Benih Titipan Tuan Muda

Benih Titipan Tuan Muda
Season 2: Jangan Membohongiku


__ADS_3

Semilir angin menggelitik dedaunan kering yang berserakan di atas tanah kecokelatan. Udara sore hari begitu menyejukkan. Matahari mulai masuk ke peraduannya, dan perlahan-lahan tenggelam di ufuk Barat.


Tampak seorang gadis sedang duduk sendirian disebuah kursi sembari menikmati udara sore hari. Sebuah tempat yang begitu indah dan bisa menyaksikan pemandangan alam yang luar biasa indahnya.


Sesekali kelopak matanya tertutup, menyembunyikan sepasangan sepasang lensa pengamat di balik kelopak mata dengan juntaian bulu matanya yang lentik.


Angin sepoi-sepoi berhembus dan memeluk tubuh gadis itu, membuat rambut indah miliknya melambai-lambai karena terpapar hembusan angin. Dia begitu menikmati udara sejuk sore ini, matahari terbenam menyempurnakan suasana sore hari yang cerah ini.


"Ini minuman mu," perhatiannya teralihkan. Gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Celine menoleh ke samping lalu menerima minuman kaleng itu dari tangan Ken.


"Ge, duduklah di sini dan bersama-sama kita melihat matahari terbenam." Celine menepuk ruang kosong di samping kanannya dan mempersilahkan Ken untuk duduk.


Tanpa berkata apa-apa. Ken mengambil tempat di samping gadis itu, dan kebersamaan mereka di isi keheningan. Tidak sepatah katapun keluar dari bibir Ken maupun Celine, keduanya sama-sama diam dalam keheningan.


Sontak Ken menoleh ketika merasakan bahu kanannya terasa berat, Jesslyn meletakkan kepalanya di atas bahunya. "Ge, begini rasanya sangat nyaman. Tiba-tiba aku mengantuk." Ucap Jesslyn, beberapa kali dia menguap karena tidak bisa menahan rasa kantuknya.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo pulang."


Jesslyn menggeleng. "Aku tidak mau, aku masih ingin di sini." Jawabnya sambil memejamkan matanya.


Sinar mentari senja menerpa. Wanita berambut panjang itu menatap lekat wajah di sampingnya yang sedari tadi menatap jauh ke depan. Wajah tampannya menunjukkan ekspresi apapun, datar. saling benar-benar tidak tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya, sampai-sampai Ken tampak begitu serius. Membuat Celine merasa penasaran.


"Ge, sebenarnya kau sedang memikirkan apa?" Celine menatap Ken penasaran.


Lelaki itu menoleh dan menggeleng. "Tidak ada. Hanya menikmati senja. Sekarang aku mengerti kenapa banyak sekali orang yang menyukai senja, termasuk dirimu. Senja memberikan ketenangan dan perasaan hangat pada siapapun yang menikmatinya." Ujar Ken.


"Dan menatap langit cantik itu, seolah-olah membawa harapan Baru, bahwa hidup akan baik-baik saja." Sahut Celine menambahkan.


Tiba-tiba, ada sebuah tangan yang menyentuhnya. Celine menoleh karena kaget. Buru-buru Celine menghampiri air matanya yang sudah terlanjur berjatuhan. Dan tangis Celine membuat Ken kebingungan dan bertanya-tanya.


"Kenapa kau menangis. Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanyanya sambil mengusap air matanya yang turun.

__ADS_1


Celine menggeleng dengan panik. "Ti-Tidak ada. Lagi pula siapa yang menangis, aku hanya kelilipan saja." Elak Celine, dia tidak mau mengakui pada Ken jika dirinya memang menangis. Tapi bukan Ken namanya jika mempercayai ucapan Celine begitu saja, dia tahu gadis itu sedang membohonginya.


"Jangan membohongiku, karena aku tidak mudah untuk kau bohongi. Beritahu aku kenapa kau menangis?" sekali lagi Ken bertanya.


Celine menggeleng. "Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Tiba-tiba saja air mataku jatuh dengan sendirinya dan sulit untuk di cegah." Ujar Celine Sambil menghapus sendiri air matanya.


Keheningan kembali melanda. Tak ada obrolan diantar mereka berdua. Mereka terus diam bahkan sampai langit berubah gelap dan mulai ada titik-titik putih di langit. Bintang mulai bermunculan.


Bintang-bintang bersinar dengan terang. Sinar bulan yang begitu indah, membuat suasana malam itu terasa amat sangat romantis. Namun sayangnya mereka bukan sepasang kekasih yang saling mencintai, mungkin. Karena belum ada satupun dari mereka ada yang mengakui perasaan masing-masing, meskipun mereka berdua sepakat untuk menikah.


Ken Menoleh saat tidak lagi mendengar suara ocehan Celine dan menghela napas. Rupanya dia sudah tertidur pulas. Menyadari gadis itu yang sudah tertidur, Ken pun merebahkan tubuh Celine di atas kursi panjang tempat mereka duduk dan meletakkan kepala gadis itu di atas pahanya.


Ya, kini Celine tertidur di pangkuan Ken. Dan Ken tidak berniat untuk membangunkannya. Dia membiarkan Celine tidur di pangkuannya sampai dia bangun dengan sendirinya. Yang bisa Ken lakukan hanyalah diam dan termenung menikmati langit malam bertabur bintang.


Malam ini langit cukup bersahabat. Bintang-bintang bertaburan dengan indahnya di atas sana.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2