Benih Titipan Tuan Muda

Benih Titipan Tuan Muda
Kau Orang Pertama


__ADS_3

Langkah kaki Keanu terhenti ketika ia baru tiba di ruangannya dan mendapati Aster yang sedang tertidur pulas di sofa.


Direktur tampan itu melepas jasnya lalu menyelimuti Aster dengan jas miliknya. Menyisakan kemeja putih dan Vest V-Neck hitam.


Keanu melonggarkan dasinya lalu duduk disebelah Aster yang sedang tertidur. Menoleh dan memperhatikan perempuan itu yang sedang tertidur pulas. Aster terlihat polos seperti anak kecil. Tanpa sadar Keanu menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis.


"Kau tau, kau adalah orang pertama dan satu-satunya yang berani menyebutku bodoh. Dan anehnya aku tidak bisa marah meskipun berkali-kali mendengarnya." Ucap Keanu sambil membelai pipi Aster. Dia melakukannya dengan perlahan supaya yang dia lakukan tidak mengusik tidurnya.


Benar sekali yang Keanu katakan. Jika Aster adalah orang pertama dan satu-satunya yang berani menyebutnya bodoh dan berbicara dengan nada tinggi padanya. Tapi anehnya Keanu tidak pernah marah apalagi tersinggung mendengar kata-kata kasar yang Aster tujukan padanya.


"Mama, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Mama, aku merindukanmu."


Keanu menghapus lelehan bening yang mengalir dari pelupuk mata perempuan itu. Aster mengigau, memanggil ibunya dan mengatakan jika dia sangatlah merindukannya. Tapi detik berikutnya dia kembali tertidur pula seperti tadi.


Tak ingin mengganggu tidur Perempuan itu, kemudian Keanu beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju meja kerjanya.


Dia akan menunggu sampai Aster bangun dengan sendirinya untuk makan siang. Keanu tidak tega jika harus membangunkannya.


"Direktur,"


"Stt, kecilkan suaramu. Dia sedang tidur," ucap Keanu dengan suara rendah.


lalu pandangan laki-laki itu bergulir pada sosok jelita yang sedang terlelap di sofa. Buru-buru dia meminta maaf pada Keanu karena benar-benar tidak tau. Kemudian dia menghampiri Keanu lalu menyerahkan sebuah dokumen padanya.


"Ini adalah data-data yang Anda minta, Direktur. Benar dugaan Anda, jika ada penggelapan dana di perusahaan. Ada sejumlah uang yang masuk ke rekening pribadi milik orang dalam. Dan dari hasil menyelidikan saya uang-uang itu masuk ke rekening, Tuan Delon. Tercatat ini adalah tahun ketiga, dan sekitar 100 milyar won masuk ke rekeningnya!!" terang laki-laki yang berdiri di depan meja Keanu.


Keanu menutup dokumen itu lalu meletakkannya di atas meja. "Jadi benar-benar dia biang keroknya. Tapi tanpa bantuan orang-orang dari bagian keuangan, dia tidak akan bisa bertindak sampai sejauh itu. Baiklah, sepertinya tikus-tikus itu sudah saatnya di beri pelajaran. Pecat semua yang bekerja di bagian keuangan, dan ganti dengan orang-orang mu yang lebih bisa dipercaya!!" perintah Keanu dan dibalas anggukan oleh pria itu.


"Baik, Direktur."

__ADS_1


Keanu benar-benar lengah sampai dia bisa kecolongan. Delon dan antek-anteknya bermain secara halus dan mulus, jadi kebusukannya tak tercium sama sekali. Terlebih lagi mereka bermain secara cerdik, yakni meraup uang-uang itu secara bertahap.


Dan masalah Delon, Keanu sendiri yang akan menindaknya. Dia akan memberikan pelajaran padanya dengan menggulingkan posisinya saat ini sebagai manager di bagian pemasaran. Dan posisi itu akan dia serahkan pada yang lebih layak dan lebih pantas.


"Uhhh,"


Lengkungan itu menyita perhatian Keanu. Kemudian Keanu menoleh dan mendapati Aster yang baru saja bangun, dia sedang mengumpulkan nyawanya. "Kau sudah bangun," tegur Keanu dan langsung menyadarkan Aster yang masih mengumpulkan nyawa.


"Kau sudah kembali. Ngomong-ngomong berapa lama aku tertidur?" tanya perempuan itu seraya menyingkirkan jas Keanu dari tubuhnya.


Keanu mengangkat bahunya. "Aku sendiri tidak tahu, karena saat kembali kesini aku menemukanmu sedang tertidur pulas." jawabnya. "Aku sudah lapar, mana makan siang yang kau bawa dari rumah?" kemudian Keanu bangkit dari kursinya dan menghampiri Aster. Mereka berdua sudah melewatkan waktu makan siangnya lebih dari sepuluh menit.


"Tunggu sebentar."


Setelah Aster menyusunnya di atas meja. Selanjutnya mereka berdua menyantap makan siangnya dengan tenang. Tak ada lagi perbincangan apalagi perdebatan diantara mereka berdua. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan.


.


.


Sebelum pergi ke salon untuk bersantai. Tempat pertama yang menjadi tujuan mereka adalah toko pakaian, tas dan sepatu. Di toko langganan mereka berdua, barang-barangnya sangat lengkap dan semua dari brand ternama dunia. Dan mereka berdua adalah tamu VIP di toko tersebut.


"Nyonya, ini adalah tas dan sepatu koleksi terbaru toko kami. Dan barang-barang ini, baru datang hari ini." ucap salah seorang pelayan toko yang melayani mereka berdua.


"Baiklah kalau begitu, aku mau semuanya dan langsung dibungkus saja." ucap wanita paruh baya itu lalu menyerahkan sebuah Platinum Card pada pelayan toko tersebut.


"Baik, Nyonya. Akan segera kami proses pembayarannya." Ucapnya lalu beranjak dari hadapan Vera dan ibunya. Beberapa saat wanita itu kembali pada pasangan ibu dan anak tersebut. "Maaf Nyonya, tapi kartu ini tidak bisa digunakan. Sepertinya kartu ini sudah dibekukan!!"


Sontak kedua mata Vera ibunya membulat sempurna. "Apa!! Dibekukan, bagaimana bisa?! Kau pasti salah coba sekali lagi," pinta ibu dua anak itu pada pelayan toko.

__ADS_1


Pelayan itu menggelengkan kepalanya. "Maaf, Nyonya. Benar-benar tidak bisa, saya sudah mencobanya beberapa kali dan hasilnya selalu sama. Kartunya tidak bisa digunakan, mungkin kalian berdua ada kartu lain atau mungkin ada uang cash."


Kemudian Vera mengeluarkan card dari dompetnya. "Coba kartu ini,"


Lagi-lagi pelayan itu menggelengkan kepalanya. "Maaf, Nona. Tapi kartu ini juga tidak bisa, Nona."


Mereka berdua pun menjadi sangat panik. Kemudian Vera meminta ibunya untuk segera menghubungi ayah atau kakaknya. Mereka berdua bisa malu jika keluar dari toko tanpa membeli apapun, apalagi dengan sombongnya mereka meminta pelayan toko untuk membungkus semua tas sepatu yang ditunjukkan.


"Jika mereka tidak bisa membayarnya, tas dan sepatu itu berikan saja padaku." Ucap seseorang dari arah belakang. Seorang wanita menghampiri mereka bertiga. "Ini, aku bayar cash. Dan mulai sekarang, tas serta sepatu-sepatu itu jadi milikku."


Vera menggeleng. "Tidak bisa!! Aku dan ibuku yang lebih dulu datang, jadi tas dan sepatu ini adalah milik kami!!" ucapnya menegaskan.


"Meskipun kalian datang sejak matahari belum terbit sekalipun, jika tidak bisa membayarnya itu percuma saja. Bungkus semua tas dan sepatu-sepatu ini untukku." pinta wanita itu pada pelayan toko.


Dan pelayan toko itu pun mengangguk. "Baik, Nona. Mari, saya akan memprosesnya."


"Tidak bisa!! pelayanan macam apa ini?! bisa-bisanya Kau memberikan tas dan sepatu-sepatu itu padanya, antara kami berdua yang lebih dulu datang kemari dan menginginkannya!" Vera tidak terima.


Pelayan itu pun menatap Vera dengan sinis dan datar. "Tapi mereka yang memiliki uang-lah yang berhak mendapatkannya. Jadi kalian berdua silahkan keluar!!" pinta pelayan itu tanpa rasa sopan sedikit pun.


"Yak!! Apa-apaan ini , awas saja kau. Aku akan melaporkanmu pada atasanmu supaya kau dipecat. Vera, ayo pergi."


"Iya, Ma."


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2