepala. "Ya, diam-diam Aku merindukan mereka berdua. Sedang apa mereka? Sudah makan atau belum? Aku selalu memikirkannya," jawab Aster.
Keanu bisa memahami betul Apa yang dirasakan oleh istrinya. Karena Keanu juga merasakan apa yang dirasakan olehnya.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan, bukankah kau sendiri yang memiliki ide untuk meninggalkan mereka berdua? Jadi untuk apa sekarang harus di sesali? Lagi pula dengan begini mereka bisa lebih Mandiri. Jadi Nikmati saja liburan kita ini, tanpa harus memikirkan hal-hal lain termasuk anak-anak." Terang Keanu panjang lebar.
Aster kembali menganggukkan kepala setelah mendengar nasehat Keanu. Memang benar yang dikatakan oleh suaminya, mereka pergi ke luar negeri untuk berlibur dan bersenang-senang. Jadi untuk apa memikirkan hal lain? Lebih baik menikmati liburan mereka ini.
"Benar juga yang kau katakan. Aku ganti baju dulu, setelah ditemani aku jalan-jalan dan berbelanja. ada banyak barang yang ingin aku beli," Ucap Aster, Keanu menganggukkan kepala.
"Baiklah."
xxx
Celine membuka matanya dan mendapati hari sudah siang. Sang mentari telah tinggi naik menuju singgasananya. Lalu pandangannya bergulir ke sisi kanannya, tempat itu telah kosong dan artinya Ken sudah bangun.
Gadis itu pun segera turun dari ranjang Ken lalu bergegas keluar. Dari lantai dua, celine bisa melihat dengan jelas kan yang sedang berbincang dengan Rio di ruang keluarga. Lihat dia sudah baik-baik saja, Celine pun bisa menghela nafas. Kekhawatirannya tentang Ken sudah tidak ada lagi.
__ADS_1
Dengan santai, Celine melenggang dan pergi ke kamar miliknya sendiri. Dia ingin segera mandi tubuhnya yang penuh keringat, baru kemudian pergi sarapan.
Setelah mandi dan mengganti pakaiannya. Celine pun meninggalkan kamarnya dan menghampiri Ken. Dia ingin memastikan jika keadaan Ken sudah benar-benar membaik.
"Ge, bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah baik-baik saja tanya Celine tanpa basa-basi. Dan pertanyaannya mengalihkan perhatian mereka berdua, Ken dan Rio sama-sama menoleh ke arahnya.
Ken mengangguk. "Ya, seperti yang kau lihat. Sudah tidak apa-apa dan kondisiku jauh lebih baik dari semalam," jawab Ken meyakinkan.
"Baguslah kalau begitu, aku lega mendengarnya." Ucap Celine sambil menghela napas lega. "Aku lapar, apa ada makanan yang bisa di makan?"
"Tentu saja ada. Kebetulan aku juga belum sarapan, kita sarapan sama-sama." Ken bangkit dari duduknya dan melenggang menuju meja makan. Ikuti oleh Celine dan Rio. Mereka bertiga kemudian sarapan bersama-sama.
Ken sengaja menunda sarapannya untuk menunggu Celine, karena tidak mungkin dia sarapan sendirian tanpa gadis itu. Karena Ken tidak langsung kejam itu.
.
.
Ken bangkit dari duduknya saat mendengar deru suara mobil memasuki halaman rumahnya. Matanya memicing melihat sebuah mobil asing terparkir di samping mobilnya. Seorang laki-laki keluar dari mobil tersebut, di tangannya membawa sebuah buket bunga dan sekotak coklat.
Dia tidak mengenali siapa laki-laki itu, wajahnya terlihat asing bagi Ken. Untuk mencari tahu, Ken melenggang keluar meninggalkan kamarnya.
__ADS_1
Dari lantai dua kediamannya, Ke melihat laki-laki itu sedang berbincang dengan Celine. Bunga dan coklat yang sebelumnya berada di tangan laki-laki tersebut sekarang sudah berpindah ke tangan Celine.
Dari kejauhan, Ken terus memperhatikan mereka berdua yang terlihat sangat dekat dan akrab. Dalam hatinya bertanya-tanya, siapa lelaki itu dan apa hubungannya dengan Celine.
"Celine..." panggilan itu mengalihkan perhatian Celine dan lelaki asing tersebut. Keduanya sama-sama menoleh pada asal suara.
"Ge, baguslah kau datang. Baru saja aku mau memanggilmu, aku ingin mengenalkan mu pada temanku. Namanya Mark dan dia baru tiba dari luar negeri." Ucap Celine. Dia memperkenalkan Laki-laki itu 'Mark' pada Ken.
"Memangnya siapa yang memberimu ijin untuk membawa laki-laki masuk ke rumah ini?!" tanya Ken sambil menatap Celine pandangan tajam.
"Mama dan Papa, karena sebelum dia datang Aku sudah meminta jika pada mereka berdua dan mereka mengijinkannya. Selama beberapa hari dia akan tinggal bersama kita di sini, jadi kau harus bersikap baik padanya. Aku sudah meminta ijin pada Mama dan Papa jika Mark akan menginap selama beberapa hari, dan mereka mengijinkannya." Terang Celine menuturkan.
"Tapi aku tidak mengijinkannya, jadi suruh dia pergi dari sini sekarang juga!! Aku tidak suka melihat orang asing yang ada di rumah ini. Bukankah masih banyak tempat lain yang bisa dia jadikan tempat tinggal, Kenapa harus rumah ini?" Ujar Ken. Pandangannya tertuju pada Mark yang tampak berkeringat dingin yang tampak berkeringat dingin.
Buru-buru menganggukkan kepalanya. "Benar sekali apa yang dia katakan, sebaiknya aku pergi dan cari penginapan saja. Celine, Aku tidak jadi menumpang tinggal di sini, aku akan pergi ke tempat lain saja." Tutur Mark.
Celine menggeleng. Lalu pandangannya bergulir pada Ken. "Ge, kau jangan keterlaluan. Mark , ini adalah putra dari teman baik Mama dan Papa. Aku juga tidak berani untuk mengijinkannya untuk tinggal di sini selama beberapa hari tidak ada ijin dari mereka berdua. Jadi kau jangan keterlaluan." Ujar Celine menegaskan.
Ken menghela napas. Kemudian dia beranjak dari hadapan Celine dan pergi begitu saja. Celine hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepala melihat tingkah Kakaknya. Tapi Celine tak mau ambil pusing dan terlalu memikirkannya, karena memang begitulah Ken. Dingin, datar dan bermulut tajam.
xxx
__ADS_1
Bersambung