Benih Titipan Tuan Muda

Benih Titipan Tuan Muda
Terimakasih Telah Mencemaskanku


__ADS_3

Keheningan menyelimuti kebersamaan Aster dan Keanu di kamar mereka. Saat ini Aster tengah membantu Keanu mengganti perban pada mata kanannya. Mata kanan Keanu mengalami cidera ketika membuka bingkisan misterius dua hari yang lalu.


Aster memperhatikan kondisi mata Keanu. Untung saja cidera yang dia alami tidak terlalu parah. Sehingga tidak akan berakibat fatal pada penglihatannya. Tapi tetap saja lukanya membuat perut Aster jadi ngilu.


"Pasti rasanya sakit sekali?" Aster mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam manik mata Keanu.


Laki-laki itu menganggukkan kepala. "Ya," dia menjawab singkat.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasibmu jika kekuatan ledaknya lebih besar." Ucap Aster di tengah kesibukannya.


"Hanya ada dua kemungkinan. Cacat, atau mati."Jawab Keanu menimpali.


"Amit-amit. Untuk itu, mulai dari sekarang kau harus lebih berhati-hati lagi. Jika ada barang yang mencurigakan jangan asal buka saja. Apalagi barang itu misterius dan tidak tau siapa pengirimnya. Penasaran boleh, tapi waspada juga harus. Karena bagaimana pun juga keselamatan diri sendiri itu adalah yang paling utama." Ujar Aster menuturkan.


Terus terang saja. Aster benar-benar mencemaskan kondisi Keanu. Apalagi dengan cidera yang dia alami saat ini. Dan Aster tidak bisa membayangkan hal buruk seperti apa yang akan dialami oleh Keanu jika kekuatan ledaknya lebih besar dari malam itu.


Keanu mengusap pipi Aster tanpa mengakhiri kontak mata di antara mereka berdua. "Terimakasih sudah mencemaskan ku." Ucapnya sambil mengusap tangan Aster.


"Sudah selayaknya. Kau sudah banyak membantu keluargaku dan aku tidak ingin menjadi wanita yang tak tau diri. Setidaknya aku tahu bagaimana caranya berterimakasih. Minum obatmu, aku keluar dulu." Ucap Aster lalu dari hadapan Keanu dan meninggalkan laki-laki itu sendirian di kamarnya.


Keanu menghela napas. Dia bangkit dari sofa untuk mengambil laptopnya yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya. Ada beberapa email dan datang yang harus dia periksa, jadi mana mungkin dia bisa istirahat.


.


.

__ADS_1


Vera mencoba menahan yang hendak meninggalkan kediaman Zhang. Dia benar-benar tidak bisa menerima jika ibu dan ayahnya sampai bercerai. Vera mencoba menghentikan Maya yang hendak meninggalkan kediaman Xiao.


"Mama, Vera mohon jangan pergi. Kau dan Papa tidak boleh bercerai. Dan apapun alasannya pokoknya kalian berdua tidak boleh bercerai!! Jadi Vera mohon Mama jangan pergi, demi aku Ma." Vera menghalangi Nyonya Maya yang hendak meninggalkan kediaman Xiao. Dia benar-benar tidak bisa hidup tanpa ibunya.


Nyonya Maya menghentikan langkahnya lalu melepaskan pegangan Vera pada lengannya. Dia menatap putrinya itu dengan pandangan dingin dan datar.


"Maafkan Mama, Vera. Tetapi Mama tidak bisa bertahan dengan Papamu. Kami sudah tidak sejalan lagi. Lagipula Papamu sudah tidak memiliki apa-apa lagi, bahkan jabatan pun dia tidak punya. Jadi apa yang bisa Mama mengharapkan darinya?! Jika kau tidak ingin berpisah dengan, Mama. Ikutlah Mama dan kita keluar dari rumah ini. Kita akan mendapatkan hidup yang jauh lebih baik dari hidup kita yang sekarang." Ujarnya.


Maya tidak akan mengandalkan Delon yang tidak mungkin bisa memberikan hidup yang layak padanya. Selama ini mereka memang tinggal di rumah mewah, tetapi rumah itu milik orang lain. Dan mustahil bagi Delon untuk bisa menguasai harta kekayaan keluarga Xiao, karena Keanu lawan yang mudah untuk dihadapi.


"Tapi, Ma~"


"Mama, tidak akan memaksamu untuk ikut bersama Mama. Mau ikut ataupun tidak, semua keputusan ada di tanganmu!! Mama, pergi." Ucap Maya lalu meninggalkan Vera begitu saja. Maya tidak ingin hidup miskin, jadi untuk apa dia tetap mempertahankan pernikahannya dengan Delon yang jelas-jelas tidak memiliki apa-apa.


"Mama, tunggu. Baiklah aku akan ikut pergi bersamamu," ucap Vera pada akhirnya. Lebih baik dia hidup tanpa ayahnya daripada harus hidup tanpa ibunya. Dan Vera ingin supaya ayahnya berpikir bagaimana dia bisa hidup tanpa dirinya dan ibunya.


Tak sampai 20 menit. Vera kembali dengan sebuah koper besar. Dia menghampiri Ibunya yang sedang menunggunya. Tapi langkah mereka dihentikan oleh Dante. Pria itu baru tiba di rumah dan terkejut ketika melihat ibu dan adiknya hendak pergi dari rumah yang sudah mereka tempati selama ini.


"Mama, Vera. Kalian berdua mau ke mana?" Dante menata Vera dan Ibunya bergantian. "Dan untuk apa koper-koper itu?" Dante menatap mereka berdua penasaran.


"Kakak, aku dan Mama sudah memutuskan untuk pergi dari rumah ini. Mama dan Papa sepakat untuk bercerai dan Mama sudah tidak bisa tinggal disini lagi. Dan aku memutuskan untuk ikut pergi bersama, Mama." Jelas Vera.


Dante menggelengkan kepala. "Tidak, pokoknya kalian berdua tidak boleh pergi dari sini. Masalah ini bisa kita bicarakan baik-baik. Lagipula Mama dan Papa sudah bersama selama puluhan tahun, lalu kenapa ingin berpisah begitu saja? Sebaiknya sekarang kalian berdua kembali ke dalam. Karena aku tidak mengijinkan kalian berdua untuk pergi!!" ucap Dante menegaskan.


"Tapi aku mengijinkan!!" sahut seseorang dari arah belakang. Ketiganya kemudian menoleh dan mendapati Keanu yang sedang menuruni tangga menghampiri mereka bertiga. "Yang memiliki kuasa di rumah ini adalah aku. Dan yang memiliki wewenang untuk membiarkan atau melarang seseorang untuk tinggal disini juga aku. Jadi, jika mereka berdua memang ingin pergi biarkan saja pergi, tidak perlu dihalang-halangi!!"tutur Keanu menambahkan.

__ADS_1


"Keanu, kau~!!"


"Jika kau tidak suka dan tidak ingin berpisah dengan mereka berdua, kau boleh ikut pergi dan angkat kaki dari rumah ini. Beres bukan," Keanu menyeringai.


Sejak awal Keanu tidak suka dengan keberadaan mereka bertiga di rumahnya. Tapi yang memutuskan adalah mendiang Kakeknya, dan setelah dia tiada. Delon dan keluarganya justru ingin menguasai harta yang memang sejak awal sudah menjadi milik Keanu. Dan tentu saja Keanu tidak membiarkannya.


Dengan emosi yang telah sampai ubun-ubun, Dante menghampiri Keanu dan hendak melayangkan sebuah pukulan ke wajahnya. Namun belum sampai tangan itu menyentuh wajah Keanu. Sebutir kelereng mendarat mulus di keningnya. "Ahhhh." Dan membuat dia berteriak kesakitan.


Keanu dan Dante sama-sama menoleh ke belakang. Terlihat Aster yang sedang tersenyum lebar sambil mengayunkan sebuah ketapel. Dan ternyata yang melempar kelereng itu adalah Aster. "Betina, apa yang kau lakukan?!" geram Dante sambil mengusap keningnya yang memerah dan sedikit benjol karena ulah Aster.


"Melindungi suamiku. Dan sebelum kau berani menindasnya, masih ada aku yang harus kau hadapi. Dan asal kau tau saja, aku ini adalah penembak ketapel yang sangat handal. Jadi sebelum menindasnya, pikir-pikir dulu," ujar Aster menuturkan.


Dante semakin marah. Dia hendak menghampiri Aster namun sebuah kelereng kembali mendarat di keningnya. Membuat dia sedikit terhuyung kebelakang. "Jika kau tidak ingin kepalamu aku pecahkan dengan kelereng-kelereng ini, sebaiknya berhenti dan jangan berani-berani untuk maju lagi." Tegas Aster.


Dante berjalan mundur. Dia menunjuk Aster dan Keanu bergantian. "Awas saja kalian berdua. Aku pasti akan membalas kalian berdua, ingat itu." Kemudian Dante meninggalkan mereka begitu saja.


Aster menghampiri Keanu sambil tersenyum lebar. Sedangkan Keanu hanya memasang muka datar. Dia tidak menunjukkan ekspresi sama sekali.


"Kau berhutang terimakasih padaku. Tapi kau tidak perlu mengucapkannya. Anggap saja aku sedang membalas Budi padamu. Oya, hari ini aku akan pergi sebentar. Aku ingin menjenguk Papa di rumah sakit." Ucapnya dan berlalu.


Keanu hanya diam sambil menatap kepergian wanita itu dengan tatapan tak terbaca. Ada getaran aneh yang dia rasakan ketika melihat senyum wanita itu.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2