Broken Wedding

Broken Wedding
82


__ADS_3

"salma panggilkan raya ke ruangan saya" ucap raffael lewat sambungan telfon


"apa ada yang bapak butuhkan biar saya saja yang siapkan pak" tawar salma


"saya hanya butuh raya, banyak laporan yang harus dia perbaiki sebelum jam makan siang" titah raffael tegas


"ba...baik pak"


salma pergi ke ruangan raya dengan menghentakan kakinya karena kesal tidak berhasil membujuk raffael dengan perhatiannya


"raya kamu di panggil ke ruangan pak raffael sekarang" ucap salma ketus


"ada apa ya mbak" tanya raya


"mana saya tahu, makanya kerja itu yang bener jangan cuma bisanya cari muka doang" sungut salma


raya mendelik mendengar ucapan salma yang seperti merendahkan raya padahal dia sendiri yang selalu cari muka kepada raffael agar mendapat perhatian lebih dari sang ceo namun sayangnya raffael tidak pernah tertarik dengan wanita manapun hanya raya seorang yang mampu mengalihkan dunia seorang raffael wicaksono


tok... tok.... tok....


"masuk" seru raffael dari balik pintu


grepppp


betapa terkejutnya raya saat masuk ke dalam ruangan raffael tiba-tiba mendapat serangan dadakan dari sang bos


"ya Allah raffael bisa kalem sedikit gak sih bikin kaget aja" sungut raya


"kangen sayang" rengek raffael memeluk raya begitu manja


"baru tadi pagi ketemu masa udah kangen lagi" raya membiarkan raffael terus memeluk tubuhnya dari belakang dan mencium aroma khas tubuh raya yang membuat raffael tergila-gila


"pengen sama-sama terus gak mau jauh" lagi-lagi raffael merengek seperti anak kecil


"masa kelakuan bos kayak gini sih, nanti ketahuan yang lain gak enak raff"


"gak akan ada yang berani masuk sini sayang" raffael mulai mengendus leher putih raya membuat bulu kuduk raya meremang


"kenapa jadi mesyum gini sih" protes raya


"mesyum sama calon istri emang gak boleh" raffael mencebikan bibirnya


"tapi ini masih jam kerja, profesioanal dong"


"i'm the owner honey" bisik raffael terus menggerayangi setiap lekukan tubuh raya penuh damba


"tangannya bisa diem gak?" kesal raya mencubit lengan kekar raffael yang terus menjelajahi dua bukit kembar miliknya


"haus yang pengen nyuusu" sahut raffael tanpa dosa


"haus itu minum bukan nyusuu" sentak raya


"tapi aku mau ini" raffael semakin mere mas kuat dua bukit sintal milik raya membuat raya melenguh di tengah kekesalannya


"raffael aku marah ya" bentak raya membalikan tubuhnya dan menatap raffael dengan tatapan begitu tajam


"jangan marah-marah sayang aku becanda"

__ADS_1


cup


raffael mencium kening, pipi dan terakhir melu mat bibir raya yang sejak tadi mengomel tidak jelas


raya masih enggan meladeni sikap raffael yang semakin hari semakin menjadi-jadi, semenjak mereka resmi berpacaran raffael jadi semakin berani untuk men ja mah tubuh raya tanpa ada rasa canggung sedikitpun berbeda dengan raya yang harus menyesuaikan perubahan status mereka dari yang hanya sebagai sahabat dan sekarang menjadi sepasang kekasih


"apa sih ngeliatin aku gitu banget" ucap raffael


"kamu kan yang nyuruh haris buat mata-matain aku di ruangan?" tuduh raya


"ngapain harus nyuruh orang lain kalau aku sendiri bisa lakuin"


"serius ih"


"aku lebih serius lagi"


"tapi tadi buktinya dia negor aku sama tari pas aku lagi ngobrol, sekarang tari langsung di panggil ke ruangannya"


"itu cuma alesan dia doang sebenernya dia pengen deket-deket sama tari sama kayak aku sama kamu gini"


"maksud kamu apa sih?"


"memangnya kamu gak tahu kalau tari sama haris pacaran"


"serius" mata raya melotot ke arah raffael


"biasa aja matanya gak usah melotot gitu"


"sejak kapan?"


"kamu tanya sendiri aja sama orangnya"


"eitsss tunggu dulu" raffael menarik tangan raya dan berakhir raya duduk di pangkuannya


"give me a kiss honey, please" rengek raffael dengan memonyongkan bibirnya


"modus" raya menekan kening raffael


"ayo sayang biar semangat kerjanya" pinta raffael


cup... cup.... cup


raya mencium kening, kedua pipi raffael dan terakhir sedikit melu mat bibir raffael dengan gemas


"udah"


"one more please"


"ngelunjak ya"


raffael langsung membungkan bibir raya dengan ra kus, menye sap dan me ***** bibir sang kekasih penuh gai rah


raya yang tidak bisa menolak has rat dalam dirinya yang sama-sama menginginkan sen tu han raffael juga ikut membalas ciu man pa nas raffael tak kalah brutal


suara khas decapan saling bersahutan di dalam ruangan yang kedap suara itu, kemeja raya yang sudah berantakan dan kancing teratasnya sudah terbuka sama sekali tak di hiraukan raffael, saat ini raffael ingin menuntaskan has ratnya untuk menjelajahi dua bukit kembar milik raya yang sudah menjadi mainan favoritnya


"sayang su su kamu ge de banget aku suka" bisik raffael terus me re mas dua bu kit sintal milik raya penuh naf su

__ADS_1


"aaahhhhh raff" de sah raya semakin menggila saat raffael me milin dan memainkan pu ting raya


"nyu su bentar boleh?" bisik raffael dan mendapat anggukan kepala dari raya


raya semakin menggelinjang seperti tersengat aliran listrik ribuan volt kala mulut raffael begitu li ncah bermain di area pa yu daranya, raffael terus menye sap dan menggigit kecil pa yu da ra milik raya seperti seorang bayi yang sedang kehausan


"aaaaahhhhhhhh......" lagi-lagi suara de sahan raya keluar dari bibir mungilnya


"men de sah sayang, aku suka dengernya sek si banget"


tok....tok.... tok....


"pak raffael sepuluh menit lagi meeting segera di mulai" teriak salma begitu kencang karena sudah beberapa kali mengetuk pintu tidak mendapat balasan sama sekali


raya yang kaget dengan suara ketukan pintu mendorong kasar tubuh raffael sampai raffael nyaris terjengkang


"sayang kasar banget sih maennya" ke sal raffael karena gai rahnya belum tersalurkan sepenuhnya


"ada yang ngetuk pintu raff, buka sana" titah raya dengan wajah cemas


"nanggung sayang masih pengen ini" raffael kembali mere mas pa yu dara raya yang belum terbungkus kembali


"jangan gila deh, ayok buka dulu pintunya aku ke kamar mandi dulu"


"tapi nanti lanjutin di apartemen ya"


"gak janji"


"sayang kamu tega nyiksa aku kayak gini"


"halalin dulu baru aku kasih yang ekstra hot" bisik raya membuat raffael menyunggingkan senyumnya


"awas ya kalau aku halalin tapi kamunya malah kabur"


"udah buruan buka dulu pintunya nanti sekretaris kamu ngamuk"


"iya.... iya"


setelah membereskan kekacauan di atas meja kerjanya Raffael membuka kunci ruangannya dengan remote control yang sengaja dia setel sendiri semenjak berpacaran dengan raya entah kenapa semenjak berpacaran dengan raya, isi otak raffael berubah jadi semakin mesyum jika berdekatan dengan raya selalu saja otaknya berfantasi liar dengan tu buh sek si raya bukan semata hanya karena hawa naf su raffael saja mungkin karena raffael sudah menahan semua perasaannya sejak dulu kepada raya sampai saat ini dia bisa memiliki raya seperti keinginannya, raffael tidak akan melepaskan raya barang sedetikpun


"anda baik-baik saja pak?" tanya salma melihat rambut raffael yang sedikit berantakan


"kenapa kamu bertanya seperti itu salma?" tanya balik raffael menautkan kedua alisnya


"penampilan bapak kok sedikit berantakan terus raya mana? bukannya tadi bapak manggil dia buat datang ke ruangan bapak" cerocos salma membuat raffael memutar bola matanya malas


"dia sedang di toilet, diare katanya" sahut raffael ngasal"


"oh begitu, jangan lupa pak sepuluh menit lagi meeting di mulai" ucap salma mengingatkan raffael lagi


"iya... kamu boleh kembali ke ruangan kamu" titah raffael namun salma tetap berdiri tidak pergi selangkah pun


"kamu ngapain masih disini?" tanya raffael melihat salma yang hanya diam saja


"saya nunggu raya pak"


"dia masih lama, nanti biar barengan sama saya saja"

__ADS_1


"tapi pak....."


"udah jangan banyak tapi-tapian, siapkan berkas untuk meeting sekarang"


__ADS_2