
Dalam sebuah pernikahan kontrak. Pasti ada pihak yang dirugikan, entah itu dari pihak pria ataupun wanita, dan kebanyakan adalah pihak wanita yang paling dirugikan dalam pernikahan kontrak. Terutama jika pernikahan itu terjadi demi seorang keturunan.
Meskipun mendapatkan imbalan, dan juga kemewahan yang bisa di dapatkan tanpa perlu bekerja keras. Tetapi tetap saja tidak sebanding dengan pengorbanannya, karena dia harus melahirkan seorang anak yang taruhannya adalah nyawanya sendiri.
Dan sebanyak apapun uang yang bisa di dapatkan sebagai imbalan, maupun kemewahan selama kontrak nikah itu berlangsung, tetapi tetap saja itu tak lebih mahal dari sebuah nyawa.
Lebih menyakitkan lagi, pasti pihak wanita yang sering kali dipersalahkan dan sering disebut sebagai orang tak tau diri karena sikapnya yang suka seenaknya, padahal pihak laki-laki sudah banyak membantunya dalam permasalahan di keluarganya. Namun mereka tak berpikir dengan posisi si wanita, karena mereka tak berada di posisinya.
Dan itu pula yang dialami oleh Aster. Meskipun banyak komentar pedas maupun penilaian-penilaian orang padanya, tetapi Aster tidak peduli. Karena dia yang menjalani, yang merasakannya, bukan orang lain. Terserah bagaimana mereka akan menilai dirinya, Aster sama sekali tidak peduli.
"Aster, ada apa, Nak? Papa perhatikan kau melamun terus dari tadi. Apa kau sedang ada masalah?" tanya Tuan Jovan memastikan.
Aster menggeleng. "Tidak ada," dia menjawab singkat.
"Jika tidak ada, lalu kenapa kau melamun terus dari tadi? Apa kau dan Keanu sedang ada masalah, atau mungkin kalian berdua sedang bertengkar? Jangan dipendam, ceritakan saja pada Papa, mungkin Papa bisa memberikan solusi," Tuan Jovan mencoba membujuk putrinya supaya Aster mau bercerita dan mau memberitahu tentang masalahnya.
Lagi-lagi Aster menggelengkan kepala. "Sungguh, Pa. Tidak ada masalah apa-apa. Aku melamun karena memikirkan bagaimana persalinanku nanti. Jujur saja aku sangat takut, apakah Tuhan masih memberi umur panjang padaku atau tidak. Dan saat ini mentalku benar-benar sedang tidak baik-baik saja," Tutur Aster.
Tuan Jovan seketika terdiam setelah mendengar apa yang Aster katakan. Rasa takut tak hanya dirasakan oleh Aster saja, tetapi dirinya juga. Tuan Jovan masih sangat trauma dengan apa yang pernah menimpa mendiang istrinya dulu ketika melahirkan Aster.
Dia sempat koma selama beberapa hari, dan tepat di hari ketujuh, Dokter mengatakan jika dia tidak mampu bertahan. Membuat hati Tuan Jovan hancur berkeping-keping, karena dia berpikir benar-benar telah kehilangan istrinya.
Tetapi ternyata Tuhan masih menyayangi si kecil, dengan mengembalikan sang ibu ke pelukannya, meskipun pada akhirnya dia tetap kehilangan istrinya karena penyakit yang dideritanya.
"Apa begitu terlihat, Pa? Sepertinya aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darimu. Akhir-akhir ini banyak sekali hal yang menggangguku, buatku tidak bisa makan dengan tenang maupun tidur dengan nyenyak. Hal ini benar-benar menggangguku, Pa." ujar Aster dengan tatapan kosong dan hampa.
__ADS_1
"Sepertinya itu adalah masalah pribadimu dengan suamimu, dan jika kau tidak ingin bercerita pada Papa, tidak masalah, Karena tidak semua masalah harus diberitahukan apalagi diceritakan pada orang lain, termasuk orang tuamu sendiri. Ini sudah larut malam, sebaiknya cepat pergi tidur. Papa, juga sudah mengantuk dan ingin segera tidur." ujar Tuan Jovan. Tuan Jovan menepuk kepala Aster dan meninggalkannya begitu saja.
.
.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan sebuah mansion mewah yang memiliki tiga lantai. Seorang pria keluar dari mobil tersebut. Lalu pandangannya tertuju pada sebuah kamar yang tampak gelap.
Pria itu memicingkan matanya, tidak biasanya Aster tidak menyalakan lampu di kamar mereka. Mungkin saja dia lupa, atau memang Aster ingin tidur tanpa penerangan di kamarnya. Tak ingin berpikir yang macam-macam, kemudian Keanu masuk ke dalam dan kepulangannya di sambut oleh Bibi Lee.
"Tuan muda, Anda sudah pulang," Bibi Lee menyapa Keanu yang baru saja tiba di rumah.
Keanu mengangguk samar. "Ya, ngomong-ngomong apa Aster sudah tidur? Dari halaman depan, aku lihat kamar masih dalam keadaan gelap gulita. Tidak biasanya iya tidur tanpa menyalakan benar," ujarnya.
Alih-alih menjawab, Bibi Lee terlihat menundukkan kepalanya dan tidak berani membalas tatapan Keanu. Jari-jarinya saling meremas, dan dia Berkeringat dingin. Sepertinya Aster masih belum tak memberitahunya, jika hari ini dia tidak pulang dan menginap di rumah ayahnya.
"Sebenarnya apa? Bicara yang jelas dan jangan gelagapan!!"
"Nyonya tidak ada di rumah. Dia menginap di rumah orang tuanya, dan Nyonya juga berpesan supaya saya menyampaikannya pada Anda jika malam ini dia tidak pulang." ujar Bibi dengan kepala tertunduk ke bawah.
"Dia menginap di rumah ayahnya dan tidak memberitahuku?" Keanu mengepalkan tangannya.
"Saya sudah meminta Nyonya supaya memberitahu, Tuan Muda. Sepertinya beliau lupa, dan ada baiknya jika tuan muda menghubunginya saja," Bibi Lee memberi saran pada Keanu supaya dia menghubungi Aster.
Keanu menghela napas. "Aku akan pergi menjemputnya." Dia kemudian berbalik dan mobil milik Keanu kembali meninggalkan kediaman Xiao. Keanu akan pergi untuk menjemput wanita itu dan membawanya pulang ke rumah.
__ADS_1
.
.
Tuan Jovan tak mampu menahan keterkejutannya ketika membuka pintu rumahnya dan melihat siapa berdiri di depan pintu ruang utama.
"Tuan Muda Xiao,"
Tuan Jovan tak bisa menahan keterkejutannya ketika membuka pintu dan mendapati Keanu yang sedang berdiri di depan pintu. Dialah yang mengetuk pintu rumah Tuan Jovan tadi. "Dimana, Aster?" tanpa banyak basa-basi, dia langsung menanyakan keberadaan Aster pada paruh baya di depannya ini.
"Beliau ada di kamarnya, Tuan Muda. Saya akan memanggil dan membangunkan dia untuk Anda," ucap Tuan Jovan lalu beranjak dari hadapan Keanu, namun langkahnya dihentikan oleh pria itu.
Keanu menggeleng. "Tidak perlu, biar aku saja yang pergi," ucapnya dan pergi begitu saja.
Keanu membuka pintu kamar Aster dan menemukan wanita itu yang sedang dia termenung di balkon kamarnya. Wanita itu sedang menikmati langit malam bertabur bintang, langit malam ini memang lebih bersahabat dari malam-malam sebelumnya, apalagi dengan jutaan manik-manik langit yang bertahta diatas sana. Membuat malam ini menjadi lebih special.
Pria itu menghela nafas. Kemudian Keanu menghampiri Aster yang belum menyadari kedatangannya. "Kenapa berdiri di sana tanpa penghangat apapun? Udara malam ini sangat dingin. Masuklah , kau bisa membeku jika terlalu lama berdiri di sana!!" ucapnya.
Kedua mata Aster membelalak sempurna setelah mendengar suara yang begitu familiar masuk dan bertaut di telinganya. Dengan cepat dia menolah dan mendapati seorang pria tampan yang wajahnya sangat dia kenal berjalan kearahnya dengan muka datar tanpa ekspresi.
"Omo!! Keanu, sedang apa kau disini?!"
.
.
__ADS_1
Bersambung.