
Setelah dirawat selama beberapa hari di rumah sakit. Akhirnya Celine diijinkan untuk pulang ke rumah hari ini. Gadis itu begitu girang karena akhirnya bisa keluar dari tempat terkutuk tersebut. Dengan dibantu Aster, Celine sedang bersiap-siap di kamarnya, sedangkan Ken mengurus administrasi.
Terkurung selama lebih dari tiga hari benar-benar membuat Celine kebosanan setengah mati.
Meskipun ada kedua orang tua dan kakaknya yang selalu ada dan menemaninya, namun tetap saja rasanya sangat membosankan. Celine memiliki kenangan buruk dengan rumah sakit di masa lalunya, dan hal itu yang membuatnya sangat membencinya.
"Ma, di mana Papa Kenapa dia tidak ikut datang bersamamu?" tanya Celine saat tidak melihat batang hidung Keanu.
"Pagi-pagi sekali Papamu sudah berangkat ke luar negeri, ada pertemuan penting dengan beberapa koleganya di sana. Dan rencananya dia di sana selama satu Minggu," jawab Aster. Celine mengangguk paham.
Ken datang menghampiri mereka berdua. Dia baru saja menyelesaikan administrasi, dan sekarang Celine sudah bisa pulang karena semua Admistrasi telah di lunasi.
"Sudah siap?" Celine mengangguk.
"Kalian berdua duluan saja, Mama masih ada urusan," ucap Aster dan dibalas anggukan oleh mereka berdua.
Celine hanya pulang berdua saja bersama Ken, karena Aster hendak pergi ke Busan untuk menghadiri acara amal. Yang sudah menjadi rutinitas bulanan yang diadakan oleh Xiao Empire, dan kali ini dia harus pergi sendirian karena Keanu sedang berada di luar negeri.
.
.
Ken mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sebuah lagu yang dinyanyikan Jessica Jung mengalun indah menemani perjalanan mereka menuju kediaman Xiao.
Celine menatap ke luar jendela. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu. Masih segar di ingatannya ketika balok kayu itu menghantam punggungnya dengan keras, yang mengakibatkan tulang punggungnya mengalami sedikit keretakan.
__ADS_1
D tidak bisa membayangkan bagaimana jika balok itu justru menghantam tubuh sang ibu. Jangankan benar-benar terjadi, baru membayangkannya saja sudah membuat air matanya menetes.
Ken menoleh, dia terkejut melihat wajah Celine penuh air mata. "Kenapa kau menangis?" tanya Ken.
"Ge, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Mama jika balok itu sampai menghantamnya, baru membayangkannya saja sudah membuatku ketakutan, apalagi kalau sampai benar-benar terjadi." Ujar Celine dengan air mata yang semakin deras.
Ken menepikan mobilnya lalu membawa gadis itu ke pelukannya. Melihat air mata Celine yang berjatuhan membuat membuat perasaan Ken menjadi tidak nyaman, membuat dia kebingungan dan bertanya-tanya, pasalnya hal semacam ini baru kali ini terjadi.
Biasanya dia akan bersikap biasa saja ketika melihatnya menangis, namun akhir-akhir ini Ken selalu merasa tidak nyaman ketika melihat Celine berurai air mata. Mungkinkah dia benar-benar sudah jatuh cinta padanya? Entahlah, Ken sendiri tidak tahu, biarkan waktu saja yang menjawabnya.
"Jangan pernah membayangkan hal menyakitkan. Lupakan apa yang sudah terjadi dan jangan diingat-ingat lagi, jangan menangis... Aku mohon," bisik Ken memohon.
Jesslyn tidak memberikan tanggapan. Gadis itu memilih untuk diam sambil membenamkan wajahnya di pelukan Ken. Dia emang tidak ingin mengingatnya, namun kejadian itu masih sangat segar di ingatannya. Bukan karena Celine tidak ingin melupakannya, namun karena memang sulit untuk dilupakan.
"Tersenyumlah, kau terlihat jelek saat menangis. Jika tidak percaya, cobalah untuk bercermin," Ken berusaha untuk mengembalikan senyum Celine dengan sebuah cibiran.
Alhasil sebuah pukulan ringan mendarat mulus di dada bidang Ken. "Dasar menyebalkan, seharusnya kau memujiku bukannya mencibirku." Celine menekuk mukanya sambil terus menggerutu. Ken benar-benar menyebalkan, bukannya menghibur dirinya, dia malah mencibirnya. Melihat bibir Celine yang manyun-manyun tidak jelas membuat Ken tidak tahan untuk menganggurkannya.
Ken menarik tengkuk Celine lalu memangut bibirnya tiba-tiba. Membuat kedua pupil mata Ken membulat sempurna. Lelaki itu terus mencium bibirnya dengan rakus dan terburu-buru, ada apa dengan Ken? Celine terus bertanya-tanya, apakah dia sudah gila, atau mungkin... Tidak tidak tidak, dia tidak mau berpikir yang tidak-tidak.
Celine benar-benar diam tak bereaksi atas ciuman dari Ken, tak membalas tak juga menolak sedangkan pria itu, dia sudah mengecap, mengabsen setiap ruang dalam mulut Celine mengajak lidah itu berperang, menjilat setiap inci mulut Celine dengan brutalnya.
Tepat di menit ke satu,Ken mengakhiri ciuman itu. Sepasang mutiara sehitam jelaga miliknya mengunci manik Hazel milik Celine. Tiba-tiba Celine cegukan, dia memukul dadanya sendiri dengan kepalan tangannya. Buru-buru Ken memberikan air minum padanya, dan setelah meneguk beberapa tegukan air, cegukannya hilang.
"Kau tidak apa-apa?" Ken menatapnya dengan cemas.
__ADS_1
Celine menggeleng, meyakinkan padanya jika dia baik-baik saja. Ken mengangguk, selanjutnya mereka berdua melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. Disadari atau tidak, kedua pipi Ken memerah, dia benar-benar merutuki apa yang baru saja terjadi. Entah setan dari mana yang merasuki Ken sampai-sampai dia mencium Celine.
"Ge, aku tidur dulu. Bangunkan aku jika sudah sampai," pinta Celine tanpa menatap lawan bicaranya. Gadis itu terus menundukkan kepalanya, dan tidak mau menatap Ken, bukan karena marah melainkan karena malu.
"Hn,"
xxx
"Ini uang yang kau inginkan, mulai sekarang semua hutang-hutang sudah lunas. Di antara kita sudah tidak ada urusan lagi. jadi mulai sekarang berhenti menggangguku dan mengusik hidupku!!"
Bella melemparkan sebuah koper yang berisi uang ke hadapan Robert. Dia baru saja melunasi semua hutang-hutangnya pada pria itu. Bella tidak mau lagi berurusan dengannya apapun alasannya.
Dan mulai sekarang, dia akan berhenti melakukan hal-hal bodoh yang dapat merugikan dirinya sendiri, salah satunya adalah berjudi, karena terjadi dia harus terlilit hutang yang sangat besar dengan seorang rentenir gila dan membuat hidupnya sengsara.
"Kau hebat juga, dari mana kau bisa mendapatkan uang sebanyak ini dalam waktu yang sangat singkat? Atau jangan-jangan kau sudah menjual dirimu pada orang lain? Oh, bukan... Jangan-jangan kau menjual ginjalmu untuk mendapatkan uang sebanyak ini? Aku rasa itu tidak mungkin, harga ginjal tidak seberapa, atau kau meminta pada orang tua angkat putrimu yang kaya itu?!" Robert menata bola dengan pandangan meremehkan.
Bukannya menerima uang itu dan berterimakasih karena Bella melunasi semua hutang-hutangnya, Robert malah melemparkan cemoohan padanya. Menghinanya dan merendahkannya.
"Tidak penting dari mana aku mendapatkan uang ini. Yang terpenting sekarang aku sudah tidak memiliki urusan lagi denganmu, mulai sekarang aku tidak akan melakukan hal gila lagi yang justru membuat diriku menderita. Aku pergi," Bella menimpali ocehan Robert dan pergi begitu saja.
Bella merasa bebas sekarang. Dia tidak lagi memiliki beban yang menyulitkan hidupnya. Dan selanjutnya dia akan kembali ke luar negeri dan menjalani hidupnya dengan tenang di sana. Tentang Celine, dia akan melupakannya,lagipula putrinya itu juga telah bahagia dengan keluarga barunya. Lagipula tanpa Celine hidupnya akan jauh lebih baik. Bella bisa lebih bebas melakukan apapun, termasuk tidur dengan banyak pria yang bisa memberikan kehangatan untuknya.
xxx
Bersambung
__ADS_1