Benih Titipan Tuan Muda

Benih Titipan Tuan Muda
Season 2: Lama Tidak Bertemu


__ADS_3

Ken memicingkan matanya dan menatap bingung pada sosok perempuan yang sedang berbincang dengan ibunya. Dia tidak tahu dan tidak mengenal siapa perempuan itu namun wajahnya terlihat tidak asing.


Dengan tenang, Ken memasuki rumah dan menghampiri mereka berdua. "Ma, aku pulang." Ucapnya datar. Kedatangannya mengalihkan perhatian kedua wanita itu. Mereka berdua sama-sama menoleh. "Siapa dia? Dan di mana putri kesayanganmu itu? Bukankah kau bilang dia pulang hari ini?"


Aster dan wanita muda itu yang pastinya adalah Celine saling bertukar pandang. Keduanya menatap Ken dengan bingung, tapi Aster tidak merasa heran jika Ken tidak mengenali Celine karena penampilannya berubah drastis.


"Ge, lama.tidak bertemu." Celine bangkit dari duduknya dan menyapa Ken.


Ken mengerutkan dahinya dan menatap wanita itu penuh tanya. "Kau, Celine?" ucap Ken memastikan.


Celine menganggukkan kepala. "Ya," dan menjawab singkat.


"Oh, aku ke kamar dulu." Kemudian Ken beranjak dan pergi begitu saja.


Celine menghela napas. Kemudian dia menoleh dan menatap Ibunya dengan sedih. "Ma, sampai kapan dia tidak menyukaiku? Kenapa sikap Ken Ge masih saja dingin padaku?" lirih Celine dengan sendu. Wanita itu menundukkan wajahnya dan menatap kaki jenjangnya yang terbalut Heels hitam itu dengan sendu.


Aster meraih tangan putrinya dan menggenggamnya. "Mama, tahu betul apa yang kau rasakan, Sayang. Beri Kakakmu sedikit waktu. Mama, yakin cepat atau lambat dia pasti akan menerimamu. Percaya pada, Mama." Aster menangkup wajah Celine, bibirnya mengukir senyum lebar.


Celine mengangguk. "Ya," dan menjawab singkat.


Aster sungguh sangat menyayangkan sikap Ken pada Celine. Dia tidak tahu apa yang membuat putarannya sangat membenci Celine dan tidak menyukainya. Aster tidak merasa telah membeda-bedakan mereka berdua, sejak kecil Aster memperlakukan mereka sama dan tidak pilih kasih.


"Ma, aku mandi dulu." Ucap Celine dan di balas anggukan oleh Aster. Wanita itu kemudian beranjak dari hadapan Ibunya dan pergi begitu saja.


Masih ada waktu kurang lebih 30 menit sebelum jam makan malam. Celine berencana untuk mandi dan berganti pakaian. Sekujur tubuhnya terasa tidak nyaman akibat keringat, dia baru saja melakukan perjalanan jauh dan melelahkan.


Celine menghentikan langkahnya saat melihat pintu kamar Ken yang sedikit terbuka. Setelah mengetuknya sebanyak tiga kali, Celine memutuskan untuk masuk dan menghampiri lelaki itu.


"Mau apa kau kemari?" namun kedatangan Celine tidak disambut baik oleh Ken.


"Ge, apa aku mengganggumu?" tanya Celine memastikan. Namun tidak.ada jawaban, Ken hanya menatap sekilas padanya dan kembali sibuk dengan laptopnya.


Tanpa meminta ijin pada Ken terlebih dulu. Celine berbaring di samping Ken yang sedang sibuk dengan laptopnya. Dia tidak menghiraukan Celine sama sekali. "Ge, berapa lama kita tidak bertemu?" Celine bertanya dan mengakhiri keheningan di antara mereka berdua. Dia menatap Ken yang tetap fokus pada laptopnya.


"Aku tidak tau," Ken menjawab singkat.

__ADS_1


"Tiga tahun. Dua tahun yang lalu ketika aku pulang untuk mengunjungi Mama dan Papa kau sedang tidak ada. Kau pergi ke luar negeri untuk perjalanan bisnis, padahal saat itu aku ingin sekali bertemu denganmu. Namun sayangnya keinginanku itu tidak terwujud," ujar Celine.


Dia berceloteh panjang lebar namun diabaikan oleh Ken, Ken sama sekali tidak menghiraukannya. Tetapi Celine tidak begitu menghiraukannya. Karena memang begitulah sifat Ken, dia selalu bersikap dingin dan acuh padanya.


"Ge, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Tapi aku tidak tahu dari mana harus memulainya. Saking banyaknya cerita yang ingin aku pakai denganmu, sampai-sampai Aku tidak tahu dari mana harus memulainya terlebih dulu. Mungkin lain kali saja, aku pasti akan bercerita padamu tetapi tidak malam ini." Tutur Celine.


Ken hanya melirik sekilas padanya tanpa memberikan tanggapan apa-apa. Bahkan satu kata pun tidak, Ken diam 1000 bahasa dan mengabaikannya.


"Ge, terimakasih telah mewujudkan impianku saat masih kecil. Aku pernah memiliki sebuah impian yang mustahil untuk di wujudkan, namun impian itu bisa terwujud sejak Mama dan Papa membawaku masuk ke dalam keluarga ini. Meskipun kau tidak pernah menyukaiku, tapi terimakasih karena selalu melindungi ku. Aku sungguh beruntung memiliki kakak sepertimu, dan di mataku kau tetaplah seorang Kakak yang selalu aku idolakan." Ujar Celine panjang lebar.


Celine tersenyum perih. Sebanyak apapun dia bicara, sebanyak apapun kalimat yang keluar dari bibirnya. Tetapi tidak satupun yang direspon oleh Ken. Dia tetap diam dan membisu layaknya patung yang tidak bernyawa. Celine sudah terbiasa dan dia tidak merasa sakit hati.


"Aku mandi dulu." Celine bangkit dari posisinya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Kevin sendirian di kamarnya.


Ken hanya menatap kepergiannya dengan datar. Lelaki itu menghela napas panjang. Mengabaikan ucapan Celine. Dia kembali fokus pada laptopnya. Jika bukan karena karena ibunya yang memaksa, pasti saat ini Ken masih ada di kantornya.


xxx


Celine menutup matanya saat air hangat mulai menyentuh tubuh terbukanya. Cuaca malam ini lumayan dingin sehingga dia lebih memilih mandi dengan air hangat.


Setelah mandi dan berpakaian lengkap. Celine meninggalkan kamarnya untuk makan malam. Pasti kedua orang tuanya sedang menunggunya. Dan Celine tidak ingin membuat mereka menunggu terlalu lama.


"Ge," panggil Celine saat melihat Ken yang baru saja keluar dari kamarnya. Lelaki itu memakai pakaian berbeda dari yang dia pakai sebelumnya. Kemeja hitam yang di padukan dengan Vest abu-abu terang yang senada dengan celana panjangnya.


Ken menghentikan langkahnya setelah mendengar panggilan Celine "Ayo turun sama-sama." Ucap Celine setibanya dia di depan Ken. "Akhirnya setelah satu tahun menunggu, malam ini bisa berkumpul kembali dengan kalian bertiga. Sangat senang rasanya kembali ke rumah ini." Celoteh celine di tengah langkahnya.


Namun tidak ada jawaban ataupun tanggapan dari Ken. Dia hanya menatap sekilas pada wanita yang berjalan di belakangnya ini. Ken bukankah tipe pria yang suka untuk basa-basi.


"Ma, Pa. Maaf, membuat kalian menunggu terlalu lama." Ucap Celine penuh sesal.


Keduanya menggeleng dengan kompak. "Sama sekali tidak, Sayang. Kami juga baru tiba di sini, duduklah Ayo kita makan malam sama-sama." Ujar Keanu dan membuat senyum di bibir Celine merekah semakin lebar. Kemudian dia mengambil tempat di samping Aster.


Selanjutnya makan malam mereka jalani dengan tenang. Tidak ada obrolan diantara mereka berempat, hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang saling bersentuhan.


.

__ADS_1


.


Usai makan malam. Celine memisahkan diri dari keluarganya. Dia meminta ijin untuk keluar dan bertemu dengan teman-temannya. Tentu saja Aster dan Keanu mengijinkannya. Mereka tahu pasti Celine merindukan teman-teman lamanya.


"Ken, kau mau kemana?" tegur Aster melihat Ken yang sedang menuruni tangga.


"Keluar sebentar. Aku ada janji dengan Alex dan Max. Aku pergi dulu," ucapnya dan pergi begitu saja.


Aster menghela napas. Dia sungguh sangat menyesalkan kenapa sifat Keanu harus menurun padanya?! Atau bahkan Ken lebih dingin dari ayahnya, bisa di bilang Ken yang dulu sangat imut dan menggemaskan sekarang lebih mirip dengan kulkas 10 pintu.


"Dia mau kemana?" tanya Keanu saat melihat mobil Ken meninggalkan halaman.


Aster menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu. Dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya bilang jika ada janji dengan Max dan Alex. Ya , sudah. Biarkan saja lah. Namanya juga anak muda, mungkin dia suntuk karena setiap hari harus berhadapan dengan laptop dan dokumen." Ucap Aster lalu beranjak dari hadapan Keanu.


"Mumpung anak-anak sedang tidak ada. Bagaimana kalau kita bermain sebentar, lihatlah pisang rajaku sudah mengeras dari ta.." buru-buru Aster menutup mulut Keanu dengan telapak tangannya sebelum dia semakin banyak bicara.


"Ck, tutup mulutmu!!" wanita itu meloti suaminya dan menatap Keanu dengan sebal. "Bagaimana kalau ada yang mendengarnya? Dasar kau ini, aku lelah dan sedikit encok. Jadi lain kali saja!!"


Keanu menghela napas. "Jadi kau tidak mau, nih?" tanyanya memastikan.


Aster menggeleng. "Keluarkan saja sendiri. Bukankah kau memiliki alatnya?" Aster menoleh pada Keanu. Lagi-lagi dia menghela napas


"Tapi itu tidak senikmat milikmu. Sayang, ayolah jangan menolak ku. Bukankah kau tahu sendiri jika aku paling tidak suka di tolak. Jadi kita lakukan , Ya." Rengek Keanu memohon.


Aster menghela napas. Rasanya dia ingin sekali melemparkan bantal ke muka Keanu. Dengan kesal dan terpaksa dia menuruti kemauan suaminya.


"Iya iya iya, tapi jangan merengek seperti bocah. Aku muak mendengarnya!!"


Keanu tersenyum lebar. "Kau memang yang terbaik, Sayang. Aku semakin mencintaimu."


"Dasar menyebalkan!!"


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2