
"Omo!! Jangan-jangan dia cemburu?!"
Celine tidak bisa mengenyangkan kata-kata itu dari kepalanya. Ucapan Mark begitu mengganggunya. Kevin, cemburu? Rasanya tidak mungkin, Celine benar-benar tidak yakin. Mana mungkin dia cemburu padanya, rasanya sangat mustahil.
Celine menggigit ujung kukunya sambil terus mondar-mandir di kamarnya. "Gege, cemburu padaku? Rasanya tidak mungkin, mana mungkin kulkas dua pintu sepertinya bisa cemburu padaku. Hahaha, yang benar saja. Tidak mungkin, benar-benar tidak mungkin." Celine bicara pada dirinya sendiri. Dia sangat yakin, teramat-amat sangat yakin jika Ken tidak mungkin cemburu padanya.
Malam sudah semakin larut, namun Celine masih tetap terjaga. Dia begitu sulit untuk menutup matanya dan pergi tidur, alasannya hanya satu, yakni kata-kata Mark tadi. Dia benar-benar tidak bisa mengingatkan kata-kata itu dari kepala dan ingatannya.
"Astaga, sebenarnya ada apa denganku ini? Kenapa aku terus kepikiran ucapan Mark tadi? Celine fokus, kau harus cepat tidur!!" Celine mencoba untuk mengsugesti dirinya sendiri supaya cepat tidur. Padahal ini sudah larut malam, tetapi Celine belum bisa juga untuk tidur.
Gadis itu menghela napas. Celine bangkit dari tempat tidurnya lalu melenggang keluar menuju balkon kamarnya.
"Aku tidak mau mendengar alasan apapun, dalam waktu dua kali 24 jam kalian harus menemukannya, atau kalian yang akan menanggung akibatnya?!"
Baru juga menginjakkan kakinya di lantai balkon. Celine langsung di sambut dengan suara dingin penuh emosi seseorang yang berdiri memunggunginya. Hanya punggung yang tersembunyi di balik singlet putih itu yang tertangkap oleh matanya. Tanpa orang itu menoleh sekalipun, tentu saja Celine sudah mengetahui siapa dia.
__ADS_1
"Ge," Celine memanggil orang itu yang pastinya adalah Ken.
Ken menoleh lalu menghampiri Celine yang tampak gugup melihatnya berjalan semakin mendekat. "Kau belum tidur?" tanya Ken yang hanya di balas gelengan olehnya. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Tatapanmu seperti sedang melihat hantu saja, kau baik-baik saja?" tanya Kevin memastikan.
"Me..Memangnya aku kenapa? Tentu saja aku baik-baik saja," jawab Celine terbata-bata. "Tiba-tiba aku mengantuk, Ge... Aku masuk dulu m," Celine hendak beranjak dari balkon kamarnya namun di larang oleh Kevin.
"Temani aku sebentar," gadis itu berhenti lalu berbalik badan. Celine menatap Ken yang sedang menatap langit malam bertabur bintang. "Kau tidak bisa tidur bukan? Aku juga sama, jadi temani aku di sini sebentar." Lantas Celine berbalik badan, posisi mereka saling berhadapan, mata berbeda warna milik mereka saling menatap selama beberapa saat.
Celine mengakhiri kontak mata itu. "Ge, kira-kira orang tua kandungku orang yang seperti apa, ya?" sebuah pertanyaan keluar begitu saja dari bibir Celine dan mengakhiri keheningan sesaat diantara mereka berdua.
"Tentu saja tidak. Aku tumbuh dan hidup baik di keluarga ini, jadi mana mungkin aku pergi begitu saja dan kembali pada orang tua yang sejak kecil tidak pernah mengakui dan menginginkanku. Aku hanya sekedar penasaran saja, tidak lebih." Ucapnya.
Ken mengalihkan pandangannya pada langit malam. Kepalanya mendongak menatap langit gelap di atas sana. "Aku pikir kau ingin kembali pada mereka dan meninggalkan kami. Karena jika kau berani melakukannya, maka dengan tanganku sendiri aku akan mematahkan kakimu supaya kau tidak bisa pergi ke mana pun!!" ujar Ken.
Sontak Celine menoleh dan menatap Ken dengan bingung. "Kau akan melakukan itu? Kenapa?" Celine menatap Ken dengan bingung.
__ADS_1
Ken menggeleng. Dia tidak memberikan jawaban apa-apa pada Celine. Keheningan kembali mewarnai kebersamaan mereka berdua.
Tidak ada obrolan ataupun perbincangan di antara mereka berdua. Ken dan Celine sama-sama diam dalam keheningan. Sesekali Ken menatap gadis yang akhir-akhir ini selalu mengganggu pikirannya. Dan tidak bisa Ken pungkiri jika dia adalah gadis paling cantik yang pernah ia temui dalam hidupnya setelah sang ibu pastinya.
"Ge, aku rindu Mama Papa, kira-kira kapan mereka pulang , ya?" tanya Celine. Gadis itu menatap Ken dengan serius, berharap mendapatkan jawaban pasti dari sang kakak.
Ken menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu karena mereka tidak mengatakan apapun padaku," jawab Ken.
Celine menghela napas. "Ge, aku ke kamar duluan , ya. Mataku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Aku ngantuk" Ucap Celine lalu beranjak dari tempatnya.
"Celine, apa hubunganmu dengan laki-laki itu? Kenapa kalian begitu dekat? Apa kalian memiliki hubungan spesial?"
xxx
Bersambung
__ADS_1