
Setelah sekian lama memendam perasaannya yang tertutup oleh gengsi dan harga diri. Akhirnya Ken mengungkapkan apa yang dia rasakan pada Celine dan mengakui padanya jika selama ini diam-diam dia menyukainya.
Sikap Ken pada Celine pun semakin lembut dan hangat. Bahkan tak ragu dia menunjukkan sisi lain dari dirinya pada perempuan yang di cintainya tersebut.
"Ge, sepertinya sekretaris mu sangat membenciku. Buktinya dia selalu memberikan tatapan sinis ketika menatapku, atau jangan-jangan dia menyukaimu?" ungkap Celine.
Dia memberitahu Ken tentang sikap dan perlakuan sekretarisnya, Celine benar-benar merasa terganggu dengan sikap dan perilakunya yang menurutnya sedikit tidak wajar.
"Abaikan saja tidak perlu di gubris."
"Diabaikan bagaimana? Hal itu jelas-jelas menggangguku, jadi mana mungkin aku mengabaikannya begitu saja. Aku tidak akan memintamu untuk memencetnya, hanya saja diriku ingin supaya kau tahu bagaimana sikapnya padaku. Meskipun aku hanya putri angkat dalam keluarga Xiao, tapi bagaimanapun juga aku tetaplah bagian dari keluarga ini." Ujar Celine.
Ken bangkit dari kursinya lalu menghampiri Celine yang duduk di sofa. Dia meraih tangan gadis itu kemudian menggenggamnya.
"Aku tidak peduli bagaimana orang lain akan menilai dirimu dan kau tidak perlu memikirkan ucapan-ucapan mereka, bahkan jika itu melukai perasaanmu. Karena mereka yang berani merendahkan dan menghinamu, belum tentu sepadan dengan dirimu. Untuk itu jangan pernah memusingkan apapun perkataan mereka, yang terpenting adalah aku, Mama dan Papa benar-benar tulus menyayangimu." Ujar Ken sambil mengunci mata indah milik Celine.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk dan berhambur ke dalam pelukan Ken lalu memeluknya dengan erat. "Ge, aku sangat beruntung memiliki kalian bertiga. Jika saja hari itu Mama dan Papa tidak membawaku masuk ke dalam keluarga kalian, mungkin saja nasibku tidak akan seberuntung sekarang," ujar Celine sambil mengeratkan pelukannya.
Ken mengusap rambut panjang Celine dengan gerakan naik turun. Dia tidak perlu mengatakan apapun untuk menimpali ucapan Celine, hanya dengan pelukan dan bahasa non verbal, Celine pasti sudah paham.
Celine melepaskan pelukannya. "Sebaiknya segera selesaikan pekerjaanmu. Aku keluar dulu untuk membeli minum." Ucap Celine dan di balas anggukan oleh Ken. Dia berpesan supaya Celine hati-hati. Ken melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
.
.
Di saat Celine sedang menikmati ice cream nya. Tiba-tiba sekelompok preman datang dan membuat kekacauan. Mereka tidak hanya merusak beberapa properti yang ada di kedai tersebut seperti meja dan kursi, tapi juga meminta uang dalam jumlah yang besar. Jika tidak dikasih, mereka akan mengamuk dan menghancurkan seisi kedai.
"Tolong jangan diambil semuanya, sisakan untuk modal besok." Mohon pemilik kedai pada preman-preman itu.
Bukannya menuruti. Mereka malah mendorongnya hingga wanita itu tersungkur di lantai. "Arrkkhh... Kau terlalu berisik!! Ini adalah uang keamanan, dan besok kau harus memberikan setoran dengan nominal yang jauh lebih besar jika tidak tahu sendiri akibatnya!! Ayo pergi," ketua preman itu pun mengajak semua anak buahnya untuk pergi setelah mendapatkan uang yang dia inginkan.
__ADS_1
"Ayam ayam ayam..." Bos preman itu berteriak kaget ketika sebuah bellati terbang dan menancap tepat disisi kanan kepalanya, kurang sedikit lagi bellati tersebut menembus kepalanya.
Dengan kaku pria itu menoleh ke belakang, pupil matanya membulat sempurna saat melihat beberapa benda melayang kearah mereka. akibatnya ketujuh preman itu tersungkur ke belakang setelah tertimpa benda-benda yang dilemparkan oleh pengunjung dan pemilik kedai yang bekerjasama.
"Tunggu apalagi? Cepat maju dan serang!!" teriak Celine memberi interupsi. Dialah yang pertama kali mengajak pemilik kedai dan pengunjung kerjasama dan memberikan perlawanan pada preman-preman tersebut agar tidak kembali berulah.
Mereka bertujuh dikeroyok lebih dari semua orang yang semuanya perempuan. Mereka tidak hanya dihajar habis-habisan, tetapi di tellanjangi juga. Setelah babak belur, preman-preman itu pun diarak berkeliling kota dengan polos tanpa sehelai benang pun membalut tubuh masing-masing dari mereka bertujuh.
Mereka yang awalnya sangar dan menakutkan, seketika berubah menjadi cengeng seperti anak anjing yang tidak berguna. Mereka menangis, memohon supaya tidak menghubungi kota dalam keadaan bulat.
Namun sayangnya permohonan mereka tidak dipublis oleh wanita-wanita itu, yang hampir semua adalah ibu-ibu rumah tangga. Mereka begitu brutal, bahkan tidak merasa risih sedikitpun meskipun melihat para pria itu dalam keadaan tellanjang bulat.
Celine yang tidak ingin ternodai katanya memilih untuk tidak ikut berkeliling kota bersama wanita-wanita itu. Dia lebih memilih kembali ke kantor Ken dan cari aman.
xxx
__ADS_1
Bersambung