
saat raya mau keluar kamar ponselnya kembali berbunyi ada sebuah pesan masuk kedalam ponselnya, raya membuka pesan tersebut dengan raut wajah kecewa dan sedih niat raya ingin memperbaiki hubungannya dengan eza yang semakin merenggang dengan mengajaknya menginap di rumah orang tuanya tapi kenyataannya eza malah sibuk dengan dunianya sendiri, suasana hati raya mendadak gelisah membayangkan sesuatu yang tengah di lakukan oleh eza saat ini dada nya bergemuruh hebat saat dalam pikirannya terlintas eza sedang bersama wanita lain malam ini, hatinya terasa sakit seperti di iris sembilu karena pikirannya sendiri berulang kali raya mengucap kata istigfar untuk menenangkan hatinya sampai suara ketukan pintu ruang tamu membuyarkan lamunannya
ceklek
pintu pun di buka raya semakin kesal melihat raffael yang sedang berdiri dengan wajah tanpa dosanya
raya memilih duduk di teras rumah bersama raffael karena jika membiarkan raffaelmasuk ke dalam rumah malam-malam begini takut ada tetangga yang berpikir macam-macam kepadanya apalagi status raya yang kini sebagai seorang istri
"ada apa?" tanya raya ketus
"jutek amat bu, senyum dikit napa biar manis" raffael sengaja menggoda raya
"gak usah banyak basa basi ini udah malem mau ngomong apa?"
"gue mau ajak lo ke suatu tempat besok lo sibuk gak?"
"kemana?"
"ada deh nanti juga lo tahu sendiri"
"ogah ngapain ikut sama lo kalau gak jelas tujuannya"
"jelas ray"
"iya kemana?"
"ke luar kota ada sedikit pekerjaan yang harus kita selesaikan"
"besok kan hari libur"
"jadwal kerja kita kan bebas ray, mau ya bantuin gue"
"kan ada sekretaris lo ngapain ngajak gue"
__ADS_1
"ya Tuhan raya jutek banget sih, gue punya salah apa sama lo"
"gak nyadar lagi" gumam raya yang masih terdengar oleh raffael
raffael berpikir sejenak mengingat kesalahan apa yang sudah dia lakukan sampai membuat raya jutek setengah mati kepadanya, seingat raffael dia tidak mempunyai salah apa-apa hanya seminggu yang lalu mereka sempat berdebat dan sejak hari itu raffael tidak pernah menemui raya seakan sengaja menghindarinya
"oh **** jadi raya marah sama gue karena gue diemin... tapi tunggu kalau raya marah karena gue cuekin berarti dia.... ah gue gak mau berharap terlalu jauh"
raffael bermonolog di dalam hatinya sambil sesekali tersenyum menggelikan raya melihat tingkah raffael bergidik ngeri, raya takut jika raffael sudah kerasukan setan yang entah dari mana datangnya
"raff lo masih waras kan?" tanya raya menatap curiga
"waras lah lo kira gue udah gila" sarkas raffael
"kalau lo masih waras berarti paham dong kalau lo punya dosa apa sama gue"
"iya sorry... gue gak maksud buat ngehindarin lo kemaren itu gue sibuk di perusahaan bokap karena abang gue lagi ada halangan jadi kerjaan dia gue yang handle" ucap raffael
"gue pikir marah karena perdebatan kita waktu itu"
"gue ijin laki gue dulu tapi"
"ribet banget langsung cabut aja udah"
"gue gak mau jadi istri durhaka raff"
"kayak laki lo paling sholeh aja ray palingan dia gak akan peduli kalau lo minta ijin juga" raffael bergumam
raffael baru sadar jika malam ini raya terlihat begitu sek si dan mempesona dengan balutan dress tidur di atas lutut dengan gaya rambut yang di cepol sembarang membuat jiwa devil raffael ingin memeluk raya dan menge cup ceruk leher raya yang putih mulus tanpa noda, raffael terus menatap raya penuh damba membuat raya merinding melihat tatapan raffael kepadanya
"ngapain lo liatin gue kayak gitu? ngeri tahu" protes raya menatap tajam raffael
"lo nginep disini? laki lo mana?" tanya raffael mengalihkan pembicaraan
__ADS_1
"iya, laki gue lagi lembur" jawab raya sekenanya
"buset weekend gini masih lembur, cepet kaya pasti laki lo" ucap raffael tergelak
"lo ngeledek hah?" sewot raya
"lah siapa yang ngeledek sih emang beneran kan kalau orang yang pekerja keras itu pasti cepet kaya"
"ish nyebelin"
"ya udah deh gue cabut yak, udah malem takut di grebek pak rt"
"nah itu lo tahu kenapa nekat kesini malem-malem cumi"
"urgent ray, besok kabarin gue ya jangan terlalu siang"
"iya bawel"
"oke, gue cabut ya,, see you"
"hati-hati raff"
raffael bergegas meninggalkan kediaman orang tua raya dengan senyum merekah di bibirnya, raffael senang karena hubungannya dengan raya sudah kembali membaik namun satu hal yang membuat raffael resah tentang pertemuan raya besok dengan bara, raffael tidak bisa membayangkan reaksi apa yang akan di berikan raya jika raffael membawa dia untuk bertemu dengan bara bukan untuk melakukan pekerjaan seperti yang raffael ucapkan kepada raya
raffael berharap semoga raya besok bisa meluangkan waktunya meskipun takut akan respon raya, raffael lebih tidak tega melihat kakaknya yang terus mengharapkan kehadiran sang mantan kekasih disaat keadaannya kritis berjuang untuk hidup meskipun harapannya hanya 0,01% untuk bisa sembuh
tanpa sengaja raffael melihat eza dan seorang wanita berhijab yang akan memasuki kawasan apartemen yang cukup elite, eza nampak memeluk pinggang wanita itu dengan mesra lalu masuk ke dalam kawasan aparteman itu dengan saling melempar tawa, raffael mengepalkan tangannya sudah jelas eza telah mengkhianati raya sampai sedalam ini, raffael tidak terima wanita yang sangat dia cintai di sakiti oleh pria yang tidak berguna seperti eza tekad raffael semakin kuat untuk membuat taya dan eza segera bercerai
"muka kayak taplak meja aja banyak gaya lo za, gue sumpahin lo cepet cerai sama raya biar raya bisa nikah sama gue dan hidup bahagia selamanya" ucap raffael yang terdebgar seperti mendoakan
sementara raya yang sudah terbaring di atas tempat tidur sama sekali tidak bisa memejamkan kedua matanya padahal sudah lewat tengah malam, entah apa yang ada di dalam pikiran raya saat ini yang jelas perasaan raya semakin resah jika mengingat eza yang sedang bersama teman-temannya saat ini, raya berusaha untuk percaya dengan ucapan eza tapi hati kecilnya berkata lain dan seperti yang sudah raya dengar dari banyak wanita di luar sana bahwa insting seorang istri itu tidak pernah salah
raya memutuskan untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat malam berharap dengan menumpahkan keresahan hatinya kepada sang maha pencipta raya akan merasa lebih tenang
__ADS_1
"Ya Allah jika memang eza adalah jodoh yang engkau takdirkan untuk menemani hidup hamba sampai akhir hayat hamba tolong buatlah hubungan kami membaik tapi jika eza hanya sebagai tempat untuk sekedar singgah tolong buatlah hubungan kami berkahir dengan cara yang baik, ikhlaskan lah hati hamba untuk menerima takdir apapun yang telah engkau gariskan untuk kehidupan hamba"