
Matahari masih malu-malu untuk menunjukkan eksistensi-nya, jam di dinding baru menunjukkan pukul 05.00 namun Ken sudah bangun dari tidur nyenyak nya. Tidak seperti hari biasa di mana ia bangun saat matahari sudah tinggi.
Ken beranjak dari tidurnya dengan mata masih setengah mengantuk, dia menggaruk kepalanya sambil berjalan linglung menuju kamar mandi yang ada di sisi kanan tempat tidurnya. Melepaskan satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya menyisakan boxer pendek yang menggantung pas di pinggangnya.
Kem memutar kran shower, percikan air yang dingin namun terasa menyegarkan langsung menyentuh tubuhnya yang setengah tellanjang juga membasahi rambut-nya sampai jatuh menutupi sebagian wajah tampannya. Ken memejamkan matanya dalam diam. Menikmati setiap tetes air yang membasahi setiap inci wajah tampannya.
Setelah memastikan tubuhnya benar-benar bersih dan wangi. Ken mengambil handuk putih yang bersebelahan dengan handuk lainnya yang ukurannya lebih kecil lalu melilitkan pada pinggangnya.
Dengan tenang, Ken berjalan meninggalkan kamar mandi dengan tangan kanannya sibuk mengusap rambut-nya yang basah. Tangan lain ia gunakan untuk membuka lemari pakaiannya lalu mengeluarkan setelan jas putih dari dalam lemari itu dan meletakkan di atas tempat tidurnya dengan hati-hati agar tidak sampai kusut.
Ken memakai kaos putih polos tanpa lengan sebagai dallaman kemeja putihnya. Berdiri di depan cermin besar untuk memastikan tidak ada yang kurang pada penampilannya, jari-jarinya memasang satu persatu kancing pada kemejanya dengan rapi.
Hari ini adalah hari yang paling bersejarah dalam hidupnya. Di mana hari pernikahan-nya dengan Celine akan di langsungkan. Ken tidak dapat menahan senyumnya melihat sepasang cincin yang tersimpan rapi di dalam kotak merah bludru yang kemudian ia simpan di dalam saku jasnya. Ya, dia dan Celine telah sepakat untuk menikah hari ini.
Tokk...!!! Tokk...!! Tokk...!!!
Ketukan keras dari luar kamarnya sedikit menyita perhatian pria tersebut. Dengan pelan Ken menoleh lalu beranjak dari depan cermin, dan berjalan menuju tempat tidurnya sambil menenteng sepasang sepatu hitam mengkilap
"Masuklah." sahut Ken di tengah kesibukannya mengikat tali sepatunya.
Ken mengangkat wajahnya mendengar decitan pintu terbuka, terlihat Keanu dan Rio yang lain menghampirinya. Tubuh mereka berdua terbalut pakaian formal yang membuat mereka terlihat semakin tampan. Mereka berdua tersenyum lebar. Mereka juga turut merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh Ken.
"Sudah siap?" tanya Keanu yang segera di balas anggukan oleh Ken.
"Sebaiknya kita pergi sekarang, Ken. Kau tidak ingin terlambat di hari pernikahanmu sendiri bukan?" ucap Rio. Lagi-lagi Ken mengangguk sebagai jawabannya.
"Mobil sudah siap, dan aku dengar dari Tuan jika Nona Celine dan Nyonya Aster juga baru meninggalkan rumah." kata Rio lati, dia juga tampak tampan dan gagah dalam balutan jas rapinya.
__ADS_1
"Santai saja, Ken. Kau tidak perlu tegang." kata Keanu sambil menepuk bahu Ken. Ken lantas menoleh dan tersenyum kaku.
Mereka berempat pun berjalan beriringan meninggalkan kamar mewah milik Ken. Rasanya baru kemarin Ken bertemu dan mengenal Celine, namun tidak lama lagi mereka akan menjadi sepasang suami-istri.
Pria itu tersenyum di tengah langkahnya. Tidak pernah terpikirkan di dalam hidupnya jika ia akan bertemu dengan wanita yang mampu meluluhkan hatinya. Selama ini Ken yang di kenal dingin selalu menutup pintu hati-nya rapat-rapat dan tidak membiarkan gadis mana pun memasuki ruang kecil dalam hatinya termasuk Regita, mantan kekasihnya.
Namun siapa yang menyangka jika sebenarnya sudah ada satu nama yang tersemat di hatinya selama puluhan tahun, namun dia sendiri tidak berani mengatakannya. Satu-satunya gadis yang mampu mengalihkan seluruh perhatiannya dan akhirnya menjadi pemegang kunci hatinya. Celine, kau benar-benar hebat.
xxx
Celine terus mondar-mandir di depan cermin. Dia mencoba untuk menghilangkan gugupnya.
Deciit pintu terbuka mengalihkan perhatian semua tamu undangan yang datang termasuk sang mempelai pria yang sudah berdiri di atas altar. Semua mata tak berkedip sedikit pun melihat bagaimana cantik dan anggunnya Celine yang berjalan beriringan dengan ayah mereka yang pastinya adalah Keanu.
Ken tersenyum lembut menanti sang mempelai yang berjalan menuju arahnya. Tangan kanan Ken terulur menyambut pengantin cantiknya. "Ken Xiao, aku serahkan putriku padamu. Bahagiakan dia, jaga dia dan tetaplah menjadi perisai untuknya." kata Keanu saat sudah berhadapan dengan Ken.
Suara lonceng yang berbunyi menjadi pengiring lantunan cinta mereka. Kelopak-kelopak bunga mawar di lemparkan oleh para orang terdekat kearah Ken dan Celine yang merupakan wujud dari siraman cinta suci mereka berdua.
Celine, sang mempelai kita terlihat begitu cantik dalam balutan gaun pengantin mewahnya, sepasang cincin yang menjadi simbol iklar suci itu menjadi saksi perjalan cinta mereka.
Ken tersenyum lembut. Jari-jarinya dengan lincah membuka kerudung transparan yang menutupi wajah cantik wanita yang telah resmi menjadi istrinya. Lalu pandangan Ken jatuh pada bibir ranum Celine yang tampak begitu menggoda di matanya.
"Cium...!!! Cium...!!! Cium...!!!" riuh teriakan para tamu undangan menyita sedikit perhatian Ken.
Pria dingin itu menyeringai, kedua mata Celine terbelalak saat Ken menakup wajahnya dan menyatukan bibir mereka. Ken memagut serta mellumat bibir ranum itu perlahan dengan lembut. Perlahan Celine menutup matanya, meskipun awalnya terkejut namun pada akhirnya dia menerima ciuman itu. Lagipula siapa yang bisa menolak ciuman senikmat itu?!
"KYYYAAAA....!!! MEREKA BENAR-BENAR BERCIUMAN!!" teriak salah seorang tamu undangan dengan heboh.
__ADS_1
Diantara semua tamu undangan yang hadir, hanya dia satu-satunya yang heboh sendiri. Membuat tamu yang lain mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
Mengabaikan Tamu itu. Beberapa pria tampan kemudian menghampiri sang mempelai untuk mengucapkan selamat padanya. "Selamat ya, atas pernikahan kalian berdua. Oya, Ken aku memilki kado untukmu. Jangan dibuka sekarang tapinya, dan ini akan sangat berguna untukmu jadi manfaatkan sebaik-baiknya, oke." Ucap salah satu dari ketiga pria itu dengan tatapan mencurigakan.
"Bukan dia saja yang memiliki kado untuk kalian berdua. Karena aku juga punya." Pria yang lain tak kau kalah. Itu adalah kado berduanya dengan Rico. Bahkan kado yang mereka miliki jauh lebih mahal dari kado milik temannya tadi.
"Aku dan Tony sendiri yang memiliknya dan ini dari Victoria Secret," kemudian pria itu berbisik di telinga Celine dan membuat wanita itu membulatkan mata terkejut.
Victoria Secret, maka itu adalah... Baju dinas?! Celine menggelengkan kepala. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan mereka berdua. Jika saja sedang tidak banyak orang dan mereka sedang di perhatikan. Pasti Celine sudah mengomeli mereka berdua, tapi ya sudahlah... tidak masalah dan baju dinas itu akan sangat berguna bagi dirinya nantinya.
"Terimakasih. Aku menerimanya dengan senang hati." Ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Syukurlah jika kau senang." Jawab Tony.
Ken menatap kado itu penasaran. Dia yakin jika kado itu sedikit tidak beres karena mereka berdua bicara sambil bisik-bisik, belum lagi dengan Rekasi Celine yang bisa dikatakan berlebihan setelah mereka berbisik di telinganya.
Baru juga Ken mau bertanya. Kedatangan ayah dan ibunya menginterupsi keinginannya tersebut. Keanu tersenyum pada putranya dan menatapnya dengan terharu, di sampingnya Aster terlihat menyusut air mata kebahagiaannya.
Wanita itu kemudian merentangkan kedua tangannya dan membawa Ken ke dalam pelukannya. Keanu menyeka air matanya sambil tersenyum dan mengusap punggung Ken dengan bangga. "Kau membuat papa bangga Nak, jangan menundanya terlalu lama, segera berikan cucu untuk kami." pinta Keanu yang semakin tidak kuasa menahan air mata harunya.
Ken tersenyum tipis. "Tentu pa, masalah itu tdiak perlu kau rasakan. Dalam waktu dekat aku dan Celine akan memberikan cucu untuk kalian berdua. Bukankah begitu, Sayang." Ken mengedipkan sebelah matanya pada Celine, wajah Celine bersemu merah. Gadis itu tersipu malu.
Aster tersenyum, Ibu dua anak itu gemas sendiri melihat wajah Celine yang memerah. Lagi-lagi dia tidak kuasa untuk menahan air matanya. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan, karena akhirnya dia bisa melihat Celine dan Ken menikah juga.
xxx
Bersambung
__ADS_1