
Ken memandangi Celine yang sedang tertidur pulas. Dia terlihat polos saat sedang tertidur. Hal itu membuat Ken ingin sekali mengecup dahi gadis itu.
Ken mendekatkan wajahnya ke kening Celine, namun gerakannya terhenti. Kemudian dia mengangkat kepalanya. Apa yang ia pikirkan? Ken menggeleng, dia berjalan keluar dari kamar Celine begitu saja, tanpa ia sadari pipinya sedari tadi merona merah.
"Sial, apa-apaan itu tadi?" ucap Ken setengah bergumam.
Dia benar-benar menyesali apa yang baru saja terjadi. Bisa-bisanya Ken memiliki pemikiran konyol seperti itu.
xxx
Celine menguap sembari meregangkan badannya. Pandangannya bergulir pada jam yang menggantung di dinding dan waktu baru menunjuk angka 06.30 pagi. Hari ini adalah hari Minggu, ia memiliki waktu seharian penuh di rumah, sekaligus bersama sang Kakak tercinta.
Celine terheran saat melihat kamarnya kosong. Seingatnya tadi malam Ken menemaninya. Ah, sudahlah! Mungkin dia sudah bangun lebih awal.
Gadis itu segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan keringat di tubuhnya. Setelah mandi dan berganti pakaian, dia berjalan keluar kamarnya. Saat diluar, hidung Celine mencium aroma masakan yang begitu wangi. Seketika nafsu makannya melonjak, ia turun dan mendapati Ken yang sedang membaca koran sambil menikmati secangkir kopi pahit kesukaannya.
Sudut bibir Celine tertarik ke atas. "Pagi, Ge." sapa Celine saat ia sudah sampai di ruang keluarga. Rambutnya di ikat seadanya semakin menambah kesan manis terhadap gadis itu.
"Pagi," Ken menjawab singkat tanpa menatap sedikit pun lawan bicaranya. Fokusnya masih tertuju pada koran di tangannya.
Melihat Ken yang begitu serius membuat Celine penasaran dengan berita yang sedang dia baca. "Memangnya ada berita menarik apa, sampai-sampai kau begitu serius?" tanya Celine.
Ken menggeleng. "Tidak ada, hanya melihat indeks saham Minggu ini." Jawab Ken tanpa menatap lawan bicaranya.
__ADS_1
Celine mengambil tempat di samping Ken dan ikut melihat apa yang dia lihat. Jarak diantara mereka yang begitu dekat membuat darah di tubuh Ken berdesir pelan. Lelaki itu menoleh, dan dua pasang mata berbeda warna itu saling bertemu dan mengunci.
Ken buru-buru mengakhiri kontak mata itu lalu bangkit dari duduknya. "Aku siap-siap ke kantor dulu." Ucapnya dan pergi begitu saja. Celine memiringkan kepalanya dan menatap Ken penuh tanya. Kantor? Apa dia tidak salah dengar? Ini kan hari Minggu, sudah pasti Kantor libur.
"Ge, tapi ini hari Minggu." Ucap Celine dan menghentikan langkah Ken.
"Memangnya kenapa kalau ini hari Minggu? Aku ada urusan di kantor," ucapnya dan pergi begitu saja. Kepalang malu, jadi sekalian membuat alasan. Ken merutuki kebodohannya, bagaimana bisa dia membuat alasan akan bersiap-siap ke kantor untuk menghindari Celine.
Ken mendadak gugup ketika melakukan kontak mata dengan Celine dalam jarak yang begitu dekat. Jadi cara ampuh untuk menyembunyikan kegugupannya adalah menghindarinya. Sementara itu, Celine hanya bisa melongo dan menatap Ken dengan bingung saat melihat tingkah anehnya.
"Sebenarnya ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba bersikap aneh dan mendadak pikun begitu?" ucap Celine kebingungan.
Gadis itu mengangkat bahunya dengan acuh. Dia tidak mau ambil pusing dengan sikap kakak angkatnya. Lebih baik pergi ke meja makan untuk menyantap sarapannya. Dan Celine tidak yakin Ken akan ikut sarapan bersamanya.
xxx
"Hn," bukan sebuah jawaban yang dia dapatkan, melainkan hanya sebuah gumaman.
"Ge, apa kau bertengkar dengan calon istrimu itu? Kalau kau memang tidak cinta, kenapa tidak kau putuskan saja?" ucap laki-laki tampan dengan eyeliner yang menjadi ciri khasnya.
"Aku dan Regita sudah putus hubungan. Aku memutuskan dia dan mengakhiri hubunganku dengannya," jawab Ken sambil mendaratkan pantatnya di samping Suho.
Membuat tiga pria itu menatapnya tak percaya. "What?! Kau dan dia sudah putus? Bagaimana bisa, bukankah selama ini hubungan kalian baik-baik saja?" tanya Chan memastikan.
__ADS_1
Ken menghela napas. "Jangan Pura-Pura buta dan tidak tahu apa-apa, bukankah kalian tahu bagaimana hubungan kami yang sebenarnya!!" sahut Ken menimpali. Mereka tahu bagaimana hubungan Ken dan Regita yang sebenarnya, dan mereka tahu jika Ken memang tidak pernah mencintainya.
Hubungan Ken dan Regita terjadi bukan atas dasar cinta, melainkan kasihan. Ken yang merasa kasihan karena Regita yang terus mengejarnya, akhirnya menerima perasaannya meskipun dengan terpaksa. Karena Ken tidak memiliki sedikit pun perasaan pada wanita itu.
"Ngomong-ngomong bagaimana kabar adikmu, Ken? Dia baik-baik saja bukan? Dia semakin cantik saja , bagaimana kalau kau jodohkan aku dengannya?" ucap Suho dan membuat perhatian Ken teralihkan padanya. Ken menatapnya dengan tajam.
"Jangan coba-coba untuk mendekatinya atau aku akan menggantung mu hidup-hidup!!" Ken memberikan ancamannya.
"Kenapa? Kau jangan keterlaluan, lagipula bukankah kita bisa menjadi saudara setelah aku menikahinya. Kau tenang saja, aku akan membahagiakannya dan menjamin hidupnya. Jadi kau tidak perlu mencemaskan tentang kebahagiaannya. Bagaimana? Kau setuju bukan?" Dengan terang-terangan Suho melamar Celine pada Ken. Dan Ken langsung menolaknya dengan tegas. Bagaimana mungkin Ken memberikan adiknya pada pria hidung belang seperti Suho.
Tawa Suho meledak seketika setelah mendengar penolakan Ken. "Hahaha... Kenapa kau menganggapnya serius, huh? Padahal aku hanya bercanda. Kau tenang saja, aku masih waras kok. Lagipula aku sudah menganggap Celine seperti adikku sendiri." Ujar Suho.
"Ck," Ken mendecih dan menatap Suho dengan sebal.
Chan tiba-tiba terdiam. "Ken, bukankah kau dan Celine tidak memiliki hubungan darah, kenapa dia tidak kau nikahi sendiri saja? Bukankah dengan begitu kalian tidak akan kehilangannya, karena setelah menikah dan berumah tangga pasti dia akan meninggalkan keluarga Xiao kalian. Apalagi Bibi dan Paman sangat-sangat menyayanginya," ujar Chan panjang lebar.
Ken tidak memberikan jawaban apa-apa. Dia memilih diam tanpa mengatakan apapun, karena Ken sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Bukannya sangat konyol jika dia menikahi Celine, sementara mereka berdua adalah kakak adik meski bukan saudara kandung.
"Konyol, bagaimana mungkin aku menikahi adikku sendiri. Jangan memberikan ide tak masuk akal seperti itu. Sudahlah, aku masih ada urusan, aku pergi dulu." Ken meninggalkan beberapa lembar won untuk membayar pesanannya dan pergi begitu saja.
Dia tidak berniat pulang. Ken berniat pergi ke suatu tempat untuk bersantai dan menikmati hari liburnya ini. Dan dia berencana pulang saat malam menjelang supaya Celine tidak menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.
xxx
__ADS_1
Bersambung