
eza yang sejak tadi terus memperhatikan ruang rawat yang di masuki oleh raya merasa sangat penasaran karena terlihat di ruangan itu seperti sedang terjadi sesuatu apalagi eza melihat raya dan raffael masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah yang sangat sedih apalagi ketika papi hendro menggendong mami aruni yang jatuh pingsan kekuar dari ruangan itu semakin penasaran saja yang eza rasakan, eza berjalan mendekati ruangan itu dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana
"permisi sus, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya eza kepada perawat yang kebetulan baru keluar dari ruangan itu
"iya, mau tanya apa pak?" tanya balik suster itu
"apa benar di dalam ruangan ini adalah pak wirya? saya sedang mencari kerabat saya yang sedang di rawat disini tapi sedikit kesulitan mencarinya" tanya eza bohong
"bukan pak disini ruang rawat pak bara namun sayangnya beliau sudah berpulang tiga puluh menit yang lalu"
"innalilahi... ya sudah maaf sudah mengganggu waktunya sus saya akan cari ke bagian informasi saja"
setelah kepergian suster itu eza memberanikan diri untuk mengintip ke dalam ruangan itu, eza membulatkan matanya melihat raya yang sedang memeluk raffael di hadapan seorang pria yang sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit dan bisa dia pastikan itu adalah bara mantan kekasih raya
"breng sek ternyata selama ini kamu masih berhubungan dengan mantan kamu itu raya" ucap eza dengan nada menyentak
raya dan raffael menoleh ke arah sumber suara, raya kaget ketika melihat eza yang sudah berdiri di ambang pintu dengan menatap raya penuh amarah
Raya langsung bangkit dan menghampiri eza yang masih mematung di ambang pintu secepat kilat raya menarik tangan eza untuk keluar dan membawa eza sedikit menjauh dari ruangan itu
"bisa pelanin dikit gak suara kamu? raffael lagi berduka za" ucap raya setengah berbisik
"jadi selama ini kamu diem-dien rawat mantan pacar kamu itu hah?" tuduh eza
"semuanya gak kayak yang kamu pikirin, cuma hari ini aku melihat bara dan naasnya ini adalah hari terkahir bara untuk bernafas"
"bullshit, kamu masih ada perasaan sama mantan yang sudah mengambil kesucian kamu itu kan? kamu mau ngulang lagi masa-masa indah kamu dengan dia hah?sekali mura han tetep aja mura han" cibir eza menatap remeh ke arah raya
"terserah kamu mau nganggap aku mura han, pela cur atau apapun itu aku gak peduli za, tadinya aku berniat untuk memperbaiki hubungan kita tapi ternyata dugaan aku salah kamu emang gak pernah ngehargain aku, kamu selalu menganggap aku rendah dan gak pantes buat jadi istri cowok sempurna kayak kamu" sahut raya menumpahkan amarahnya
__ADS_1
"apa aku bisa berpikir baik-baik aja kalau melihat istri aku sedang berada dengan mantan pacarnya sekalipun mantan kamu udah gak bernyawa? kalau posisinya aku yang kayak gitu kamu terima engga?"
"kamu masih anggap aku sebagai istri kamu? pernah gak kamu bayangin perasaan aku kayak apa saat tahu kamu sedang ber cum bu dengan wanita lain di belakang aku za? kamu tahu gimana sakitnya hati aku saat tidak di perhatikan oleh suami aku sendiri? aku ingin seperti istri-istri di luar sana yang di perhatikan dan di sayangi sama suaminya sendiri" ucap raya dengan suara bergetar menahan tangis
"kamu lihat bekas tamparan kamu ini? kamu lihat bekas cengkraman tangan kamu ini? apa setelahnya kamu tanya gimana keadaan aku? bahkan kamu minta maaf aja engga za kamu lebih memilih bermalam dengan wanita yang bisa ngasih kamu kepuasan dengan cara ber zi na padahal di rumah pun ada seseorang yang bisa kamu sentuh tanpa harus membuat dosa" lanjut raya menunjuk setiap luka di area wajahnya dengan lelehan airmata yang terus jatuh membasahi pipi nya
"kalau masa lalu aku yang menjadi alasan kamu untuk terus nyakitin aku kayak gini, aku milih mundur za karena mau bagaimana pun aku berusaha untuk menjadi lebih baik semuanya hanya sia-sia di mata kamu, kamu tetap menganggap aku wanita mu ra han bahkan mungkin kamu menganggap aku sebagai seorang pe la cur yang sudah menjajakan tubuhku pada semua laki-laki hidung belang"
"jadi mau kamu aku harus gimana sekarang?" tanya eza
"terserah, aku ikutin apapun yang kamu mau"
"dengar baik-baik naraya anastasia sampai kapanpun aku gak akan pernah ngelepasin kamu"
"kamu pertahanin aku cuman bikin aku terluka semakin dalam za, kamu egois"
"terserah, aku tunggu kamu di rumah malam ini"
hati raya semakin sakit melihat sikap eza yang semakin semaunya
raya menghapus airmata nya lalu masuk kembali ke dalam ruangan dimana jenazah bara berada
raffael menatap raya dengan tatapan yang sulit di artikan namun kemudian raffael membawa raya ke dalam dekapannya berusaha untuk membuat perasaan raya menjadi lebih baik setelah pertengkaran dengan eza yang diam-diam raffael lihat dari kejauhan
"ada gue yang selalu ada buat lo ray" ucap raffael mengusap lembut punggung raya
"seharusnya gue yang ngomong kayak gitu raff, saat ini lo yang lebih membutuhkan support dari gue bukan malah sebaliknya" sahut raya
"it's ok... kita sama-sama menguatkan ray"
__ADS_1
***drrtttt
ddrrttt
ddrrrttt***
ponsel raya berdering, raya langsung mengambil ponsel miliknya di dalam tas raya melihat nama mertuanya yang melakukan panggilan telefon
"***hallo ma"
^^^"kamu dimana nak? kenapa semalem gak pulang? mama dan anita telfon kamu berkali-kali tapi tidak kamu jawab" ^^^
"maaf ma semalam raya nginep di rumah bunda, maaf raya lupa ngabarin"
^^^"ya sudah tidak ada apa-apa, malam ini kamu pulang kan?"'^^^
"iya sebentar lagi raya pulang"
^^^"iya mama tunggu, hati-hati di jalan***'"^^^
raya menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas, raya menghela nafas panjang merasa bersyukur karena sang mertua bisa menerima dan menyayanginya meskipun raya tidak tahu itu tulus atau tidak namun setidaknya di perlakukan dengan baik oleh mama yeni membuat raya mempunyai tempat bersandar jika dia dan eza sedang mengalami masalah
raya melihat ada beberapa petugas yang akan mengurus jenazah bara untuk segera di bawa ke rumah duka
sedangkan mami aruni masih terbaring lemah dengan selang infus yang menempel di tangannya
sebelum benar-benar pulang raya membantu raffael untuk mengurus jenazah bara agar secepatnya bisa di bawa pulang dan segera semayamkan di tempat peristirahatan terakhir untuk bara
raya sama sekali tidak pernah menyangka jika hidupnya akan berada dalam fase seperti ini, raya merasakan kehilangan atas kepergian bara untuk selama-lamanya namun bukan berarti raya masih mempunyai rasa cinta untuk bara seperti yang eza tuduhkan
__ADS_1
raya hanya bersikap layaknya seseorang yang masih mempunyai rasa peduli dan hati nurani kepada sesama