
"Dokter, jantung pasien berhenti berdetak."
Seorang perawat berseru panik saat tiba-tiba jantung Aster berhenti berdetak. Dokter itu pun segara mengambil tindakan, para tim medis pasti akan berusaha semampu mereka untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka memang bukan Tuhan, tapi dengan tangan ajaibnya, mereka yakin mampu membuat keajaiban.
Lima menit, sepuluh menit, masih belum ada hasil. Jantung Aster masih tetap tidak mau berdetak hingga akhirnya dokter dan beberapa perawat yang membantunya pun angkat tangan, mereka menyerah, dan Aster pun dinyatakan meninggal.
"Dokter, segera tentukan waktu kematian pasien." Pinta salah seorang perawat yang berdiri diseberang dokter tersebut.
Dokter itu menggulirkan pandangannya pada jam yang menggantung di dinding. "Waktu kematian pasien pukul 22.38." ucap Dokter itu dengan lemah.
Aster sudah melewati masa kritisnya, operasinya juga berjalan lancar. Tiba-tiba dia mengalami henti jantung setelah terjadi pendarahan parah, dokter dan para perawat pun sempat panik karena pendarahan yang terjadi tiba-tiba, lagi-lagi mereka berhasil mengatasinya.
Namun Tuhan berkata lain. Belum ada sepuluh menit dia melewati masa kritisnya, tapi tiba-tiba jantungnya malah berhenti berdetak. Hal itu membuat dokter dan perawat menjadi panik, meskipun mereka telah mengusahakannya, tapi nyawa Aster tetap tidak tertolong.
Kemudian Dokter pergi keluar untuk menyampaikan kabar duka ini pada Keanu yang sudah menunggu diluar sedari tadi.
.
.
Cklekk...
__ADS_1
Perhatikan Keanu sepenuhnya teralihkan. Pria itu mengangkat kepalanya mula tertunduk dan mendapati dokter keluar dari ruangan tersebut, perasaan Keanu menjadi tidak tenang melihat wajah lesu dokter tersebut.
"Bagaimana keadaannya, dok? Dia baik-baik saja bukan?" tanya Keanu memastikan.
Dokter itu menutup matanya dan menghela nafas panjang. "Maaf, Tuan. Kami telah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Tuhan berkehendak lain. Dan nyawa istri Anda tidak bisa terselamatkan, dia sudah tidak ada," ucap dokter itu dan membuat mata Keanu membelalak saking kagetnya.
"Maksud dokter?" Keanu menatap dokter itu penasaran.
"Istri Anda, tidak selamat."
DEGG..
Pertahanan Keanu hampir saja runtuh mendengar apa yang baru saja disampikan oleh dokter di depannya itu. Aster tidak selamat, artinya dia meninggal? Keanu menggelengkan kepala, mencoba untuk tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar.
"PAPA, cukup!!" seru Keanu. Dia menoleh dan menatap ayah mertuanya tersebut dengan sendu."Dia sudah tidak ada, Pa." lirihnya berbisik.
Seperti Tuan Jovan, Keanu pun tidak ingin mempercayai apa yang dia dengar. Tapi Dokter bukanlah Tuhan, mereka sudah berusaha dan Tuban berkehendak lain, lalu apa yang bisa dia lakukan? Menentang takdir dan menyalahkan Tuhan? Rasanya itu sama sekali tidak mungkin.
"Keanu, istrimu meninggal, kenapa kau bisa begitu santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa? Mereka yang sudah membunuhnya, mereka yang menyebabkan Aster tiada," ujar Tuan Jovan sambil menunjuk dokter yang hanya menundukkan kepala.
Keanu menggeleng. "Ini bukan salah mereka, Pa. Kematian Aster tidak ada hubungannya dengan mereka, karena mereka sudah bekerja keras untuk menyelamatkan nyawanya. Mereka bukanlah Tuhan kamu bisa menentukan hidup dan mati seseorang, lagi pula mereka sudah berusaha semaksimal mungkin, meskipun pada akhirnya harus mendapatkan hasil yang menyakitkan." Ujarnya Keanu dengan suara rendah. Nadanya menyiratkan kesedihan yang begitu dalam.
__ADS_1
Tuan Jovan pun seketika terdiam setelah mendengar apa yang Keanu katakan. Keanu benar, memang tidak seharusnya dia menyalahkan dokter, karena dia tidak bersalah. Dia pun segera meminta maaf dan menyesali sikapnya. Keanu bersama bayinya masuk ke dalam ruang operasi untuk bertemu dan melihat Aster.
Meskipun mustahil. Namun dia berharap akan ada keajaiban yang membuat istrinya bangun dari kematiannya. Ya, Keanu masih belum rela jika harus kehilangan dia, dia belum siap untuk kehilangan Aster selama-lamanya
.
.
Keanu melangkahkan kakinya yang terasa berat memasuki ruang operasi, tubuh dan kakinya sedikit tidak sinkron. Tubuhnya sedikit menggigil ketika kakinya mulai memasuki ruangan tersebut. Matanya membulat dan bibirnya sedikit terbuka melihat Aster yang terbaring tak bernyawa.
Keanu menghentikan langkahnya, pandangannya bergulir pada bayi yang berada di dalam pelukannya, hatinya terasa pilu ketika melihat wajah bayi tidak berdosa itu.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya kelak jika tumbuh tanpa Aster disisinya, dan mungkin dia akan merasakan kesedihan yang mendalam saat mengetahui jika ibunya Tiada pasca melahirkan dirinya.
Tiba-tiba bayi itu menangis dengan keras, seolah merasakan kesedihan yang begitu dalam. Kemudian Keanu membawanya mendekati Aster lalu membaringkan bayi itu di samping jasadnya.
"Aster, lihatlah anak kita, dia sangat tampan, mata dan bibirnya persis seperti milikmu. Dia memiliki kulit yang putih dan rambut yang lebat, apa kau tidak ingin melihatnya? Apa kau tidak mendengarnya? Dia menangis memanggilmu, Aster... Aku mohon bangunlah..."
.
.
__ADS_1
Bersambung