
sore ini eza yang baru pulang kantor tanpa sengaja bertemu dengan bara, rasa marah dan sakit hati bercampur menjadi satu kalau tidak mengingat dia sedang berada di tengah keramaian ingin rasanya eza menghajar wajah bara yang sok kegantengan itu
eza memilih untuk pura-pura tidak melihatnya namun sayang bara yang memiliki sifal jahil sengaja menghampiri eza yang hendak pergi
"hai za apa kabar?" sapa bara basi basi
"baik" sahut eza malas
"kabar raya gimana? baik juga kan?" tanya bara
"hhmm" jawab eza singkat
"ya udah salam buat raya ya, gue duluan"
eza tak menjawab ucapan bara entah mengapa meskipun ucapan eza sangat biasa tapi membuat kemarahan eza sampai ke ubun-ubun
bara adalah mantan pacar raya sebelum menikah dengan eza, raya berpacaran dengan bara selama dua tahun namun saat bara berniat untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius dengan raya kedua orang tua bara tidak merestui hubungannya dengan raya karena raya berasal dari keluarga yang sederhana tidak sepadan dengan keluarga bara yang seorang pengusaha yang sangat terkenal di kotanya
berbagai cara bara lakukan untuk mempertahankan hubungannya dengan raya karena selain bara sangat mencintai raya bara lah pria pertama yang mengambil kesucian raya namun hantaman demi hantaman yang di berikan oleh keluarga bara membuat raya mundur teratur dan mengakhiri hubungannya dengan bara meskipun bara tetap pada pendiriannya yaitu ingin mempertahankan raya dan menjadikan raya sebagai istrinya
mungkin memang raya di gariskan bukan menjadi jodoh bara akhirnya bara mulai menerima keputusan raya meskipun sulit
dua tahun setelah hubungannya kandas dengan bara, raya mencoba menjalin hubungan kembali dengan eza awalnya raya takut untuk memulai kembali hubungan dengan seorang pria karena keadaannya saat ini yang sudah tidak utuh raya merasa tidak pantas untuk di miliki oleh pria manapun namun karena kegigihan dan keseriusan eza akhirnya raya luluh hingga raya mau menjalin hubungan dengan eza dan sampai tahap pernikahan namun satu hal yang membuat eza membenci bara adalah eza tidak rela karena bara yang mengambil kesucian raya bukan dirinya
"sial kenapa juga harus ketemu sama bara sia la itu bikin mood gue ancur aja" gerutu eza sambil mengendarai motornya
sedangkan raya saat ini sedang sibuk memasak untuk menyambut kepulangan suami tercintanya mendapat banyak ceramahan dari nenek sukma pasalnya semua yang raya lakukan selalu salah di mata nenek sukma
raya sendiri tak mengerti entah di bagian mana yang salah karena menurutnya cara memasaknya sudah benar sesuai dengan apa yang sudah di ajarkan bunda lena selama ini tapi kenapa nenek sukma terus saja menyalahkan raya atas kesalahan yang sama sekali tidak raya mengerti tidak sampai disitu raya yang hendak mencuci semua perabotan dapur setelsah selesai memasak kembali mendapat omelan dari nenek sukma karena menurut nenek sukma cara mencuci raya itu tidak benar
"kamu itu sebenarnya bisa gak sih masa nyuci perabot dapur aja gak becus sampai banyak sabun gini, boros" omel nenek sukma tepat di hadapan raya
"maaf nek kalau kerjaan raya gak kepake biar nenek aja yang kerjakan" celetuk raya membuat nenek sukma semakin meradang
__ADS_1
"berani kamu ya nyuruh-nyuruh nenek dasar mantu kuranh ajar" bentak nenek sukma membuat raya hampit kehabisan stok sabarnya
"ya Allah bisa di tuker tambah aja gak sih nih nenek tua, ngomel mulu perasaan" batin raya sambil melanjutkan pekerjaannya
"muter kerannya bukan gitu, bisa rusak dong kalau muternya kasar gitu" lagi-lagi nenek sukma menguji kesabaran raya
"maaf nek" ucap raya pasrah
"di rumah kamu gak ada keran kayak gini ya gak berguna banget jadi istri pakai keran kayak gini gak bisa" ketus nenek sukma
"jangankan keran kayak gini nek, raya kalau mandi sama nyuci aja di kali mana tahu pake keran gimana caranya" ucap raya merendah
"pantas saja kampungan" sarkas nenek sukma
"ya lord kalau gak dosa udah gue cekek nih tua bangka" batin raya menggerutu
tak lama terdengar suara motor eza memasuki pekarangan rumah, raya yang berniat menyambut kedatangan suaminya di dahului oleh nenek sukma
raya hanya mengusap dadanya menekan rasa sabarnya yang kian hari kian menipis
"asslamualaikum" ucap eza saat memasuki rumah
"wa'alaikum salam, baru pulang za" sahut nenek sukma
"iya nek" eza menyalami punggung tangan nenek sukma dan melirik ke arah raya yang berjalan dari arah dapur
"eza ke kamar dulu ya nek" pamit eza
"iya"
"eza kenapa kok gak nyapa aku malah langsung masuk kamar" batin raya bertanya-tanya
"kalau suami pulang itu di sambut bukannya diem aja, dasar istri tidak berguna" ucap nenek sukma kepada raya yang berdiri di belakangnya
__ADS_1
"ya Allah bisa gak stok sabar hamba di perbanyak, hamba tidak ingin mati sia-sia karena menahan sabar" keluh raya di dalam hatinya
tanpa menjawab ucapan nenek sukma, raya bergegas menyusul eza yang sudah masuk ke dalam kamar
raya melihat raut wajah eza yang sangat tidak bersahabat seperti sedang menahan amarah
"yank" panggil raya
"hhmmm" jawab eza singkat
"kamu kenapa? ada masalah di kantor?" tanya raya lembut
"gak ada" sahut eza berlalu meninggalkan raya yang masih mematung di dalam kamar
"kenapa dia? kok aneh sih" batin raya
eza masuk ke dalam kamar mandi tanpa memperdulikan raya yang terus mengoceh, mama yeni yang melihat interaksi anak dan menantunya merasa was-was mama yeni takut kalau eza sudah terprovokasi oleh ucapan nenek sukma yang menyebutkan kalau raya bukan istri yang baik untuknya
"ray eza kenapa?" tanya mama yeni
"gak tahu ma pulang kerja mukanya di tekuk gitu" jawab raya
"kamu gak lagi berantem kan dama eza?" tanya mama yeni lagi
"engga ma, aku juga gak ngerti kenapa eza tiba-tiba gitu" jawab raya jujur
"ya sudah lebih baik sekarang kamu siapkan makan untuk eza" titah mama yeni
"iya ma"
eza sudah kembali berpakaian rapi setelah menyelesaikan ritual mandinya, raya mengajak eza untuk makan terlebih dahulu namun tanpa memperdulikan ajakan raya eza berlalu begitu saja menyambar kunci motornya dan pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada raya maupun mama yeni
"ya Allah ada apa lagi ini kenapa hari ini seakan bukan hari keberuntungan buat aku" gumam raya menghela nafas panjang
__ADS_1
setelah kepergian eza raya masuk ke dalam kamar dan mengambil ponselnya yang sejak tadi dia abaikan, raya mencoba mengirimkan pesan kepada eza menanyakan kenapa sikapnya tiba-tiba berubah dingin padahal hubungan mereka saat ini sedang baik-baik saja