
raffael menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan raya termasuk tentang eza yang datang ke kantor menemui raya untuk meminta maaf dan meminta raya untuk memberikan kesempatan kedua untuk eza
raffael juga meminta karena rasa cemburunya yang berlebihan membuat raya benar-benar marah dan nekad pergi ke semarang dengan membohongi ayah burhan dan bunda lena
"raya memang benar-benar keras kepala nak raffael susah sekali untuk di bujuk, maaf jika sifat raya membuat nak raffael repot" ucap ayah burhan
"tidak ayah justru karena rasa cemburu aku yang berlebihan membuat raya benar-benar marah karena tidak mendengarkan penjelasan dari raya sampai selesai makanya dia nekad pergi" sahut raffael merasa tidak enak hati kepada ayah burhan dan bunda lena
"lalu tanggapan raya tentang eza gimana?" tanya bunda lena
"itu dia yang aku belum tahu tapi dari cctv yang aku liat sepertinya raya menolak permintaan eza karena raya sempat membanting ponselnya pas lagi ngomong sama eza" jawab raffael sambil memperlihatkan ponsel raya yang sudah hancur berantakan
"ya Allah raya pantes saja susah di hubungi" gumam ayah burhan
"jadi rencana kamu apa nak raffael?" tanya ayah burhan
dengan serius raffael menceritakan semua niatnya dengan melibatkan ayah burhan, bunda lena dan kedua orang tua raffael untuk kali ini raffael tidak ingin bersantai-santai lagi dan tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi apalagi jika mengingat eza yang tiba-tiba datang lagi dan meminta raya kembali, raffael takut jika rasa yang sudah mati-matian raya hilangkan untuk eza kini muncul kembali
"bunda sama ayah setuju kan?" tanya raffael setelah selesai membicarakan keinginannya
"kamu serius nak?" tanya balik ayah burhan
"sangat serius yah" jawab raffael yakin
"baiklah ayah sama bunda setuju kalau begitu" seru bunda lena antusias
"aku akan menyiapkan semuanya dulu nanti kalau sudah siap aku kabarin ayah dan bunda lagi, aku permisi ya bun, yah"
"semoga semuanya di lancarkan dan tidak ada halangan apapun" ucap ayah burhan
"Aamiin... aku pamit yah, bun" raffael mencium punggung tangan ayah burhan dan bunda lena secara bergantian
__ADS_1
"hati-hati nak"
setelah sampai di rumahnya raffael langsung menyampaikan keinginannya kepada mami aruni dan papi hendri yang tadi juga sempat di bicarakan dengan ayah burhan dan bunda lena
papi hendro sedikit terkejut mendengar keinginan raffael yang terkesan sangat tiba-tiba dan tak pernah terpikirkan olehnya saat ini berbeda dengab respon mami aruni yang memang sidah sangat hafal dengan sifat anak bungsunya itu jika sedang menginginkan sesuatu apapun akan raffael lakukan agar keinginannya itu bisa tercapai apalagi jika menyangkut tentang raya
"apa kamu yakin fael?" tanya papi hendro
"sangat yakin pi, papi sama mami mau kan bantuin aku?"
"kapan rencananya?"
"lusa pi"
"papi lihat jadwal papi dulu"
"pi please luangin waktu sehari atau dua hari saja, aku gak ingin buang-buang waktu lagi" mohon raffael
"aku janji akan fokus di perusahaan kita"
"lalu perusahaan EO kamu itu?"
"biar raya nanti yang ngurus"
"oke... papi setuju siapkan semuanya jangan sampai membuat raya kecewa lagi" ucap papi hendro menepuk pundak raffael
"ingat pesan mami rubah sedikit demi sedikit sikap kamu kalau ingin hubungan kalian bertahan lama dan satu lagi fael pergilah berziarah ke makam abang kamu, minta ijinlah dengan benar karena kamu sudah lancang mencintai raya dan berniat menjadikannya istri kamu" timpal mami aruni
"iya mi besok aku akan berziarah ke makam abang, mami temenin ya"
"iya, sekarang kamu istirahat sana sudah malam"
__ADS_1
raffael benar-benar bahagia niat ya di sambut baik oleh kedua orang tuanya dan kedua orang tua raya, sebelum benar-benar tidur raffael menelfon salah satu temannya yang berada di semarang, raffael akan meminta bantuan temannya itu untuk membantu melancarkan niatnya, setelah semua yang dia inginkan telah dia sampaikan kepada temannya itu raffael pun tertidur karena memang hari ini lumayan menguras tenaga dan pikirannya
keesokan harinya raffael sudah bersiap untuk berziarah ke makam bara bersama mami aruni, raffael terlihat sangat tampan dengan pakaiam serba hitam serta kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung, begitupun dengan mami aruni yang terlihat sangat cantik dengan gamis berwarna senada dengan yang raffael kenakan, papi hendro tidak bisa ikut bersama mereka karena ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan penting sebelum berangkat ke semarang
"assalamualaikum abang... fael sama mami dateng" ucap raffael mengusap nisan yang bertuliskan nama nara dan mengecupnya penuh kasih sayang
"mami kangen nak" isak mami aruni yang tidak bisa membendung lagi airmatanya
"bang fael minta jika fael tanpa sengaja membuat abang kecewa tapi fael tidak bisa menahan lagi kalau fael sangat mencintai raya, wanita yang sama-sama kita cintai sejak dulu bang" raffael menjeda ucapannya sambil menahan rasa sesak di dadanya
"ikhlasin fael buat menikah dengan raya ya bang, fael janji akan membahagiakan raya yang belum sempat abang lakukan dulu... fael sangat mencintai raya, fael gak sanggup kalau harus kehilangan raya untuk yang kesekian kalinya... fael sayang sama abang, abang yang tenang ya disana" lagi-lagi raffael mengusap lembut nisan milik sang kakak dengan buliran airmata keluar dari ujung matanya
"abang sekarang pasti udah bahagia disana, abang udah gak ngerasa sakit lagi... mami, papi dan raffael sudah mengikhlaskan abang ya tenang ya bang disana... abang akan selalu ada di hati kita semua sampai kapanpun... mami sama papi sayang sekali sama abang" mami aruni juga mengusap nisan bara dan mengecupnya penuh kasih sayang
mami aruni dan raffael mampir ke sebuah restoran untuk makan terlebih dahulu karena tadi pagi tidak sempat sarapan saat akan berziarah ke makam bara
mami aruni sengaja memesan makan kesukaan bara untuk meluapkan rasa rindunya kepada anak sulungnya itu dan raffael bisa menangkap apa yang di rasakan oleh mami aruni saat ini
"ikhlas ya mi" ucap raffael menggenggam tangan mami aruni dan memeluk erat mami aruni yang sedang terisak
"mami ikhlas fael, mami hanya rindu" sahut mami aruni semakin terisak di pelukan raffael
raffael hanya mengusap-usap pundak mami aruni seolah memberi kekuatan kepada sang mami, memang hal yang paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang sudah tidak ada lagi bersama kita, raffael pun sama merindukan bara lebih dari apapun namun raffael selalu berhasil menyembunyikan itu dari hadapan mami aruni dan papi hendro
"mami tenang aja setelah aku nikah sama raya, aku akan kasih mami sama papi cucu yang banyak biar mami sama papi gak kesepian lagi" raffael mencoba menghibur mami aruni dan sukses membuat mami aruni tersenyum
"bener ya, mami mau cucu yang banyak biar mami pamerin ke temen-temen arisan mami" sahut mami aruni yang sudah merasa lebih baik
"mami kok niatnya gitu? memangnya cucu mami nanti itu perhiasan pake di pamerin segala" cebik raffael
"habisnya mami suka kesal kalau temen-temen arisan mami pada bangga-banggain mantu sama cucu mereka sedangkan mami cuma bisa diem karena kamu belum nikah"
__ADS_1
"sebentar lagi, sabar ya mamiku sayang"