Benih Titipan Tuan Muda

Benih Titipan Tuan Muda
Kami Hanya Berteman


__ADS_3

Suara cicit burung yang bertengger diatas dahan turut meramaikan datangnya hari baru. Membantu membangunkan para insan kelelahan yang masih tertidur pulas, agar tak melewatkan moment Indah pagi ini.


Di sebuah rumah mewah yang memiliki tiga lantai, terlihat seorang wanita cantik baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk yang menutup dada sampai pahanya. Lalu pandangannya tertuju pada sosok tampan yang masih terlelap. Wanita itu menarik sudut bibirnya.


Mengabaikan laki-laki tersebut, dia pergi ke Walk In Closet. Dan tak lama setelah wanita itu pergi, mata si pria terbuka dan memperlihatkan sepasang mutiara berwarna hitam pekat yang tajam dan berbahaya.


Pria itu tak langsung bangun, dan hanya merubah posisinya menjadi duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.


Kemudian dia menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah, kamarnya dalam keadaan kosong dan pintu kamar mandi terbuka, dalam hatinya dia bertanya-tanya kemana perginya wanita itu? Sampai dia mendengar suara pintu kaca itu dibuka, dan derap langkah kaki seseorang berjalan menghampirinya.


Wanita itu berjalan dengan sedikit tertatih-tatih, karena luka di telapak kakinya. "Kau sudah bangun?" tegur wanita itu seraya mendaratkan pantatnya di depan meja rias.


"Apa kakimu masih sakit?" bukannya menjawab Dia malah balik bertanya. Wanita itu mengangguk pelan."Kemarilah, biar aku lihat lukanya,"


Wanita itu pun mengurungkan niatnya untuk memoles wajah cantiknya dengan make up tipis, dia bangkit dari duduknya dan menghampiri pria tersebut. "Lukanya basah lagi, mungkin karena terus-menerus terkena air," ucap laki-laki itu yang pastinya adalah Keanu.


"Aku rasa juga begitu," jawab Aster.


"Biar aku obati, dan sebaiknya mulai sekarang jangan sampai terkena air dulu. Saat mandi, aku akan membantumu atau luka ini tidak akan sembuh lebih cepat!!" tegas Keanu. Dia mengangkat wajahnya dan matanya bersirobok dengan Aster. Membuat wanita itu gugup setengah mati.


Aster pun segera memalingkan wajahnya kearah lain, kemana saja asal jangan bertemu pandang dengan Keanu. "Oya, bagaimana dengan jadwal pertemuan kita dengan dokter kandungan? Apa kau sudah membuat janji dengan dokter itu?" tanya Aster memastikan.


Keanu mengangguk. "Minggu depan dia baru ada waktu, karena saat ini orangnya masih berada di luar negeri," jawabnya.


"Baiklah kalau begitu. Jadi nanti kita bisa sama-sama tahu, yang sebenarnya bermasalah siapa, aku atau kau!! Tapi jika aku rasanya itu tidak mungkin, karena aku sudah pernah memeriksakannya sebanyak dua kali dan hasilnya selalu sama, jika aku normal." Ujarnya.

__ADS_1


Aster memeriksakan tentang kondisinya jauh sebelum dia bertemu dengan Keanu. Dia tidak memiliki maksud apa-apa, aster hanya tidak ingin membuat pasangannya kecewa jika dia sampai menikahi wanita mandul. Tapi syukurlah, karena dia normal.


"Aku juga akan mengobati dan mengganti perban luka di pipimu," ucap Aster lalu menggeser duduknya. Dia berpindah kepangkuan Keanu dengan posisi mengangkang. "Aku pikir hanya luka gores biasa. Ternyata lukanya dalam dan panjang, pasti sakit ya?" Aster mengangkat wajahnya dan mengunci mata hitam Keanu.


Keanu menggeleng. "Tidak sakit sama sekali," jawabnya jujur. Karena luka sekecil itu bukan apa-apa baginya. Aster hanya mengangguk.


"Sebaiknya sekarang kau mandi dulu, nanti saja setelah kau mandi aku obati lukanya. Karena percuma juga diobati sekarang jika harus terkena air," Aster beranjak dari atas pangkuan Keanu lalu duduk disebelahnya.


"Ya, sudah. Aku mandi dulu," ucapnya dan meninggalkan Aster begitu saja.


Aster menatap perban yang membebat kakinya. Luka itu benar-benar menyiksanya, karena luka di telapak kakinya itu, jadinya ia tidak bisa bergerak dengan bebas. Dan rasa ngilunya begitu menyiksa, apalagi ketika berjalan, beh... Rasanya nano-nano.


Ting....


"Aster, sebaiknya kau berhati-hati, karena pria yang kau nikahi adalah orang yang berbahaya!!"


Kurang lebih begitulah isi pesan singkat yang dikirim oleh Hansen padanya. Aster tidak tahu apa maksud Hansen mengatakan itu, tapi yang jelas dia sudah tahu jika Keanu memang orang yang berbahaya.


Alih-alih membalas pesan singkat itu. Aster malah mengabaikannya dan meletakkan ponselnya di tempat semula. Karena jika dia membalasnya, pesan itu pasti akan jadi panjang lebar. Dan Aster sangat malas untuk mengetik.


Bosan di kamar terus, Aster beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah balkon. Wanita itu menutup matanya rapat-rapat dan menghirup udara pagi yang masih sejuk, Aster sangat menyukai udara pagi hari karena masih sejuk dan alami. Terlebih lagi , ketika fajar mulai naik ke kaki langit dan mulai merajai hari. Karena di situ embun-embun pagi masih belum mengering.


"Aster, ponselmu berdering." Seru Keanu dari arah kamar ketika melihat Benda tipis nan canggih itu berkedip di bagian atasnya. Meskipun tau ada panggilan masuk. Tetapi Keanu tidak berani mengangkatnya, karena dia masih tau batasannya.


Aster kemudian berbalik badan, lalu melenggang masuk ke dalam untuk melihat siapa yang menghubunginya. Masih orang yang sama dengan yang mengirimnya pesan singkat, yakni Hansen. "Sudah biarkan saja, tidak penting juga," ucapnya lalu meletakkan kembali ponsel itu ditempat semula.

__ADS_1


Tiba-tiba Keanu terdiam, teringat pada laki-laki yang memeluk Aster di rumah duka. Mungkin ini saatnya dia bertanya padanya tentang pria itu. Siapa dia dan apa hubungannya dengan Aster.


"Aster, ada yang ingin aku tanyakan padamu, dan ini mengenai pria yang memelukmu di rumah duka. Siapa dia? Kalian berdua terlihat sangat dekat, apa dia mantan kekasihmu juga?" tanya Keanu, dia benar-benar penasaran dengan pria itu, terlebih-lebih hubungannya dengan Aster.


"Maksudmu, Hansen. Dia itu bukan mantan kekasihku, tetapi sahabatku. Asal kau tau saja, aku dan Hansen sudah bersahabat sejak kami masih kecil. Dia dan aku adalah teman sepermainan, kemana-mana kami selalu bersama. Karena dia tidak memiliki adik, jadi dia menganggapku seperti adiknya. Dia juga sangat dekat dengan keluargaku, hanya ketika mendengar nenek tiada dia langsung pulang dan meninggalkan pekerjaannya," ujar Aster menjelaskan.


"Tapi yang aku lihat bukan seperti itu. Dia seperti menyukaimu," tanggal Keanu.


Aster menggeleng. "Aku rasa itu tidak mungkin, karena Hansen dan aku benar-benar hanya berteman dan tidak lebih!!" ucapnya menegaskan.


Bohong jika Aster tidak tahu bila Hansen menyukainya. Dari sikapnya saja sudah terlihat jelas jika pemuda itu memiliki perasaan lebih padanya, tapi sayangnya Aster tidak menggubris apalagi menghiraukannya, karena dia tidak ingin memberikan harapan palsu padanya. Karena itu hanya akan melukai perasaan Hansen nantinya.


"Sarapan sudah siap, sebaiknya kita keluar untuk sarapan." Ucap Keanu dan dibalas anggukan oleh Aster.


"Baiklah, kebetulan juga aku sudah sangat lapar." Ucapnya. Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju meja makan.


.


.


Berdasarkan.


.


.

__ADS_1


__ADS_2