
"kamu dari mana aja sih lama banget, aku sampai jamuran nungguin kamu hampir dua jam" gerutu dini saat eza baru sampai di tempat yang dini pinta untuk bertemu
"sorry, raya sedikit rewel tadi
ada apa sih ngedadak ngajak ketemu" tanya eza
"mami sama papi minta kamu buat ke rumah" cetus dini
"buat apa? jangan macam-macam kamu din"
"aku cuma mau satu macem aja za, ngertiin aku sekali ini aja aku di teken buat cepet-cepet nikah sama orang tua aku za"
"terus niat kamu ngajak aku ketemu sama orang tua kamu buat apa? mau ngenalin aku sebagai calon suami kamu gitu?" tanya eza perlaham dini pun menganggukan kepalanya
"jangan gila kamu"
"aku gak mau hubungan kita gak jelas kayak gini za aku butuh kepastian"
"kamu gak lupa kan dengan perjanjian awal kita? kita gak akan menuntut satu sama lain tentang apapun itu termasuk pernikahan dan jangan lupakan status aku yang suami orang"
"jadi kamu nganggap hubungan kita ini apa za? aku cuman di jadikan pelepas dahaga di saat kamu kehausan gitu? apa kamu gak ada niat sedikit pun buat serius dengan hubungan ini?"
"just for fun din"
dini berpikir keras dia tidak ingin menyerah begitu saja, bagaimanapun caranya eza harus menikah dengannya tidak peduli jika dini harus menjadi istri kedua urusan orang tuanya biarlah dini yang akan mencari alasan
dini terus memutar otak memikirkan cara untuk merayu eza agar mau menikah dengannya bukan sekedar tekanan dari orang tuanya saja dini seperti sudah kecanduan tidak ingin terlepas dari pria yang sudah beristri itu
"gimana kalau aku kasih kamu mobil dan naik jabatan di perusahaan kamu masih nolak buat nikah sama aku?" dini mencoba mengiming-imingi eza dengan berbagai cara membuat eza tersenyum smirk
"gak segampang itu din, kalau raya sampai tahu gimana? apalagi aku sama raya nikah baru satu bulan" eza berusaha untuk jual mahal padahal dalam hati sudah sangat tergiur dengan tawaran dini
"aku yakin sekarang raya udah mulai curiga dengan hubungan kita za"
"maksud kamu apa?" tanya eza memicingkan matanya
"hape kamu mana?" bukannya menjawab dini malah balik bertanya kepada eza
eza meraba-raba semua saku celananya namun nihil ponsel miliknya tak ia temukan
"tadi aku sempet nelfon kamu kayaknya yang angkat istri kamu soalnya pas aku ngomong gak ada jawaban sama sekali malah langsung di matiin gitu aja"
"APAAAA" sentak eza melebarkan matanya tak percaya
"santai aja kali za gak usah ketakutan gitu"
"****" umpat eza langsung pergi meninggalkan dini begitu saja
sedangkan raya baru saja mengantar kedua sahabatnya untuk pulang kembali masuk ke dalam kamarnya segera mengemas pakaiannya karena setelah eza kembali mereka akan langsung pulang ke rumah nenek sukma
__ADS_1
raya merasa lega karena sudah mencurahkan semua isi hatinya kepada tere dan sashi mulai saat ini raya berjanji tidak akan menutupi apapun lagi kepada kedua sahabatnya itu
raya tidak ingin menjauhi kedua sahabat terbaiknya terlebih saat ini kepercayaan raya terhadap eza mulai menipis
jika eza terbukti mengkhianatinya masih ada kedua sahabatnya yang selalu setia untuknya dalam keadaan apapun
"sayang" panggil eza membuat raya menoleh ke sumber suara
"udah pulang kamu" tanya raya mencoba seramah mungkin
bukannya menjawab eza langsung memeluk raya erat namun raya sama sekali tidak membalas pelukan suaminya
raya mencoba terlihat baik-baik saja meskipun dalam hatinya sudah tidak tahan untuk memaki eza
tere dan sashi sudah mengatakan bahwa akan membantu raya untuk menyelidiki eza apakah benar eza sudah selingkuh di belakang raya atau tidak
"sayang" panggil eza lagi tanpa melepaskan pelukannya
"apa" jawab raya lembut
"kamu gak apa-apa kan" tanya eza hati-hati
"maksud kamu?"
"perasaan aku gak enak dari tadi takut kamu kenapa-kenapa, kaki kamu masih sakit gak?"
"aku baik-baik aja jangan khawatir"
"ayo"
setelah berpamitan kepada ayah burhan dan bunda lena, raya dan eza segera pergi meninggalkan kediaman ayah burhan dan bunda lena
eza mengendarai motornya dengan kecepatan pelan eza masih khawatir jika raya curiga kepadanya
eza tidak ingin penghianatannya sampai ketahuan secepat ini karena eza belum mendapatkan apa yang dia inginkan
"sayang kamu nyimpen hape aku gak?" tanya eza memulai pembicaraan
"engga" jawab raya singkat
"masa sih bukannya tadi ketinggalan di kamar kamu ya"
"aku gak liat"
"serius yank"
"serius"
"bukannya tadi doni nelfon ya, katanya kamu yang jawab"
__ADS_1
"sejak kapan nama doni di pake nama cewek"
"itu istrinya"
"masa"
"iya, kalau gak percaya kamu telfon balik aja"
"gak usah"
tak terasa motor yang di kendarai eza sudah sampai di halaman rumah
raya langsung turun dari motor berjalan ke dalam rumah
ada sedikit rasa bersalah di hati eza karena sudah terlalu dalam membohongi raya padahal selama pacaran ataupun sekarang raya tidak melakukan kesalahan apapun kepadanya raya selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk eza meskipun terkadang eza bersikap ketus secara tiba-tiba
"kakak kok baru pulang aku nyariin tahu" teriak anita yang baru keluar dari kamar
"tumben nyariin biasanya kamu gak pernah ada di rumah" sahut raya menjawil dagu anita
"ish, kaki kakak belum sembuh kok jalannya masih gitu" tanya anita melirik ke arah kaki raya
"masih sedikit sakit tapi lebih baik di bandingin kemaren nit"
"kakak udah makan belum? aku bikin seblak lho tadi mau gak?"
"mau dong mana seblaknya"
"ayo" anita menarik tangan raya menuju meja makan
eza yang masuk belakangan melihat raya yang sedang memakan seblak dengan lahapnya langsung menghampiri istri dan adiknya
jujur saja rasa bersalah eza masih saja mengrogoti hatinya, apalagi mengingat raya yang menyayangi adik dan ibu nya dengan tulus
"nit mama sama nenek kemana? kok sepi" tanya eza duduk di hadapan raya
"pergi ke acara pengajian dari pagi belom pulang" jawab anita
"kamu laper yank makannya lahap bener" ucap eza melihat raya sudah menghabiskan satu mangkuk seblak buatan anita
raya tidak menjawab ucapan eza dia sibuk meminum jus alpukat yang sudah di siapkan anita, entah kenapa rasa kesal di hati raya masih belum hilang ketika melihat eza meskipun eza sudah menjelaskan semuanya namun raya sama sekali tidak percaya dengan alasan eza
tanpa mengucapkan sepatah katapun raya beranjak dari meja makan dan berlalu dari hadapan eza masuk ke dalam kamar untuk beristirahat
"kakak kamu kenapa nit? abis makan seblak kok jadi aneh gitu" tanya eza kepada anita
"mana aku tahu, kakak kali udah bikin kak raya kesel makanya di cuekin kayak gitu" jawab anita
"mana bisa raya ngambek sama kakak"
__ADS_1
"itu buktinya"