Benih Titipan Tuan Muda

Benih Titipan Tuan Muda
Season 2: Getaran Apa Ini?!


__ADS_3

Tatapan tidak suka terlihat jelas ketika Ken melihat kedekatan Celine dan Mark. Bukan hanya pada mereka berdua dia kesal, tetapi pada orang tuanya juga. Karena mereka berdua lah yang memberi ijin pada laki-laki itu untuk tinggal di rumah mereka. Apa tidak ada tempat lain yang bisa di tinggali? Lalu kenapa harus kediaman Xiao?!


Perhatian Ken sedikit teralihkan oleh ke datangan seseorang. Seorang pria setengah baya terlihat menghampirinya. "Tuan Muda, apa yang sedang Anda lakukan di sini?" tanya laki-laki itu yang pastinya adalah Rio.


Ken hanya menatap sekilas ke arahnya dan menggeleng. "Tidak ada," dan menjawab singkat. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Ken beranjak dari hadapan Rio dan pergi begitu saja. Lebih baik dia kembali ke kamarnya dari pada harus melihat pemandangan menyebalkan seperti itu.


Rio memiringkan kepalanya dan menatap Ken penuh tanya. Dia bertanya-tanya kenapa Tuan Muda nya itu tiba-tiba bersikap aneh begitu? Lalu pandangan Rio bergulir pada apa yang di saksikan oleh Ken tadi, dan sekarang dia mengerti alasan Tuan Muda nya itu tiba-tiba kesal.


Lelaki paruh baya itu tersenyum tipis. Sepertinya terbesit rasa tidak rela di hati Ken saat melihat kedekatan mereka berdua. Mungkinkah dia cemburu? Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawabnya.


xxx


Suara gelak tawa terdengar di tengah-tengah obrolan Celine dan Mark. Mark yang memiliki sifat humoris tentu saja sangat mudah untuk mencairkan suasana. Dan jika disatukan dengan Celine yang memiliki sifat bar-bar memang paling pas. Tapi bukan sebagai pasangan, melainkan sahabat.


Tiba-tiba tawa Mark berhenti saat dia teringat pada Ken. Setiap kali mengingat tatapan tajam Ken tadi membuatnya agak sedikit merinding, rasanya benar-benar seperti uji nyali. Dia pikir manusia dalam wujud iblis hanya ada di dalam novel saja. Tetapi di dunia nyata pun ada.


"Cel, apa sebaiknya aku pindah saja dari sini, ya? Sepertinya kakakmu benar-benar tidak menyukaiku, setiap kali melihat tatapannya tubuhku langsung merinding. Padahal ini belum genap satu hari, menurutmu bagaimana?"


Alih-alih menjawabnya. Celine malah menatapnya dengan bingung. "Kenapa tiba-tiba kau membahas tentangnya? Sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan. Dia memang seperti itu orangnya, Tapi percayalah jika Ken Ge sebenarnya adalah orang yang baik meskipun sifatnya seperti kulkas 3 pintu." ucap Celine sambil menganggukkan kepala.


Celine tidak bisa menampik jika dia sendiri juga agak ngeri dengan sikap Ken sejak Mark menginjakkan kakinya di rumah ini. Sikapnya menjadi semakin dingin padanya sejak mereka berdua terlibat perdebatan sengit tadi. Ken sepertinya agak sedikit kesal karena dia lebih membela Mark.


Sepertinya dia harus berbicara dengan Ken dan membujuknya supaya bisa menerima Mark dengan lapang dada dan tangan terbuka. Meskipun Celine sendiri tidak yakin itu akan berhasil.

__ADS_1


"Kau mau kemana?" seru Mark melihat Celine tiba-tiba berdiri.


"Sebaiknya kau istirahat. Ada hal penting yang harus aku lakukan sekarang," jawab Celine dan pergi begitu saja.


Dia tidak tahu ke mana Gadis itu akan pergi. Tetapi Mark tidak mau terlalu ambil pusing. Mungkin sebaiknya dia beristirahat untuk menenangkan pikirannya yang sedikit kacau. Mark menyesuaikan diri untuk terbiasa dengan sikap dingin Ken, mungkin dalam dua tiga hari dia akan terbiasa.


xxx


Angin Malam berhembus dengan pelan. Namun mampu menerbangkan helaian demi helaian rambut seorang laki-laki yang sedang berdiri sendirian di balkon kamarnya.


Dinginnya angin yang berhembus malam ini tidak mengusiknya sedikitpun, bahkan pakaian yang melekat di tubuhnya pun sangat kontras dengan udara malam ini.


Tubuhnya dalam balutan celana hitam, singlet dan Vest yang senada dengan warna celananya.


Suara decitan pintu terbuka sedikit mengalihkan perhatiannya. Ken menoleh ke belakang dan mendapati Celine yang sedang memasuki kamarnya. Namun Ken tidak menghiraukan kedatangannya, kembali dia melihat pada langit malam. Bahkan ketika Celine berdiri di belakangnya pun dia tidak peduli.


"Ge, apa yang sedang kau lakukan di sini sendirian? Udara malam ini sangat dingin, tapi kenapa kau malah berpakaian seperti ini? Kau bisa masuk angin jika hanya memakai pakaian lengan terbuka begini," tegur Celine saat melihat pakaian yang di kenakan oleh Ken.


Tidak ada tanggapan dari laki-laki itu. Ken hanya menatap sekilas ke arah Celine. Pandangannya kembali pada langit malam.


"Ge, apa kau kesal dan marah padaku karena aku membawa Mark dan mengajaknya untuk tinggal di sini bersama kita? Ge, ketahuilah. Di sini Mark tidak memiliki siapa-siapa, satu-satunya teman yang dia miliki adalah aku. Jika bukan aku yang membantunya, Lalu siapa lagi? Ketika aku berada di luar negeri, keluarganya memperlakukanku dengan sangat baik dan apakah salah jika aku mencoba untuk balas budi pada mereka?"


Ken menghela napas. "Tidak ada yang melarang mu untuk tinggal di sini. Tapi masalahnya Mama dan Papa sedang tidak ada di rumah. Apa kau tidak takut orang akan membicarakan kalian nantinya? Seorang pria tinggal dengan wanita yang bukan istrinya, sementara kedua orang tuanya tidak ada. Itu yang aku pikirkan, tapi kenapa kau tidak memahami juga!!" ujar Ken sambil menatap Celine dengan sebal.

__ADS_1


Bukan itu. Jelas bukan hal itu alasan Ken keberatan Mark tinggal bersama mereka. Bukankah masih ada dirinya, Rio dan para pelayan serta Bodyguard yang juga tinggal di rumah ini. Jadi tidak mungkin ada pandangan buruk hanya karena Mark ikut tinggal bersama mereka. Tapi apa alasannya? Entah, Ken sendiri juga tidak memahaminya.


"Jika Itu masalahnya, bukankah masih ada kau dan Paman Rio? Kalian berdua adalah pengganti Mama dan Papa ketika mereka sedang tidak ada. Jadi apa yang masih perlu dicemaskan?" ujar Celine. Matanya terkunci pada mata hitam milik Ken.


Ken tidak memberikan tanggapan apa-apa. Dia diam dan membuang muka. Sampai sentuhan lembut pada lengan terbuka nya kembali mengalihkan perhatiannya.


"Ge," panggil Celine dengan suara lirih. Tatapannya menyiratkan permohonan..


Untuk kedua kalinya, Ken menghela napas. Memangnya apa yang bisa dia lakukan, mengusirnya keluar juga tidak mungkin. Apalagi ibu serta ayahnya juga terlibat. Mereka berdua yang mengijinkan Mark untuk tinggal sementara di kediaman Xiao.


"Baiklah, aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi pastikan dia tidak bertindak macam-macam apalagi sampai mengganggu ketenanganku, atau apa tidak akan segan-segan untuk mendepaknya keluar dari rumah ini!!" ujar Ken menegaskan.


Senyum lebar di bibir Celine mengembang seketika. Dia mengangguk dengan antuasias. "Aku tahu kau tidak akan tega. Ge, kau memang yang terbaik. Aku semakin menyayangimu." Celine berhambur ke pelukan Ken dan memeluknya dengan erat. Membuat tubuh laki-laki itu seketika terpaku. Sungguh Ken tidak menduga dengan respon Celine.


Ken menurunkan pandangannya pada Celine yang masih memeluknya. Tubuhnya mendadak kaku dan membeku. Ken melepaskan pelukan itu dengan paksa lalu beranjak dari hadapannya.


"Sebaiknya keluar, aku mau istirahat." Pinta Ken tanpa menatap Celine. Tanpa mengatakan apapun, gadis itu beranjak dan meninggalkan Ken begitu saja.


Ken memegangi dada kirinya yang tiba-tiba berdebar saat Celine memeluknya. Dia merasakan getaran aneh dan tidak biasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan asing yang baru saja kan rasakan saat ini.


"Getaran apa ini? Mungkinkah aku jatuh cinta padanya?"


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2