Broken Wedding

Broken Wedding
92


__ADS_3

tiga puluh menit berlalu raya sampai di kediaman raffael dan kedua orang tuanya


raya menghembuskan nafas panjang menetralkan perasaannya dan mencoba terlihat baik-baik saja seakan tidak terjadi apa-apa


raya mengambil masakannya yang dia simpan di dalam jok motor dan masuk ke dalam rumah megah milik raffael


raya memencet bel beberapa kali sampai akhirnya bik sumi membukakan pintu rumah untuk raya


"siang bi, raffael ada?" sapa raya saat pintu terbuka kebetulan raya sudah mengenal bik sumi


"non raya, ya Allah non udah lama sekali non gak main kesini. den raffael ada di kamarnya non" sahut bik sumi antusias


"beneran raffael lagi sakit bik?"


"beneran non badannya demam terus menggigil gitu kayaknya meriang"


"raffael udah makan belum?tanya raya


"belum non katanya gak nafsu" jawab bik sumi


"aku pinjem dapurnya boleh? buat manasin ini" raya mengangkat kotak makanan yang di bawanya


"biar bibi saja yang panaskan non"


"gak apa-apa bi biar aku aja"


"om sama tante kemana bi kok sepi?" tanya raya di sela kegiatannya memanaskan masakan yang dia bawa


"tuan sama nyonya lagi ada acara di luar non paling sebentar lagi pulang"


raya menyiapkan masakan yang sudah dia siapkan ke dalam mangkok tak lupa raya juga menyiapkan sepiring nasi dan satu gelas minum air putih untuk di bawa ke kamar raffael


setelah ijin kepada bik sumi raya segera naik ke lantai dua dimana kamar raffael berada


berulang kali raya mengetuk kamar raffael namun tak ada sahutan raya berpikir mungkin raffael sedang tidur


tanpa menunggu jawaban dari dalam kamar raya membuka pintu kamar raffael

__ADS_1


ketika masuk ke dalam kamar raya melihat raffael sedang berdiri di depan jendela sambil menatap ke luar dengan tangannya mengapit sebatang rokok


"yank kok ngerokok bukannya lagi sakit" ucap raya mendekati raffael dan menyimpan makanan yang dia bawa di atas nakas


"lagi pengen aja" jawab raffael ketus membuat raya heran


"kamu abis darimana kok pakaiannya rapi begini? kamu gak bener-bener sakit ya" tanya raya


"mau jemput kamu tapi gak jadi" jawab raffael tanpa merubah posisinya yang membelakangi raya


"kenapa harus jemput segala nanti kalau kenapa-kenapa di jalan gimana? makan dulu yuk kata bibi kamu belum makan"


"gak nafsu" lagi-lagi raffael menjawab dengan ketus


"paksain dong kan biar cepet sembuh"


"bukannya kamu seneng kalau aku sakit" ucap raffael membuat raya menautkan kedua alisnya


"maksud kamu?" tanya raya tak mengerti


"biar kamu bebas ketemuan sama mantan kamu"


"jangan pura-pura be go raya" bentak raffael membalikan tubuhnya dan menatap nyalang ke arah raya


perasaan raya yang memang sedang tidak baik-baik saja merasa sakit hati karena di bentak tiba-tiba oleh raffael, ingin rasanya raya menangis saat itu juga namun sekuat tenaga raya mencoba menahannya raya ingin tahu kenapa raffael sampai bersikap seperti itu kepadanya


"kamu itu kenapa? ngomong ketus, tiba-tiba bentak aku, salah aku apa?" tanya raya menatap raffael


"gak usah pura-pura gak ngerti, udah jelas-jelas kamu janjian kan sama mantan suami breng sek kamu itu sebelum kamu dateng kesini hah? seneng kan kamu abis di ajak balikan sama mantan suami tercinta kamu itu"


"siapa yang sengaja ketemuan, jangan asal nuduh aku aja gak tahu dia tiba-tiba datang ke kantor"


"dia gak akan berani datang kalau bukan kamu yang nyuruh kan? jangan bohong raya"


"kamu gak percaya sama aku?"


"makanya jelaskan biar aku percaya"

__ADS_1


"aku udah jelasin tapi kamu yang gak percaya"


"makanya jangan berbelit-belit, jujur apa susahnya sih hah?" bentak raffael sampai menggebrak nakas dan dengan sengaja membuat makanan yang di bawa oleh raya berhamburan di atas lantai


raya tidak tahu dari mana raffael mengetahui jika raya baru saja bertemu dengan eza sampai membuatnya sampai semarah ini


raya berusaha untuk menahan emosinya agar tidak sama-sama meluap namun melihat raffael yang dengan dengan sengaja menjatuhkan masakan yang raya bawa membuat raya kecewa dan sakit hati, raya merasa jerih payahnya tidak di hargai sama sekali oleh raffael


tanpa di suruh airmata raya jatuh begitu saja, raya merasa sangat lelah dengan semua masalah yang sudah terjadi hari ini


raya berharap dengan bertemu raffael bisa membuatnya merasa tenang namun malah membuat masalah semakin runyam


"kalau kamu emang gak bisa percaya sama aku buat apa hubungan kita di lanjutin" ucap raya dan buru-buru melangkah keluar dari kamar raffael namun raffael mencekal tangannya


"kamu sengaja mau hubungan kita berakhir karena kamu mau balikan sama eza kan, kamu masih cinta sama dia, iya kan?" lagi-lagi raffael membentak raya


"TERSERAH..... aku capek ngadepin sikap kamu yang cemburuan, aku capek ngadepin asumsi orang-orang yang mencemooh karena aku seorang janda, aku udah capek sama semua masalah yang datang tanpa henti..


AKU CAPEK, CAPEK...." teriak raya mengeluarkan emosinya


raya menepis tangan raffael kemudian berlari ke luar kamar raffael


sebisa mungkin raya ingin pergi menjauh dari semua orang, raya ingin sendiri benar-benar ingin sendiri tanpa ada siapapun yang mengganggu dirinya


raya berjalan terburu-buru meninggalkan rumah raffael tanpa memperdulikan panggilan raffael yang berteriak memanggil namanya


"lho non raya mau kemana? baru juga datang?" tanya bik sumi


"aku harus kembali ke kantor bik ada pekerjaan yang belum selesai, aku permisi ya bik" jawab raya terburu-buru karena takut raffael nekad mengejarnya


"hati-hati non" ucap bik sumi melihat raya yang tergesa-gesa


raya mengendarai motornya dengan kecepatan penuh, raya ingin segera pergi menjauh dari raffael sampai tidak bisa di temukan


raffael mengacak rambutnya frustasi merasa menyesal karena sudah membentak raya dan tidak mempercayai ucapan raya, seharusnya raffael bisa bertanya baik-baik tanpa harus menggunakan emosi namun rasa cemburu yang menguasai dirinya membuat dirinya tidak bisa menahan diri


saat jam makan siang tadi raffael memang sudah sampai di parkiran kantor dan berniat untuk menjemput raya di antar oleh supir keluarganya namun saat ingin keluar dari mobilnya raffael melihat raya yang sedang berbicara dengan eza, raffael bisa mendengar semua percakapan raya dan eza karena suara mereka yang cukup kencang namun raffael tidak mendengarkan perbincangan raya dan eza sampai selesai raffael langsung pergi saat mendengar eza yang terang-terangan meminta raya untuk kembali pada eza

__ADS_1


rasa cemburu yang menguasai raffael membuat raffael tidak bisa lagi membendung emosinya dan terjadilah kesalahanpahaman tanpa mau mendengarkan sepenuhnya penjelasan dari mulut raya sendiri


__ADS_2