
di dalam perjalan pulang raya dan eza sama-sama diam tidak ada yang mau memulai perbincangan di antara keduanya bahkan raya enggan untuk sekedar memeluk eza entah kenapa hatinya begitu kesal melihat sikap eza malam ini yang terkesan tidak memperdulikannya
motor eza mulai memasuki halaman rumah namun mereka masih saja bertahan dengan ego mereka masing-masing tidak ada yang mau mengalah
raya turun dari motor dengan sangat hati-hati karena takut kakinya semakin terasa sakit
awalnya eza tampak acuh namun melihat raya yang kesulitan berjalan eza pun merasa tak tega tiba-tiba eza menghampiri raya langsung memunggungi dan berjongkok di hadapan raya
"apa?" tanya raya pura-pura tidak tahu
"naik biar aku gendong" titah eza menepuk punggungnya
raya mengulum senyum melihat eza yang masih perhatian kepadanya
raya langsung naik ke punggung eza dengan perasaan yang berbunga-bunga rasa kesalnya kepada eza menguap begitu saja hanya karena perhatian kecil dari eza
saat masuk ke dalam rumah mama yeni terkejut melihat eza yang tengah menggendong raya
"raya kenapa za?" tanya mama yeni khawatir
"jatoh ma kakinya terkilir" jawab eza melenggang masuk ke dalam kamarnya
"ya Allah kok bisa sampai terkilir" ucap mama yeni
"namanya juga musibah ma"
"ambil air hangat biar mama kompres" titah mama yeni
"gak usah ma tadi udah di kompres kok" tolak raya karena merasa tidak enak hati krpada mama yeni
"ini masih bengkak sayang, cepetan za ambil air hangat"
raya terpaksa tidak membantah keinginan mama mertuanya meskipun merasa tidak enak hati namun raya menghargai perhatian yang di berikan oleh mama yeni, raya bahagia meskipun sikap eza mulai berubah tapi raya bersyukur merasa sangat di sayangi oleh mama mertuanya
eza datang membawa air hangat di dalam baskom dan memberikannya kepada mama yeni
"ma biar aku aja" protesraya
"gak apa-apa biar mama aja"
"maaf ya jadi ngerepotin mama"
"gak repot sayang, kamu jatuh dimana kenapa sampai terkilit begini mana bengkak banget lagi"
"gak sengaja kepleset ma" kilah raya
"lain kali lebih hati-hati ya, kalau besok masih bengkak kayaknya harus di urut lebam juga soalnya pasti kamu bakalan susah jalan"
"disini ada tukang urut gak ma tapi perempuan" tanya raya
"gak ada sayang, mama juga kalau mau di urut suka numpang di rumah om yudi"
__ADS_1
"kalau gitu biar di urut di rumah ayah saja besok, disana ada tukang urut langganan ayah"
"ya sudah sekarang kamu istirhat ya mama belum sholat isya"
"biar eza lanjutin ma" seru eza
eza melanjutkan mengompres kaki raya sampai raya terlelap
ada rasa bersalah di hati eza kala melihat wajah raya yang sedang terlelap, eza mengutuki dirinya yang sampai saat ini belum biasa menerima sepenuhnya tentang kondisi raya meskipun sejak awal raya sudah jujur kepadanya dan sejauh ini raya sudah berhasil mrnjadi istri yang baik untuk eza bisa menerima semua kekurangan eza namun entah mengapa hati eza masih terasa berat untuk menerima semuanya
"maafkan aku ray, maaf" gumam eza mengecup kening raya
*
*
*
*
"yank anterin aku ke rumah bunda ya sekalian kamu berangkat kerja" ucap raya
"iya" sahut eza
"nanti kamu gak lembur kan? bisa jemput aku lagi kan nanti?"
"aku belum tahu nanti aku kabarin, ayok berangkat keburu macet"
"baru sakit gitu aja sudah manja" gerutu nenek sukma
"maaf nek" hanya kata maaf yang bisa terucap dari bibir raya
"pekerjaan rumah tidak akan selesai kalau hanya dengan meminta maaf" sahut nenek sukma ketus
"sudah lah ma raya kan lagi sakit gak harus banyak istirahat biar kakinya cepat sembuh" sahut mama yeni menjadi penengah
"justru kalau terlalu lama diam sakitnya akan susah sembuh"
eza memutuskan untuk segera berangkat karena jika terlalu lama membiarkan nenek sukma terus berbicara pasti akan terjadi percekcokan untuk yang kesekian kalinya
eza dan raya pun pamit kepada mama yeni dan nenek sukma
hanya memerlukan waktu lima belas menit eza dan raya sampai di kediaman ayah burhan dan bunda lena
eza mengantarkan raya sampai ke dalam rumah sekalian menitipkan raya kepada mertuanya
"ayah, bunda eza langsung berangkat takut keburu macet" pamit eza kepada mertuanya setelah mengantarkan raya ke dalam kamar
"lho gak ikut sarapan dulu za?" tanya ayah burhan
"tadi sudah sarapan di rumah yah, eza langsung berangkat aja"
__ADS_1
"ya sudah kalau begitu hati-hati di jalan"
"iya"
eza langsung mengendarai motornya menuju perusahaan tempatnya bekerja
setelah sampai di kantor eza sudah di sambut dengan tatapan tajam oleh dini atasan eza yang merangkap sebagai selingkuhan eza
"semalem kemana?" tanya dini
"di rumah" jawab eza
"bohong, kamu jalan kan sama istri kamu" sentak dini
"itu kamu tahu kenapa harus nanya lagi" jawab eza melenggang masuk ke dalam ruangannya
"kamu bilang mau jaga jarak sama istri kamu tapi kenapa malah semakin dekat" protes dini
"gak usah marah-marah kamu harus bisa terima resiko kalau pacaran sama pria beristri"
"tapi aku cemburu"
"terus aku harus gimana hhmm? langsung cerein raya tanpa ada masalah gitu?"
"ya gak gitu juga"
"ya udah jangan di bahas lagi, nikmati dulu aja waktu kita saat ini raya juga belum tahu kalau aku ada hubungan sama kamu, kamu juga harus ngerti ketika aku di rumah berarti waktu aku buat istri aku"
dini mendengus kesal karena yang dia harapkan eza fokus hanya kepada dirinya namun apalah daya saat ini memang status eza masih sebagai suami orang, dini harus menerima konsekuensinya jika berpacaran dengan eza yang perhatiannya jelas akan terbagi
dini mencoba menurunkan egonya berusaha untuk tetap menjadi wanita penyabar di mata eza, dini tahu apa yang dia lakukan saat ini adalah sebuah kesalahan menjalin hubungan dengan pria beristri dan mempunyai sebagai penghancur rumah tangga orang tapi menolak pesona eza pun dini tak mampu karena dari awal eza kerja di perusahaan itu dini sudah menaruh hati pada eza
siapa yang akan tahu jika dini adalah seorang pelakor karena dilihat secara kasat mata dini seperti wanita sholehah mengenakan hijab dan tidak pernah mengumbar auratnya namun siapa sangka ternyata dini lebih bahaya dari wanita yang selalu berpakaian terbuka dan memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya
"aku kangen" bisik dini memeluk eza dari belakang dan menciumi punggung eza
"jangan mancing-mancing ini di kantor" eza membalikan tubuhnya dan tersenyum nakal menatap dini
"setelah pulang kerja mampir ke rumah aku dulu ya" ucap dini lagi
"mau di kasih apa kalau aku ke rumah kamu" sahut eza tak kalah menggoda
"apapun yang kamu mau" dengan berani dini mengecup bibir eza yang selalu menggoda dirinya
"apa kamu sudah siap buat menyerahkan semuanya padaku malam ini?" bisik eza membalas kecupan dini dan meremas bo kong dini yang mungil
mereka tidak sadar jika ada sepasang mata yang memperhatikan interaksi mereka
andi yang awalnya berniat untuk ke pantry namun dia mengurungkan niatnya karena melihat dini yang ikut masuk ke ruangan eza beruntungnya mereka tidak menutup pintu ruangan itu dengan rapat tentu andi bisa melihat semua yang di lakukan eza dan dini dengan sangat jelas
"cewek munafik penampilan aja alim tapi kelakuan kayak ja lang" gumam andi merasa jijik dengan apa yang sudah di lakukan eza dan dini
__ADS_1