
"raya istri gue, hak gue mau buat dia seperti apa lo gak berhak ikut campur bang sat" umpat eza
***bugh
bugh
bugh***
eza membalas pukulan raffael dan terjadilah baku hantam antara dirinya dan raffael, keduanya tidak ingin ada yang mengalah seoarang pun sama-sama terselimuti amarah, sampai wajah keduanya penuh luka pun tidak peduli terlebih raffael yang belum puas jika belum melihat eza terkapar lemah tak berdaya
"stop... apa-apaan kalian" tiba-tiba dini datang melerai perkelahian antara raffael dan eza
"jangan buat keributan disini, sana di lapangan kalau mau adu jotos. bikin malu saja" lanjut dini menatap eza penuh tanda tanya
raffael dan eza bangkit sambil menyeka sudut bibir mereka yang sama-sama mengluarkan darah
"OMG.... ganteng parah" batin dini melihat raffael yang sudah tegak berdiri di hadapannya
meskipun wajahnya penuh luka sedikitpun tidak mengurangi kadar ketampanan seorang raffael di mata dini
bukannya membantu eza dini malah sibuk menatap wajah raffael yang masih saling pandang penuh amarah dengan eza
"kenapa keadaan berantakan kayak gitu keliatan maken cakep ya" lagi-lagi dini membatin melihat raffael yang berantakan dan rambut yang sangat acak-acakan namun masih terlihat mempesona
"dini" bentak eza membuyarkan lamunan dini
"apa sih gak usah bentak-bentak juga kali" sahut dini tidak terima
"kenapa diem aja? bantuin aku kek atau apa kek gitu" sungut eza
"iya sorry, sorry" dini memapah tubuh eza untuk di bawa ke ruang kesehatan di kantornya
"inget pesen gue sekali lagi lo bikin ulah, jangankan muka lo yang gue bikin ancur hidup lo bisa gue bikin melarat seumur hidup lo" ancam raffael tak main-main kepada eza
"gue gak takut" gertak eza membuat raffael berdecih
__ADS_1
eza yang memang terluka lebih parah dari raffael mendapat penanganan lebih dari perawat yang bertugas di klinik perusahaan tempat eza bekerja
pukulan raffael tidak main-main sampai membuat tubuh raffael sekan remuk terjungkal karena pukulan raffael yang sangat kencang
eza terus saja mengumpat di sela-sela pengobatannya sampai membuat dini mengernyit heran
"kamu itu ada masalah apa sih? sampai di hajar kayak gini?" tanya dini
"bukan urusan kamu" ketus eza
"udah di bantuin juga malah gak tahu terima kasih" sungut dini
"dia raffael sahabat raya, dia gak terima karena semalem aku nampar raya dan dorong tubuhnya sampe jatuh" ungkap eza
"wowwww.... aku gak nyangka kamu bisa kasar juga sama istri yang kata kamu cantik itu" sindir dini
"aku gak sengaja" celetuk eza terlihat wajahnya yang penuh penyesalan
"pak eza jangan dulu kemana-mana ya tunggu satu atau dua jam baru boleh pulang" seru sang perawat setelah selesai mengobati eza
"baik sus, makasih ya" ucap eza ramah
terbesit ide konyol di kepala dini, dini tersenyum jahat dan keluar dari klinik itu dengan alasan ingin ke toilet padahal sudah jelas di dalam klinik itu sudah terdapat toilet di dalamnya
eza yang tidak peduli membiarkan dini bertindak sesuka hatinya, kepala eza yang sedikit terasa pusing memilih untuk beristirahat sejenak sebelum pulang ke rumahnya
dini berlari menuju parkiran berharap raffael masih ada disana, benar saja raffael masih berdiri menyenderkan tubuhnya di dekat pintu mobil miliknya, dengan tidak tahu malunya dini menghampiri raffael dengan tatapan seorang ja lang yang sedang mera yu mang sanya
"raffael kan?" tanya dini sok akrab namun raffael hanya menatapnya sekilas
"sorry ya kalau tadi aku marah-marah sama kamu soalnya ini masih wilayah perusahaan gak enak kalau sampai ada klien yang lihat pertengkaran kalian" lanjut dini dengan nada suara yang sengaja di buat manja
"jangan basa-basi ada apa?" tanya raffael ketus
"kamu sahabat raya kan? istri eza?" tanya balik dini
__ADS_1
"hhmm" jawab raffael dengan deheman saja
"kamu suka kan sama raya gak mungkin dong kamu tega biarin wajah tampan kamu babak belur karena belain raya cuman sebagai sahabat pasti lebih dari itu" ucap dini panjang lebar
"mau lo apa?" tanya raffael menatap ke arah dini dari atas sampai bawah
"gimana kalau kita kerja sama buat misahin raya sama eza, biar kita sama-sama untung... kamu bisa milikin raya tanpa gangguan dari eza begitupun aku bisa secepatnya nikah sama eza" jawab dini tanpa dosa
"cihhh,, cara lo kampungan gue gak tertarik"
raffael menatap remeh dini yang berpenampilan terlihat sangat alim dengan hijab yang membalut sempurna di kepala dini, tidak ada celah sama sekali jika melihat dini pertama kali terlihat seperti wanita sholehah, berhati baik dan tidak suka merusak rumah tangga orang pastinya
raffael yang sudah tahu dini dari orang suruhannya menatap dini dengan senyuman liciknya
"penampilan lo memang alim tapi hati lo busuk, silahkan lo lanjutin hubungan lo sama eza
gue gak perlu repot-tepot turun tangan buat misahin eza sama raya
dengan sendirinya raya pasti akan minta pisah sama cowok brengsek kayak si curut itu" ucap raffael
"jangan lo kira gue gak tahu siapa lo sebenernya
lo gak mau kan sampai eza kesayanagan lo tahu lo kayak gimana aslinya?" lanjut raffael berbisik kepada dini
"dasar pe la cur"
dini mengepalkan tangannya kuat mendengar setiap kata-kata yang terucap dari mulut raffael
kenapa bisa raffael sampai tahu dini sampai sedetail itu padahal dini sudah rapat-rapat menutup masa lalunya agar tidak diketahui oleh eza, dini yang berperan sebagai wanita terhormat dan sangat menjaga kehormatannya di hadapan eza tidak akan lucu jika tiba-tiba raffael datang mengacaukan semuanya
dini sangat terobsesi kepada eza tidak rela jika ada yang berusaha memisahkan dirinya dengan eza sekalipun itu raya istri sahdari eza sendiri
raffael melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tubuhnya sangat lelah dia ingin segera membersihkan tubuhnya dan istirahat dengan nyaman tanpa gangguan
awalnya raffael berniat untuk pulang ke apartemennya namun tiba-tiba mami aruni menelfonnya jika keadaan bara semakin memburuk, raffael bergegas pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan sang kakak
__ADS_1
bara memang sudah di pindahkan ke rumah sakit setelah kedatangan raya tempo hari untuk menjenguknya
memang sangat dahsyat pengaruh raya dalam hidup bara, bara bisa melunak karena permintaan raya saat itu yang menyarankan jika bara sebaiknya di rawat di rumah sakit biar lebih efektif dan sejak itu bara langsung meminta kepada mami aruni dan papi hendro untuk segera di rawat di rumah sakit saja