
sebelum pulang ke rumah eza membawa raya mampir ke cafe fahmi untuk sekedar nongkrong dan minum kopi bersama teman-temannya , untunglah hari ini raya bertemu dengan raffael sedikit bisa mengubah mood nya yang jelek menjadi lebih baik
eza berulang kali mengajak raya berbicara namun raya menanggapi nya hanya sekedarnya saja membuat eza merasa sedikit kesal
"kamu masih marah?" tanya eza
"biasa aja" jawab raya singkat
"tapi kok jutek gitu ngomongnya"
"aku capek za mau cepat-cepat istirahat"
untuk pertama kalinya raya menyebut eza dengan panggilan nama bukan panggilan sayang lagi, eza diam saja enggan untuk membahas karena tidak ingin membuat raya semakin kesal padanya
pukul 21:00 raya mengajak eza pulang karena benar-benar sudah merasa mengantuk
saat di perjalanan eza menyuruh raya mampir ke minimarket untuk membeli cemilan dan minuman bersoda tanpa banyak bicara raya menuruti apa yang eza perintahkan
"yank masih bisa pake debit kan jam segini?" tanya eza
"masih"
"pake uang kamu dulu ya nanti aku ganti"
"iya"
raya masuk ke dalam mini market langsung memilih beberapa cemilan dan minuman
raya menuju kasir untuk membayar semua belanjaannya
"bisa pake debit mbak?" tanya raya kepada kasir minimarket itu
"maaf mbak kalau di atas jam 21:00 pembayaran melalui debit sudah offline" jawab sang kasir
karena terlalu lama akhirnya pelanggan yang masih mengantri di belakang raya di persilahkan lebih dulu untuk melakukan pembayaran, eza yang melihat dari luar langsung menghampiri raya
"kenapa?" tanya eza
"gak pake debit" jawab eza
"kok bisa"
"udah offline"
"kamu bawa uang cash gak?" tanya eza lagi di balas gelengan kepala oleh raya
__ADS_1
dengan muka masam terpaksa eza membayar semua belanjaan dan langsung keluar dari minimarket tanpa mengajak raya
"sok tahu sih aturan sebelum belanja tuh tanya dulu bisa pake debit apa engga bukannya main comot aja" sentak eza saat raya sampai di hadapannya
"dulu waktu aku masih kerja jadi kasir emang gitu kalau sebelum jam 22:00 masih bisa pake debit" raya membela diri
"itu kan dulu beda lagi sama sekarang, bikin malu aja untung aja aku bawa duit kalau engga gimana hah?" eza semakin membentak raya sampai orang-orang menatap ke arah mereka
"kalau kamu ada uang kenapa malah nyuruh aku yang belanja kenapa gak beli sendiri aja, kamu itu marah-marah kayak gini karena gak bisa pake debit apa belanja pake uang kamu? kalau emang kamu gak ikhlas bayarin belanjaan aku besok aku ganti"
"punya uang dari mana kamu buat ganti uang aku hah?"
"mau ikut pulang apa aku tinggal disini?" lanjut eza
raya baik ke atas motor dengan perasaan yang begitu sesak hanya karena kesalahannya yang tidak seberapa eza tega membentaknya di muka umum harga diri raya sebagai seorang istri benar-benar sudah eza hancurkan di hadapan semua orang
raya menyeka airmata nya yang keluar begitu saja
sesampainya di rumah raya turun dari motor dan membawa belanjaan tanpa berbicara sepatah katapun kepada eza
raya berkalan masih sedikit pincang karena cedera di kaki nya belum benar-benar sembuh
"uang kamu yang kepake sama aku udah aku transfer balik, aku gak ada uang cash" ucap raya saat eza sampai di dalam kamar mereka
tanpa membalas ucapan raya, eza langsung mengecek ponselnya
"ini kebanyakan" seru eza dengan mata berbinar
"anggap aja ganti rugi uang nafkah aku selama sebulan kita nikah" jawab raya tenpa ekspresi
"maksud kamu apa? udah kewajiban aku ngasih nafkah sama kamu kenapa sekarang di balikin"
"kalau gak ikhlas percuma gak akan jadi pahala buat kamu nya juga"
"kamu punya uang sebanyak itu dari mana? bukannya kamu belum gajian"
"dapat bonus dari kantor, aku tidur duluan ngantuk"
eza yang memang mata duitan tidak mempermasalahkan raya mendapatkan uang itu dari mana, entah seperti apa konsep pernikahan yang di jalani oleh eza dan raya mereka seperti hidup masing-masing, raya yang sudah tahu kalau memang eza berselingkuh belum punya keberanian untuk meminta berpisah karena pernikahan mereka yang baru seumur jagung, raya takut jika tiba-tiba raya berpisah dengan eza akan menyakiti hati bunda lena dan ayah burhan sudah cukup mereka berdua menanggung beban atas kasus yang menimpa kakak nya resky
hari terus berganti waktu berputar begitu cepat usia pernikahan raya dan eza kini sudah berjalan empat bulan namun setelah raya mengetahui perselingkuhan yang dilakukan eza sejak hari itu hubungan di antara keduanya masih sangat dingin bicarapun hanya seperlunya saja tapi raya tetap menjalankan kewajibannya sebagai isyri yanh baik untuk eza, raya berpura-pura untuk percaya jika eza sudah berubah dan tidak bermain wanita lagi namun kenyataannya raya sudah beberapa kali mendapat kabar dari teman-temannya jika eza sering kali terlihat bersama perempuan lain
seperti hari ini raya yang kebetulan sedang libur bekerja berniat untuk memasak dan menyiapkan makan malam untuk eza
"eh kak raya kok udah di rumah aja" ucap anita yang baru pulang bekerja
__ADS_1
"kakak dari pagi di rumah nit gak kemana-mana" sahut raya yang sibuk dengan masakannya
"masa sih kak aku barusan liat kak eza boncengin cewek persis kayak kak raya" ceplos anita membuat wajah raya menjadi sendu
"eh kak maaf aku gak bermaksud....." tambah anita merasa tak enak hati
"gak apa-apa nit kakak baik-baik aja" raya berusaha tersenyum meskipun hatinya merasa di iris sembilu
"gak jangan marah sama aku ya, aku bener-bener gak tahu kalau..."
"udah jangan di bahas lagi kakak gak apa-apa"
"maaf ya kak"
raya hanya membalas dengan senyuman kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, raya mencoba berusaha baik-baik saja namun tetap saja rasa sesak di dalam dadanya tak bisa dia tahan lagi, airmata yang sudah mati-matian dia tahan untuk tidak menetes akhirnya meleleh juga
sakit sangat sakit raya berusaha menekan rasa sakitnya karena rasa cinta nya kepada eza sangat besar melebihi rasa cinta kepada dirinya sendiri namun hati perempuan mana yang akan terus bersabar jika terus di hantam ribuan luka yang begitu dalam dan menghujam ulu hatinya secara terus menerus
setelah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim raya menatap eza yang baru saja pulang dengan wajah berbinar, semakin sesak saja hati raya saat ini karena sudah berbulan-bulan raya tidak pernah mendapat senyuman itu dari sang suami
raya menyembunyikan perasaannya karena tidak ingin kembai berdebat dengan eza karena jika sampai nenek sukma tahu pasti dia yang akan di salahkan
"mata kamu kenapa? habis nangis?" tanya eza menatap intens wajah raya yang terlihat sembab
"gak apa-apa" jawab raya memalingkan wajahnya
"ada apa?" tanya eza lagi
"kamu belom sholat kan? sholat dulu sana setelah itu kita makan" bukannya menjawab raya malah mengalihkan pembicaraan
dua puluh menit berlalu raya dan eza sudah siap untuk makan malam, seperti biasa raya melayani eza dengan baik
hanya ada keheningan di antara keduanya karena penghuni yang lain sudah makan terlebih dahulu
eza sangat menikmati setiap makanan yang masuk ke dalam mulutnya tidak dapat di pungkiri masakan raya sangat lezat
"sampai kapan za?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut raya
"maksud kamu?" tanya eza balik
"apa kamu gak pernah puas dengan satu wanita aja?"
"apa sih gak jelas banget"
"hati aku sakit za setiap melihat kamu dengan wanita lain, apa kamu gak pernah mikirin perasaan aku?"
__ADS_1
"jangan mulai deh, udah berkali-kali aku ngomong aku gak pernah lagi main cewek masa gak percaya juga"
"apa aku sebodoh itu?"