Benih Titipan Tuan Muda

Benih Titipan Tuan Muda
Season 2: Menangkap Ikan


__ADS_3

Angin penghembus pelan, menerbangkan kelopak-kelopak bunga sakura ke angkasa. Semilir angin musim semi menyapanya dengan lembut, seakan-akan tidak ingin menganggu tidur lelapnya. Beberapa kelopak bunga berserta daunnya ikut terbang terbawa angin, menghiasi kanvas biru yang ada diatas sana sambil ditemani oleh cahaya mentari yang begitu hangat.


Saat ini Celine sedang berada di bukit angin. Dia ingin menghabiskan akhir pekannya di Villa milik kedua orang tua angkatnya, lagipula sendirian di rumah membuatnya bosan.


Ini sudah pertengahan bulan Maret, sudah waktunya bunga sakura bermekaran, musim semi baru saja tiba. Gadis itu memperhatikan pohon sakura yang bunga-bunganya tengah bermekaran itu. Batang utama pohon itu bercabang dua agak rendah, ranting-rantingnya panjang menjuntai.


Kelopak-kelopak merah muda pucat mendominasi hampir seluruh dahan dan rantingnya, membuat pohon itu menjadi daya tarik tersendiri di antara hijaunya pepohonan.


"Cantik," satu kata yang menggambarkan suasana di bukit ini. Musim semi selalu membuat Celine terkagum-kagum.


Derap langkah kaki seseorang yang datang menyita perhatiannya. Pupil matanya sedikit membulat melihat siapa yang datang. "Ge, sedang apa kau di sini?!" seru Celine bertanya.


"Bukan kau, seharusnya aku yang bertanya padamu. Sedang apa kau sendirian di sini?" alih-alih menjawab, orang itu yang pastinya adalah Ken malah balik bertanya.


Celine menggeleng. "Tidak ada hanya ingin menikmati angin musim semi. Lagipula diam terus di rumah lama-lama juga bosan. Mau mengajak Mark pergi tapi dia sedang sibuk. Lalu kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah seharusnya kau masih ada di kantor?" Celine kembali melayangkan sebuah pertanyaan pada Ken dan menatapnya dengan penasaran.


"Tiap hari bekerja lama-lama juga bosan. Aku butuh angin segar untuk menjernihkan kembali otakku." Jawabnya menimpali.


Celine mengangguk. "Ya, kau benar sekali. Mesin saja bisa panas, apalagi otak. Sesekali memang perlu didinginkan. Oya, Ge. Bagaimana kalau malam ini kita bermalam saja di sini, bukankah besok tanggal merah?" Celine memberikan sebuah usulan pada Ken, Celine mengajak Ken untuk menginap di Villa milik orang tua mereka.


Ken tidak langsung memberikan jawaban. Di tatapannya kedua mata Celine yang juga menatap padanya. Tatapan gadis itu menyiratkan permohonan, seolah-olah dia berkata 'Ge, kau harus mau dan aku tidak mendengar kata tidak!!' Ken menghela napas, kemudian dia menganggukkan kepala dan menyetujui ajakan Celine.


"Baiklah,"


Celine tersenyum lebar. Dia tahu Ken tidak mungkin bisa menolak ajakannya. Lagipula dia cuma mengajaknya untuk menginap satu malam saja, dan hal itu tentu saja bukan masalah baginya, apalagi besok adalah tanggal merah, sudah pasti Ken libur bekerja.


"Ge, bagaimana kalau kita jalan-jalan di sekitar sini. Tidak jauh dari tempat ini ada sebuah danau yang sangat cantik. Bagaimana kalau kita ke sana untuk melihatnya?" Celine mengajak Ken untuk pergi ke danau.


Tanpa Celine memberitahunya sekali pun, tentu saja Ken sudah tahu tentang danau itu dan di mana letaknya. Karena Ken sudah beberapa kali pergi ke sana hanya untuk sekedar menenangkan pikirannya ketika sedang kacau, entah itu karena masalah pekerjaan ataupun masalah pribadi.


Cahaya matahari senja sore menyusup melalui celah-celah pepohonan, terasa hangat ketika menyentuh permukaan kulit. Rambut panjang milik Celine yang terurai tampak berkilauan.


Sepanjang jalan, gadis itu terus saja mengoceh dan membicarakan banyak hal. Sedangkan Ken.. dia hanya menjadi pendengar setia sambil memperhatikan dirinya yang tengah asyik berbicara, menceritakan banyak hal dari mulutnya yang cerewet. Tanpa sadar Ken malah tertawa.


Tiba-tiba Celine menghentikan langkahnya dan membuatkan ikut berhenti juga. "Kenapa berhenti?" lelaki itu bertanya dan menatap Celine dengan bingung.


"Ge, apa aku tidak salah dengar? Barusan kau tertawa?" tanya Celine sambil menatap Ken dengan pandangan tak percaya. Sungguh sebuah keajaiban bisa melihat Ken tertawa seperti itu.

__ADS_1


"Memangnya kenapa jika aku tertawa? Apa salah?" ucap Ken dan dibalas gelengan oleh Celine.


"Tidak ada yang salah, hanya sedikit aneh saja melihatmu tertawa. Dan selama aku mengenalmu, Ini pertama kalinya aku melihat kau tertawa serenyah itu," ujar Celine.


Ken mendengus. Dia pikir karena apa tiba-tiba Celine berhenti. Jadi hanya karena dia melihat dan mendengarnya tertawa? Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus di kepala Celine. "Aw, Ge... Kenapa kau malah menjitak ku? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" Celine menggerutu sambil menatap Ken dengan sebal.


"Siapa suruh kau banyak bicara. Sudah cepat jalan, aku akan menunjukkan sesuatu sangat menakjubkan padamu," Ken melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan Celine begitu saja.


"Ge, kenapa aku malah di tinggalkan? Ge... Tunggu aku!!"


.


.


Senja telah turun ke kaki langit. Langit berwarna jingga dengan semburat oranye kemerahan yang men gradasi. Cahayanya lembut menghiasi cakrawala. Pertanda jika senja telah datang.


Sendu, namun indah. Menyejukkan netra yang memandang. Teduh menyelimuti. Rumput ilalang bergoyang. Tertiup embusan semilir angin yang akan mengantarkan mentari kembali ke ufuk barat. Menjulang tinggi ke awan-awan.


Danau kecil dihadapannya tertimpa sinar jingga. Mengalir dengan tenang tanpa bergelombang dan meliuk-liuk. Celine berdiri dibawah naungan langit senja cantik yang dipenuhi jingga. Tidak sendirian, ada Ken bersamanya.


Ken menoleh, membuat kontak mata diantara mereka tidak terhindarkan. "Ya," Ken menjawab singkat.


Ini bukan pertama kalinya Celine datang ke danau ini. Namun bukan saat senja ataupun malam hari. Dia datang ketika pagi dan siang hari, itupun sudah beberapa tahun yang lalu. Danau alami ini mengalami banyak sekali perubahan, banyak bunga-bunga cantik yang tumbuh dan mengelilingi danau, salah satunya adalah mawar.


"Ge, banyak sekali ikan di danau ini, bagaimana kalau kau menangkap dua ekor untuk kita makan malam?" ucap Celine memberi usul.


Ken menggeleng. "Malas, lagipula aku tidak membawa pakaian ganti, bagaimana kalau pakaianku malah basah kuyup?! Kalau kau mau tangkap saja sendiri."


Celine menatap Ken dan merenggut kesal. Ken menolak permintaannya secara terang-terangan. Sebuah ide muncul di kepalanya, Celine melepas heelsnya lalu masuk ke danau tersebut. Dengan jahil, Celine menciptakan air ke muka Ken dan membuat pria itu terkejut.


"Yakk!! Apa yang aku lakukan? Celine, hentikan!!" pinta Ken dengan nada membentak. Namun tidak dihiraukan oleh gadis itu. Celine terus menciptakan air ke arah Ken secara terus-menerus dan membuat pakaian yang Ken kenakan menjadi basah. "Celine, aku bilang hentikan!!" pinta Ken menuntut.


Celine menggeleng. "Tidak mau!! akan berhenti sampai kau mau menangkap ikan untukku! Lagipula bukan untukku saja, tapi untuk kita berdua ikannya!!" jawabnya menegaskan.


Ken menghela napas. Dengan terpaksa dia menuruti permintaan Celine. Ken melepas Jas dan Vest-nya lalu menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku. Dia juga melepas sepatu serta menggulung celana panjangnya sampai sebatas lutut. Selanjutnya Ken masuk ke dalam danau menyusul Celine.


"Apa?!" Ken menatap Celine dengan sinis ketika gadis itu tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Aku tahu kau tidak mungkin bisa menolak permintaanku. Lagipula jika kau menolak untuk menangkap ikan, bisa-bisa Malam ini kita kelaparan karena tidak ada makanan yang bisa di makan." Ujar Celine menuturkan.


Ken tidak memberikan tanggapan apapun. Celine benar-benar membuatnya kesal setengah mati, apalagi saat melihat senyumnya yang tanpa dosa. Dan entah apa alasannya, Ken tidak pernah bisa menolak permintaan gadis itu meskipun harus dengan berat hati melakukannya. Menangkap ikan salah satunya.


"Ge, di sebelah sana." Seru Celine dengan heboh. Dia menunjuk ikan yang ukurannya lebih besar dari yang sedang di incar oleh Ken.


"Ck, diamlah. Kau itu terlalu berisik!!" Ken menoleh dan menatap Celine dengan sinis.


Bukannya merasa bersalah. Celine lagi-lagi menunjukkan senyum tanpa dosa. Dan Ken hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya. Kali ini Ken mengabaikan ocehan Celine, bahkan ketika dia berteriak dengan hebohnya. Lebih baik berpura-pura tidak mendengarnya dari pada kesal sendiri.


"Ge, itu... itu... itu... Cepat tangkap." Seru Celine sambil melompat-lompat tidak jelas. Dia benar-benar heboh sendiri setiap kali melihat ikan yang ukurannya lumayan besar.


Dan setelah hampir tiga puluh menit berendam di dalam danau, sedikitnya enam ikan mereka dapatkan. Tapi sayangnya yang satu agak kecil jadi Ken melepaskannya kembali. Hari sudah semakin gelap, mereka berdua pun memutuskan untuk kembali Villa. Selain itu Ken masih harus menyiapkan makan malam.


"Ge, kira-kira ikan-ikan ini enaknya di masak apa ya?" ucap Celine sambil menatap Ken penasaran. Mereka sedang menuruni bukit angin.


"..." Namun tidak ada jawaban. Ken memilih diam dan tidak memberikan jawaban, dia terlalu malas untuk bicara dengan Celine yang terlewat cerewet itu.


Celine tidak merasa tersinggung sedikit pun pada sikap Ken yang terlewat dingin. Dia sudah terbiasa dengan sikap Kakak angkatnya tersebut, karena bukan hanya satu atau dua tahun saja mereka hidup bersama dan tinggal di bawah atap yang sama, jadi Celine sudah memahami betul bagaimana sifat dan karakter Ken yang sebenarnya.


Di sisi lain karena Ken tidak begitu menyukai Celine, itulah kenapa dia selalu bersikap dingin padanya. Akan tetapi, sikap Ken kepada Celine perlahan berubah sejak dua Minggu belakangan ini. Dia menjadi lebih terbuka dan tidak terlalu dingin padanya. Jarak di antara mereka perlahan terkikis, sehingga mereka bisa lebih dekat meskipun kata dekat itu sendiri bukan dalam arti yang sebenarnya.


"Ahhh, kakiku.."


Langkah Ken terhenti setelah mendengar teriak kesakitan Celine. Lelaki itu menoleh dan mendapati Celine yang sedang memegangi kakinya yang sedang berdarah. Ken meletakkan ikan-ikannya lalu menghampiri Celine. "Kakimu kenapa?" tanya Ken dengan panik.


Celine menggeleng. "Aku tidak tahu. Mungkin saja karena aku tidak sengaja menginjak ranting. Ge... sakit..."


"Kalau begitu pegang ikannya dan Naiklah ke punggung ku." Pinta Ken sambil berjongkok di depan Celine.


Tanpa banyak berpikir Ken berlutut di depan gadis itu dan meminta untuk naik ke punggungnya. Tidak mungkin Ken membiarkannya jalan sendiri dengan keadaan kaki terluka seperti itu. Sedingin apapun sikapnya pada Celine, tetapi Ken bukanlah pria yang kejam dan tidak berperasaan.


Setelah Celine naik ke punggungnya. Ken membawa gadis itu untuk menuruni bukit. Diam-diam Celine menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. Darah dalam tubuhnya berdesir menerima perlakuan hangat dan tidak biasa dari Ken. Dan dibalik sikap dingin dan menyebalkan, Ken adalah sosok yang hangat dan penuh dengan kasih sayang.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2