Benih Titipan Tuan Muda

Benih Titipan Tuan Muda
Season 2: Jatuh Dari Tanggaa


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu. Tidak terasa dua Minggu sudah Keanu dan Aster meninggalkan Ken dan Celine. Dan selama dua Minggu belakangan ini hubungan mereka menjadi sangat dekat. Sikap Ken pada Celine pun perlahan berubah, dia tidak lagi sedingin sebelumnya. Dan tentu saja hal itu membuat Celine bahagia bukan kepalang.


Jam dinding baru menunjuk angka 06.00 pagi. Namun kegaduhan sudah terjadi di kediaman Xiao, suara 'Krompyang- Krompyang' yang berasal dari dapur membuat Ken yang masih tertidur pulas harus terbangun dengan paksa. Masih sambil menahan kantuknya, dia melenggang keluar meninggalkan kamarnya untuk melihat apa yang terjadi.


"Celine, apa-apaan kau ini?! Apakah berniat menghancurkan dapur?!" pertanyaan itu mengalihkan perhatiannya sontak Celine menoleh dan mendapati Ken berjalan menghampirinya.


"Ge," gadis itu berseru keras. "Kenapa? Apa aku membangunkan mu? Maaf, karena tidak sengaja melakukannya," ucapnya.


"Sedang apa kau sebenarnya? Ini masih pagi, tapi kenapa kau malah membuat keributan? Kau cari mati, ya?" Ken menatap Celine dengan kesal.


Alih-alih merasa bersalah dan meminta maaf padanya. Celine malah tersenyum tiga jari, rasa bersalah sedikitpun meskipun sudah menciptakan keributan dan kegaduhan di pagi buta seperti ini.


"Sebaiknya tinggalkan dapur dan kau tidak perlu melakukan apapun, biar mereka saja yang menyiapkan sarapan , karena mereka lebih terpercaya di bandingkan dirimu!!" ucapnya dan pergi begitu saja.


Celine memanyunkan bibirnya. Padahal yang dia lakukan itu untuk Kevin, tapi dia malah mengomelinya, bukannya itu sangat menyebalkan?!


"Ge, kau benar-benar tidak punya hati. Padahal aku melakukannya untukmu, tapi kau malah mengomeli ku. Jika sikapmu seperti ini terus, aku akan mendapatkan istri?!" ujar Celine sambil berjalan mengekor di belakang Ken.


Ken melirik sekilas padanya. Dia mengabaikannya dan tidak peduli pada ocehannya. Celine benar-benar tidak mengerti, ketika hamil dulu kira-kira ibunya ngidam apa sampai-sampai melahirkan anak mirip kulkas berjalan seperti Ken.


"Ge, aku bicara padamu, berhentilah bersikap menyebalkan!!"

__ADS_1


Tiba-tiba Ken menghentikan langkahnya membuat Celine menubruk punggungnya dengan keras hingga tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang. Pupil matanya membelalak sempurna saat merasakan tubuhnya ambruk ke belakang. "KYYYAAA!!" Dengan refleks Ken menoleh ke belakang. Ken pun terkejut, dengan cepat dia menarik lengan Celine yang terulur ke depan.


Ken menarik Celine ke pelukannya hingga wajahnya bertubrukan dengan dada bidang Ken yang tersembunyi di balik kemeja hitamnya. Tubuh mereka terguling di tangga dengan posisi Ken melindungi Celine, tangan kanan Ken berada tepat di belakang kepala gadis itu. Memastikan dia tidak terluka.


"NONA... TUAN MUDA..." Rio berteriak histeris melihat apa yang terjadi pada mereka berdua.


Tubuh mereka berakhir berdua berakhir di lantai dengan Ken yang masih melindungi Celine. Rio dan beberapa pelayan menghampiri keduanya dengan panik. "Uhhhgg," rintih kesakitan keluar dari sela-sela bibir Ken, dia terluka di bagian keningnya. Tampak darah segar merembes keluar dari lukanya. Kening Ken berbenturan dengan sudut tiang dengan cukup keras.


"Ge.." seru Celine melihat Ken terluka. "Ge, kau terluka." gumam gadis itu dengan parau, matanya tampak berkaca-kaca.


Ken menggeleng. "Jangan cengeng!! Aku tidak apa-apa," ucapnya meyakinkan.


Celine menatapnya dengan sebal. "Tidak apa-apa bagaimana? Jelas-jelas kau itu tidak baik-baik saja, Ge... Kau terluka." Ucap Celine setengah berbisik. Ken menghela nafas, dia mengulurkan tangannya dan menghapus air mata Celine.


"Berhenti mengatakan jika kau tidak apa-apa, jelas-jelas kau tidak baik-baik saja. Ge, ayo sebaiknya kita ke kamar, aku akan mengobati lukamu." Ucap Celine memohon.


Ken menghela napas. Dia bangkit dari duduknya lalu menuruti permohonan Celine. Ken tidak ingin membuat Celine merasa bersalah. Dengan batuan Rio, kemudian Celine membawa Ken kembali ke kamarnya. Meskipun hanya luka kecil, tetapi tetap saja harus diobati supaya tidak terjadi infeksi.


.


.

__ADS_1


"Nah, selesai."


Sebuah perban tampak membebat kening Ken. Noda merah segar tampak di permukaan perban yang membebat keningnya, Ken terluka tepat di atas alis kanannya. Dan Celine tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya karena bagaimana pun juga, Ken terluka demi melindunginya.


"Ge, kenapa kau harus menghubungiku dan membiarkan dirimu sendiri terluka. Kau terluka karena aku, jika bukan karena diriku kau tidak mungkin terluka begini," tangis Celine pecah. Sekuat apapun dia menahannya , tapi tetap saja air matanya jatuh tanpa mampu dia cegah.


Ken menghela napas. "Jangan menyalahkan dirimu lagi, aku hanya melakukan apa yang seharusnya ku lakukan sebagai seorang Kakak, selama menjadi Kakekmu aku tidak pernah melakukan apapun untukmu. Aku hanya terus-terusan menyakiti dan melukai perasaanmu dengan sikap dingin ku. Jadi mulai sekarang biarkan aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan." Ujar Ken panjang lebar.


Air mata Celine tumpah semakin deras setelah mendengar apa yang Ken katakan. Dia berhambur ke pelukan laki-laki itu dan memeluknya dengan erat. Celine tidak menyatakan apapun, tapi pelukannya lebih dari cukup untuk menyampaikan apa yang dia rasakan sekarang, dan Ken memahaminya.


Saat Celine sudah mulai tenang. Ken melepaskan pelukannya dan menatapnya dengan tatapan dalam. Jari-jari besarnya menghapus jejak air mata di pipi Celine, jejak air matanya begitu jelas ketara, bahkan bulu matanya pun masih tampak basah oleh air matanya.


"Jangan menangis lagi, kau terlihat jelek jika menangis," Ken menghapus air mata Celine sambil mencibirnya, dia menyebut Celine jelek. Bukannya berhenti, tangis Celine malah semakin pecah karena cibiran kakaknya.


"Ge, kau jahat, kenapa kau menyebutku jelek? Aku ini cantik, tapi kenapa dengan seenak jidat kau malah menyebutku jelek?! Ma, Gege menyebalkan!!"


Ken menghela napas. Alhasil satu jitakan keras mendarat mulus di kepala Celine. "Dasar bocah. Ingat umur, kau pikir dengan usiamu yang bukan bocah lagi masih pantas menangis sambil meraung-raung?!" Ucapnya.


Celine memanyunkan bibirnya, dengan sebal dia memukul lengan Ken lalu membuang muka. "Ge, kau benar-benar menyebalkan, mulai sekarang aku tidak mau bicara lagi denganmu!!" Celine bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Ken mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah adik angkatnya yang seperti bocah.


Namun sedetik kemudian sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya. Ternyata memiliki adik menyenangkan juga, ya. Jika saja dia menerima Celine sejak awal, pasti hubungan mereka sekarang sangat dekat. Dan Celine adalah kesalahan terindah orang tuanya, karena jika mereka tidak membawa Celine pulang ke rumah ini, Ken tidak akan merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang adik.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2