
raffael sedang duduk di depan mami aruni yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit
raffael memandangi wajah paruh baya mami aruni namun masih terlihat cantik, terlihat raut kesedihan yang begitu kentara di wajah mami aruni, raffael menggenggam lembut tangan mama aruni dan mengecupnya penuh kasih sayang
hati raffael sakit melihat kesehatan mami aruni yang menurun setelah kepergian bara, raffael ingin mengembalikan mami aruni yang ceria seperti dulu
"mi gak pegel nutup mata terus? aku aja yang nungguin mami pegel lho ini" canda raffael berharap mami aruni akan mendengarnya
"mi semalem aku nginep lho sama raya di apartemen tapi sumpah aku gak ngelakuin apa-apa, aku seneng banget bisa semakin deket sama raya
boleh gak sih mi kalau aku jadi pebinor? rasanya cinta aku udah mentok cuma buat raya doang" lanjut raffael konyol namun tetap saja mami aruni belum juga sadar dari pingsannya
saat raffael ingin melanjutkan lagi ucapannya tiba-tiba ponselnya berbunyi melihat nama raya yang melakukan panggilan telfon, dengan senyum yang mengembang sempurna raffael langsung menjawab telfon dari raya
"kenapa ray?
"lo dimana?"
"masih di rumah sakit, kenapa lo udah mau pulang?"
"ada yang mau gue omongin sama lo, penting"
"ya udah ngomong aja sih"
raya menceritakan tentang tawaran yang di berikan oleh ceo dari royale hotel untuk menjadikan bintang tamu dalam acara pergantian malam tahun baru nanti, raya hanya ingin memastikan apakah benar tawaran itu berhubungan dengan pekerjaannya dan sudah mendapat persetujuan dari raffael dan haris, raffael menjelaskan semuanya meskipun ada sesikit kebohongan agar raya mau menyetujui permintaan pak satya sang ceo royale hotel
mami aruni yang memang sudah sadar sejak tadi diam-diam mendengarkan percakapan raffael dengan raya meskipun tidak bisa mendengar lebih detail apa yang raffael dan raya bicarakan mami aruni sangat tahu bahwa yang menelfon raffael adalah raya, wanita satu-satunya yang raffael cintai
raffael menutup panggilan telefon itu setelah mastikan raya tidak akan berubah pikiran dan meminta maaf jika sore ini tidak bisa mengantar raya pulang karena kondisi mami aruni belum bisa untuk di tinggalkan
"kenapa rasanya kayak di telfon istri yang.lagi minta ijin ya, ah happy banget gue" gumam raffael tersenyum
"ehemmmm" suara deheman mami aruni membuat raffael terkejut
"mami udah siuman?" tanya raffael yang duduk kembali di samping mami aruni
__ADS_1
"sudah dari tadi, kamu kenapa senyum-senyum gak jelas kayak orang gila" tanya balik mami aruni
"di telfon pujaam hati mi" jawab raffael terkikik
"raya maksud kamu?" selidik mami aruni
"that's true, mami sangat tahu wanita yang aku mau cuma naraya anstasia"
"fael raya masih istri orang, kamu gak ada niatan buat jadi pebinor kan sayang?"
"jadi pebinor kalau tujuannya baik kan gak akan dosa mi, mami tahu sendiri kondisi rumah tangga raya seperti apa"
"memangnya kamu yakin kalau raya mau cerai sama suaminya?"
"aku yang akan bikin mereka cerai kalau si curut itu gak mau cerein raya"
"ya Tuhan fael, biarin mereka menyelesaikan permasalahan rumah tangga mereka dulu jangan ikut campur setidak tunggu raya sampai resmi bercerai kalau memang mereka akan bercerai"
"mami doain dong raya dan si kam pret itu bakalan cepet cerai"
"ternyata cinta benar-benar membuat kamu kehilangan kewarasan kamu raffael"
"mami ngerjain aku?" tuduh raffael
"ngerjain apa?" elak mami aruni
"mami gak bener-bener sakit kan?"
"memangnya siapa yang sakit? mami cuma pingsan, orang pingsan kan belum tentu sakit"
"MAMIIIIIIIIII............."
*
*
__ADS_1
*
*
setelah pertengkaran antara raya dan eza tempo hari hubungan di antara keduanya semakin rumit, eza sama sekali tidak peduli lagi dengan raya yang saat ini masih berstatus sebagai istri sah nya jangankan menanyakan kabar sekedar minta maaf pun eza tidak melakukannya
saat ini raya sudah terbiasa dengan kehidupannya yang berstatus sebagai seorang istri namun terasa seperti seorang janda, raya sudah tidak peduli lagi eza mau berbuat apapun bahkan jika eza manganggap dirinya sudah mati pun raya tidak akan peduli sama sekali
raya akan tetap menjalani hidupnya sebagai mana mestinya biarlah permasalahan rumah tangganya bersama eza berjalan seperti ini adanya jika memang eza ingin menceraikan raya saat ini juga, raya akan berusaha ikhlas jika memang perceraian adalah jalan terbaik untuk keduanya
namun berbeda dengan bunda lena dan ayah burhan yang merasa ada yang tidak beres dengan pernikahan raya dan eza karena semenjak raya memutuskan untuk kembali tinggal di rumah mereka, eza sama sekali tidak pernah ikut menginap disana bahkan mengunjungi raya saja tidak pernah
"ray bisa ikut bunda sebentar nak, ayah dan bunda mau bicara" ucap bunda lena
"iya bun"
raya mengekori bunda lena berjalan ke teras belakang rumah, disana sudah ada ayah burhan yang sudah menunggu mereka dengan secangkir teh hangat dalam genggamannya
"kapan kamu pulang nak?" tanya ayah burhan
"tadi sore yah, maaf akhir-akhir ini raya jarang ada di rumah raya sering nginep di rumah tere" sahut raya menundukan wajahnya takut jika sang ayah akan memarahinya
"ayah tidak masalah jika kamu menginap di rumah tere asalkan tidak berbuat hal yang merugikan diri kamu sendiri tapi kamu harus ingat nak kamu masih berstatus sebagai seorang istri tidak baik jika seorang istri menginap di rumah orang lain dan meninggalkan suaminya"
"maaf ayah"
"ayah tidak butuh maaf dari kamu, kamu harusnya meminta maaf pada suami kamu"
"tapi ayah...." ucap raya tertahan
"tapi apa? kamu ada masalah dengan suami kamu? kenapa eza tidak pernah ikut menginap disini? bahkan mengunjungi kamu saja tidak pernah"
raya semakin menundukan wajahnya mendengar pertanyaan sang ayah
sampai saat ini raya memang belum cerita apapun tentang kondisi rumah tangganya kepada ayah burhan maupun bunda lena
__ADS_1
raya takut jika raya menceritakan permasalahan yang kini sedang menimpa pernikahannya malah akan menjadi beban bagi ayah burhan dan bunda lena, raya berniat akan meneceritakan semuanya jija dia sendiri sudah menemukan jalan keluar terbaik untuk permasalahan rumah tangganya
"jika memang kamu ada masalah dengan suami kamu, segera selesaikan nak jangan membuat masalah semakin berlarut-larut. ayah dan bunda tidak akan memaksa jika memang kamu belum siap untuk bercerita, kamu anak ayah yang paling kuat ayah yakin kamu bisa menyelesaikan masalah kamu tapi jika kamu sudah merasa tidak sanggup dan ingin menyerah ayah dan bunda sangat siap menerima kamu kembali untuk pulang ke rumah ini nak"