Broken Wedding

Broken Wedding
63


__ADS_3

raya berjalan menyusuri jalanan seorang diri, raya menangisi nasib rumah tangganya yang benar-benar sudah hancur


raya merasa menjadi wanita paling menyedihkan di dunia ini seorang suami yang raya harapkan bisa melindunginya namun kenyataannya eza malah dengan terang-terangan membela wanita selingkuhannya di hadapan raya sendiri


sakit sungguh sangat sakit, luka yang eza torehkan kini semakin dalam


jederrrrrr.....


langit cerah berganti dengan awan kelam di sambut dengan suara petir yang saling bersahutan seakan menggambarkan perasaan raya saat ini


hujan turun semakin deras mengiringi isak tangis raya yang semakin deras sederas air hujan turun saat ini


raya terduduk di bawah guyuran air hujan yang turun semakin deras, rasa sesak di dalam dadanya kian menyeruak mengingat semua pengkhianatan yang telah eza lakukan


raya memukul dada nya berkali-kali berharap rasa sakitnya akan berkurang namun nihil rasa sakit itu semakin menusuk sampai ke ulu hatinya


"kenapa semesta sebercanda ini denganku Tuhan, kenapa....???


sakit sangat sakit" teriak raya dengan suara tangis yang semakin kencang


"masa kecil lo kurang bahagia sampai harus ujan-ujanan kaya gini hah?"


seketika raya mendongak melihat raffael yang sedang berdiri membawa payung untuk melindungi dirinya dari air hujan raya merasa sangat beruntung masih ada raffael yang selama ini selalu ada untuknya dalam keadaan apapun


raya bangkit dan berhambur ke dalam pelukan raffael, raya menumpahkan semua rasa sakitnya kepada raffael meskipun tanpa bicara raffael seolah tahu saat ini raya memang sangat membutuhkan sosok raffael untuk di jadikan tempat bersandar


"lo cewek kuat ray, menangislah untuk yang terakhir kalinya dan lo harus janji setelah ini jangan pernah ada tangisan lagi kecuali tangisan bahagia" ucap raffael


"hati gue hancur raff, gue berusaha untuk terus bertahan tapi nyatanya gue gak sekuat itu... gue rapuh, gue lemah, gue bo doh raff bo doh" sahut raya yang masih tenggelam dalam pelukan raffael


raffael hanya mengusap lembut rambut raya tanpa membalas ucapan raya kembali karena raffael sangat paham yang raya butuhkan saat ini adalah sosok pendengar yang baik bukan butuh seorang penasehat yang membuat suasana hatinya semakin hancur


raffael memang mengikuti raya yang berjalan tanpa arah setelah perdebatannya dengan eza dan dini, hati raffael merasa teremat sangat kuat saat melihat raya yang begitu hancur


raffael menyesali dirinya sendiri kenapa sejak dulu raffael tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya kepada raya mungkin jika saat itu raya tahu tentang perasaannya terhadap raya mungkin raya tidak menderita dan terluka sedalam ini


tanpa berkata apapun raffael memapah tubuh raya agar masuk ke dalam mobilnya karena tubuh raya sudah sangat menggigil karena terkena air hujan cukup lama


raffael tidak mengantar raya pulang ke rumah kedua orang tuanya melainkan membawa raya untuk pulang ke apartemennya, raffael hanya ingin membantu raya untuk menenangkan suasana hatinya terlebih dahulu sebelum raya benar-benar siap memberitahu ayah burhan dan bunda lena tentang kondisi rumah tangganya dengan eza


"kita dimana? kok gak anterin gue ke rumah aka raff" heran raya karena mereka baru sampai di sebuah basement apartement


"ini apartement gue, lagian lo mau gue anterin pulang dalam keadaan kayak gini? sekarang lo sangat berantakan raya"

__ADS_1


"tapi nanti kita cuman berdua raff"


"emang kenapa kalau kita cuman berdua?"


"guu... gue......" ucap raya tergagap


"jangan mikir macem-macem ayok buruan turun sebelum lo mati membeku karena kedinginan"


"ish nyebelin"


raya mengekori raffael yang sudah berjalan lebih dulu, raya yang baru pertama kali menginjakan kakinya di apartement milik raffael menatap kagum ke setiap ruangan di apartemen raffael yang terlihat sangat mewah


raya tidak menyangka jika diam-diam raffael punya apartemen semewah ini


"mandi dulu sana biar gak masuk angin" titah raffael


"gue gak bawa baju raff masa iya gue harus te lan jang" sahut raya


"pake baju gue ada di lemari lo pilih aja yang menurut lo pas di badan lo"


"masa baju doang dalemannya gimana?"


"gak usah pake aja"


"jangan ngeyel deh nanti kalau sakit gimana"


"tapi ntar gue gak nyaman raffael"


"lagian udah tua juga masih maen ujan-ujanan, repot kan jadinya"


"siapa juga yang minta buat pulang kesini bukannya di anterin ke kontrakan tere aja"


"tere lagi di surabaya, sodaranya ada yang nikahan"


"kok lo tahu?"


"tahu lah"


"kok bisa?"


"ya bisa lah orang gue yang nanya"


"lo sering kabar-kabaran ya sama tere tanpa sepengetahuan gue"

__ADS_1


"lo cemburu hhmm?" bisik raffael membuat bulu kuduk raya meremang


"apaan sih jangan ngaco deh"


wajah raya merona entah mengapa mendengar ucapan raffael hati raya merasa berbeda seperti ada rasa tidak suka jika raffael dan tere berhubungan lebih dekat tapi apa mungkin raya cemburu sedangkan raya begitu meyakink jika di dalam hatinya hanya ada eza suami breng sek nya itu


"engga... gak mungkin gue cemburu... inget ray di hati lo cuma ada eza" guman raya sambil menatap dirinya di pantulan cermin di dalam kamar mandi


raffael yang sedang membuat minuman hangat untuk dirinya dan raya menolah saat raya membuka pintu kamar


glekkk...


raffael meneguk salivanya melihat penampilan raya yang sangat seksi di mata raffael malam ini, raya mengenakan kemeja berwarna putih milik raffael entah raya sadar atau tidak dalaman raya sangat terlihat jelas di balik kemeja putih yang raya kenakan, tubuh raya yang seperti gitar spanyol membuat raffael gagal fokus


raffael ingin menundukan pandangannya tapi hatinya seakan meminta agar raffael terus memandang wajah cantik raya yang semakin terlihat mempesona membuat jiwa ib lis di dalam hati raffael meronta-ronta


"ya Tuhan raya penampilan lo bikin adek gue berontak minta di masu kin" batin raffael mesyum


mau bagaimanapun raffael adalah pria normal apalagi jika melihat pemandangan yang membuat bi ra hi nya memuncak sudah pasti junior miliknya meronta ingin di puaskan


raffael menggeleng-gelengkan kepalanya menepis pikiran kotor yang bersarang di kepalanya


"lo kenapa ngeliatin gue gitu banget hah?" sentak raya mambuat lamunan raffael buyar


"baju yang lo pake kegedean, kaya badut" elak raffael


"bodo amat dari pada gue te lan jang"


"nih minum dulu biar tubuh lo anget"


raya menerima secangkir coklat panas dari tangan raffael namun netra raffael fokus memandang dua pegunungan himalaya yang menjulang tertutup kain tipis berwarna hitam di balik kemeja putih yang di pakai raya


besar, padat dan...... ah sudahlah otak raffael menjadi traveling untuk memainkan dua bongkahan montok yang membuat kepalanya cenay cenut atas bawah


"raff makasih ya" ucap raya menatap raffael


"untuk?" tanya raffael mencoba bersikap biasa saja


"semuanya, lo terbaik dan selalu ada buat gue di saat gue butuh lo kapanapun dan dimanapun"


tiba-tiba raya memeluk raffael begitu erat dan sudah di pastikan dua gunung himalaya itu akan menempel sempurna di dada bidang milik raffael membuat jantung raffael berdetak semakin kencang


"ya Tuhan raya to ket lo gede banget, pala gue langsunh puyeng ini" raffael membatin frustasi

__ADS_1


__ADS_2