
setelah sedikit berdebat dengan sang kakak akhirnya raffael keluar dari kamar bara karena tidak ingin emosinya semakin terpancing, raffael duduk di tepi kolam renang yang ada di halaman belakang villa itu, raffael menghisap rokok yang dia selipkan di antara jari jemarinya memikirkan nasib percintaannya yang bisa mencintai wanita yang sama dengan sang kakak dan lebih mirisnya lagi wanita itu berstatus sebagai istri orang
benar-benar menyedihkan
"kenapa kita terjebak dengan satu wanita yang sama-sama kita cintai bang" ucap raffael dengan nada menyedihkan
"siapa wanita itu raff?"
deg
raffael membeku mendengar suara sang ibunda yang datang di waktu yang tidak tepat, raffael membalikan tubuhnya untuk melihat sang ibu yang sudah berdiri tepat di belakangnya saat ini dengan tatapan mengintimidasi
"mami" guman raffael menatap sang ibu
"siapa wanita itu? apa mami mengenalnya?" tanya mami aruni
"apa sih mi, mami salah denger kali" rlak raffael"
"pendengaran mami masih normal raff, jangan coba-coba sembunyikan apapun dari mami"
"raffa gak nyembunyiin apapun dari mami, mana berani raffa main kucing-kucingan sama ibu negara"
"yakin?"
"yakin mi"
"awas saja kalau kamu sampai ketahuan bohong, mami kirim lagi kamu ke luar negeri"
"ampun mi"
"gimana keadaan abang kamu sekarang?" tanya mami aruni
"lagi ngamuk mi" jawab raffael
"ngamuk???"
"yes"
"kenapa?"
"gak kesampean buat ketemu sama istri orang"
"raya?"
"betul"
"benar-benar anak itu, buang rokokmu raff"
mami aruni langsung menemui bara yang sedang tidak ingin di ganggu di kamarnya, raffael segera membuang rokok yang masih terselip di sela jari jemarinya raffael bisa bernafas lega karena mami aruni percaya jika raffael tidak menyembunyikan apapun dari sang ibu tercinta
sedangkan raya yang saat ini baru sampai di rumah bersiap untuk mendapat kemarahan eza, raya sudah terbiasa mendapat makian dari suaminya itu asalkan jangan memyakiti secara fisik raya masih bertahan namun jika eza nekat melakukan kekerasan dalam rumah tangga, mungkin raya akan berpikir ulang untuk mempertahankan rumah tangganya
"kamu itu mau nya apa ray?" tanya eza saat mereka sudah sampai di kamar
"maksud kamu?" tanya raya balik
__ADS_1
"kamu ngapain pergi ke cafe fahmi sendirian? sengaja mau cari perhatian temen-temen aku disana hah?" sengaja biar temen-temen aku iba sama kamu?"
"kenapa aku harus cari perhatian sama mereka? kenapa juga mereka harus iba sama aku? memangnya aku semenyedihkan itu ya?"
eza diam tak bisa menjawab pertanyaan raya secara tidak langsung eza sudah memberitahu raya apa yang sudah eza ceritakan kepada teman-temannya tentang raya
"kenapa diem aja? kamu udah ngomong apa aja sama temen-temen kamu?" tanya raya lagi
"aa...aku gak ngomong apa-apa"
"yakin?"
"ya"
"jadi kenapa kita harus berdebat sekarang kalau kamu gak ngomong apa-apa sama temen-temen kamu"
"aku cuman gak suka kamu terlalu deket sama temen-temen cowok aku"
"aku juga gak suka kamu selingkuh di belakang aku"
eza kalah telak dengan ucapan raya, dengan senyuman sinisnya raya meninggalkan eza yang masih berdiam diri di dalam kamarnya raya berniat untuk menemui anita karena sudah hampir dua minggu ini raya tidak bertemu dengan adik iparnya meskipun mereka tinggal satu rumah
tok
tok
tok
"nit kakak boleh masuk?" tanya raya dari balik pintu
"masuk aja kak pintunya gak aku kunci"
pintu kamarpun terbukan terlihat anita yang sedang berguking di atas tempat tidur sambik memainkam ponselnya, raya duduk di ujung ranjang menatap anita sambil tersenyum
"lagi sibuk gak? mau ikut kakak jalan-jalan?" ajak raya membuat anita bersorak
"serius? jalan kemana kak ini udah mau jam sepuluh lho?" tanya anita
"justru jalan malem-malem itu bikin adem"
"baiklah... lets go kakak ipar"
raya dan anita berjalan beriringan menuju kamar raya untuk mengambil kunci motor, raya sama sekali tidak peduli dengan eza yang sedang menatap tajam ke arahnya, raya segera mengambil kunci motor dan pergi untuk mendinginkan hati dan kepalanya yang terasa sangat panas
"kita mau kemana kak?" tanya anita setelah keluar dari halaman rumah
"kemana aja yang penting jalan-jalan" jawab anita terkekeh
"kakak kok tumben ngajak aku jalan, malem-malem pulak ada apa?"
"kakak cuman kangen sama adik ipar kakak yang menggemaskan ini"
"ish modus"
raya dan anita sama-sama tergelak begitulah hubungan antara adik ipar di antara mereka tidak ada kecanggungan sama sekali raya sudah menganggap anita seperti adik kandungnya sendiri bukan seperti adik ipar begitupun sebaliknya
__ADS_1
"ada sekoteng, mau gak dek?" tawar raya
"mau kak lumayan buat angetin badan" jawab anita
raya memakirkan motornya di dekat gerobak penjual sekoteng itu, sudah jam sepuluh malam tapi si abang penjual sekoteng itu masih di kerumuni oleh pembeli
raya dan anita duduk di bangku yang sudah di sediakan sampai menunggu antrian berkurang
"kak" panggil anita
"iya...."
"kakak lagi berantem ya sama kak eza?" tanya anita
"sok tahu" raya mencolek hidung mungil anita
"kak aku serius"
"cuman salah paham aja nit bukan masalah besar" elak raya
"apapun yang terjadi kakak jangan pisah ya sama kak eza, nanti nita sama siapa kalau kakak pisah sama kak eza"
"kamu doain kakak buat pisah sama kakak kamu hm" raya sengaja menggoda anita
"buu...kaan gitu kak, aku cuman gak mau kehilangan kakak ipar terbaik kayak kak raya"
"kalaupun kakak pisah sama kakak kamu, kamu masih tetep jadi adik kakak kok"
"kak, jangan ngomong gitu"
belum sempat menjawab ucapan adik iparnya penjual sekoteng itu sudah membawakan dua porsi sekoteng yang sudah di pesan oleh raya, terpaksa anita harus bersabar menunggu penjelasan dari raya tenang maksud ucapan raya yang cukup mengganggu pikiran anita
sementara di rumah eza sedang mondar mandir menunggu kepulangan raya sudah pukul sebelas malam namun raya dan anita belum juga pulang, eza sangat khawatir karena raya pergi berdua saja bersama anita tanpa di dampingi olehnya
eza ke luar dari kamarnya berniat untuk menyusul raya dan anita namun baru saja eza sampai di ruang tamu suara motor yang di kendarai raya sudah terdengar memasuki halaman rumah
eza masuk kembali ke dalam kamar karena tidak ingin katahuan mencemaskan raya
"kak, kakak masih hutang penjelasan sama aku" ucap anita sebelum masuk ke dalam kamarnya
"iya nanti kakak cerita kalau waktunya sudah tepat"
"janji?"
"iya"
setelah anita benar-benar masuk ke dalam kamarnya raya segera masuk ke dalam kamar, saat raya membuka pintu masuk sudah di suguhkan dengan tatapan tajam dari suaminya seakan ingin menerkam raya hidup-hidup
"dari mana?" tanya eza
"jalan-jalan" jawab raya
"emang susah ya kalau jiwa cewek liar keluyuran jam segini masih di anggap biasa-biasa aja"
"maaf"
__ADS_1
"jangan banyak tingkah kamu, kamu mau jadi bahan gunjingan tetangga jam segini masih keluyuran di luar rumah inget ray status kamu sekang itu seorang istri bukan cewek liar kayak dulu yang bebas berkeliaran sampe subuh"
sakit sungguh sakit bahkan lebih dari kata sakit kata-kata yang di ucapkan eza untuk raya, mau bagaimanapun tingkah laku raya di masa lalu eza tidak berhak memakinya dengan kata-kata kasar apalagi sampai melukai perasaan raya, raya berusaha untuk menahan amarahnya untuk tidak kembali berdebat dengan eza karena mau bagaimanapun raya membela diri tetap saja eza menganggap raya sebagai wanita rendah dan liar