Broken Wedding

Broken Wedding
34


__ADS_3

"gue tunggu di parkiran"


raffael mengirimkan pesan kepada raya agar menghampirinya di parkiran, saat ini memang waktunya jam pulang kantor raffael yang niat awalnya ingin lembur mengurungkan niatnya karena ada sesuatu hal yang ingin dia bicarakan dengan raya


^^^"gue di jemput laki gue, ada apa?"^^^


"sebentar doang gue tunggu sekarang"


tanpa membalas kembali pesan yang dari raffael, raya segera menghampiri sahabatnya itu


raffael bersandar di atas kap mobil dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya jari jemari lentiknya fokus memainkan ponsel yang dia genggam menambah kadar ketampanan raffael membuat raya tak henti menatap raffael tak bisa di pungkiri jika raya terpesona dengan raffael yang terlihat lebih tampan dari sebelumnya


"ada apa?" tanya raya saat sudah berdiri d hadapan raffael


"ikut gue" ajak raffael masuk ke dalak mobilnya


"mau kemana dulu, eza bentar lagi jemput gue raff"


"takut banget sih kalau si eza itu marah, gue cuman mau ngomong sesuatu sama lo ribet banget"


"ya udah, jadi lo mau ngomong apa?" raya menatap manik mata berwarna coklat milik raffael


"mau sampai kapan ray?" tanya raffael serius


"apanya?" tanya raya balik


"lo diem aja meskipun di sakitin sama laki lo?"


"maksud lo?"


"gak usah pura-pura gak ngerti apa yang gue omongin, gue tahu lo cukup cerdas buat langsung paham inti dari omongan gue"


"lo tahu?" tanya raya


"gue punya mata masih bisa ngeliat dengan baik, gue masih punya telinga buat ngedenger apapun dengan jelas. so.... apa yang buat lo bertahan?"


"jangan kasih pertanyaan yang sulit buat gue jawab"


"apanya yang sulit? gue gak nyuruh lo buat lari keliling kantor kan?"


"raff please ngertiin gue?"

__ADS_1


"ngertiin karena lo terus di sakitin? ngertiin karena lo rela jadi cewek be go karena rasa cinta lo yang gak di anggep? gue harus ngertiin lo sampai mana lagi ray? apa lo belum puas di sakitin sama abang gue dulu hah? apa sih yang lo cari sebenarnya dalam pernikahan lo sendiri ray?"


"raff....."


"gue peduli ray sama lo, gue sakit ngeliat lo nangis, gue terluka ngeliat lo kesakitan kayak gini, kenapa lo terus bertahan kalau lo sendiri tahu lo yang paling tersakiti dalam hubungan lo sama eza, sadar ray eza bukan suami yang baik buat lo"


"lo nyuruh gue kesini cuman mau marah-marah?, mau nyalahin gue? apa sih salah gue sama lo raff? gue cuman mau mertahanin pernikahan gue selagi gue bisa, gue mau eza sadar kalau gak ada wanita yang lebih baik dari gue, cuman itu apa gue salah hah?" sentak raya dengan airmata yang sudah membasahi pipinya


"gue tahu gue be go karena pertahanin orang yang udah jelas-jelas nyakitin gue tapi gue disini cuman mau nyelamatin rumah tangga gue, gue gak mau gagal raff gimana perasaan ayah sama bunda kalau anaknya gagal dalam berumah tangga? udah cukup ayah sama bunda stres mikirin masalah kak rezky, gue gak mau nambah beban mereka raff ngertiin gue untuk kali ini aja" lanjut raya


"oke gue ngerti sorry kalau gue ikut campur masalah pribadi lo terlalu dalam, anggep aja omongan gue yang barusan sebagai angin lalu, silahkan kalau lo mau nemuin laki lo"


raffael memalingkan wajahnya menyembunyikan rasa kecewa atas ucapan raya yang cukup melukai perasaannya, mungkin raya memang secinta itu kepada eza sampai eza melakukan kesalahan yang cukup fatal pun raya masih berbesar hati untuk menerima pernikahannya yang sudah berada di ambang kehancuran


raya keluar begitu saja dari mobil raffael tanpa permisi membuat raffael semakin kecewa atas sikap raya


"kak raya di cari kak eza tuh" tunjuk tari ke arah eza yang duduk di atas motornya


"aku duluan ya tar" pamit raya


"kak raya jangan sedih ya, aku selalu ada buat kakak" ucap tari membuat raya terharu


"makasih ya, aku janji akan baik-baik aja"


"janji"


"oke, hati-hati kak"


raya mengangguk sambil tersenyum dan berjalan menghampiri eza yang sedang menunggunya, bayangan ketika eza bermesraan dengan wanita di cafe siang tadi berputar-putar di dalam pikiran raya kala melihat eza tersenyum ke arahnya, rasa sesak semakin menyeruak masuk ke dalam relung hati raya


sekuat tenaga raya menahan agar airmatanya tidak keluar di hadapan eza, raya tidak mau sampai eza mengira kalau raya adalah wanita yang lemah dan cengeng


"mampir ke cafe fahmi dulu ya" ajak eza


"iya" sahut raya lesu


"kenapa kok kayak yang gak semangat gitu?" tanya eza


"capek" jawab raya singkat


"apa mau langsung pulang aja?"

__ADS_1


"mampir dulu aja sekalian aku mau beli charger"


"ok"


eza langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang, raya meminta untuk mampir ke sebuah counter ponsel sebelum ke cafe fahmi, eza mengernyitkan keningnya saat raya meminta berhenti di salah satu counter ponsel paling terkenal dan paling besar di daerah itu


"kamu mau beli handphone baru?" tanya eza


"mau beli charger" jawab raya


"beli charger kan bisa di counter pinggir jalan"


"aku mau nya disini"


"tapi kamu yang bayar ya pasti mahal banget harga charger disini"


"tenang aja aku gak akan minta bayarin sama kamu, uang aku juga gak bakalan langsung abis kalu cuman beli charger doang" sindir raya


"bukannya uang aku takut abis tapi kan kamu abis gajian sekali-kali beli keperluan kamu pake uang kamu sendiri kan gak apa-apa"


"hhmm"


raya tidak ingin banyak bicara kali ini tenaganya sudah banyak terkuras selain lelah mengurus pekerjaan yang menumpuk raya juga merasakan batinnya teramat sangat lelah raya takut mentalnya semakin melemah kalau harus kembali berdebat dengan eza


"temani aku cari jaket dulu ya" pinta eza


"jaket buat siapa?" tanya raya


"buat aku lah buat siapa lagi"


raya tersenyum miris mendengar ucapan eza, bagaimana bisa eza memetingkan keinginannya sendiri sedangkan raya yang statusnya masih sebagai istrinya di biarkan menafkahi dirinya sendiri


dari semenjak menikah eza hanya memberi nafkah selama satu bulan pertama pernikahan mereka, karena raya sudah bekerja kembali eza langsung berhenti untuk menafkahi raya dengan alasan raya bekerja dan menghasilkan uang sendiri, menurut eza, raya tidak butuh lagi di nafkahi olehnya


benar-benar suami durjana


"cuman beli buat kamu doang aku gak di beliin?" tanya raya


"kamu beli sendiri lah kan baru gajian, gaji kamu aja leboh besar dari gaji aku"


"luar biasa"

__ADS_1


raya bertepuk tangan menertawakan nasibnya sendiri status saja sebagai istri tapi tidak mendapatkan haknya sebagai seorang istri, pernikahan yang raya harapkan ternyata malah menjadikan raya terpenjara dalam rasa sakit yang tak berkesudahan


ingin menyerah sudah pasti tapi kembali lagi dengan rasa cintanya yang begitu besar kepada eza membuat raya berulang kali berpikir untuk berpisah dengan pria yang sangat dia cintai itu


__ADS_2