Broken Wedding

Broken Wedding
46


__ADS_3

"nanti pulang ke rumah ya sayang, aku tunggu"


raya tersenyum membaca pesan yang di kirimkan oleh eza, hatinya menghangat karena sikap eza yang kembali manis seperti dulu


raya semakin bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaannya, raya ingin cepat-cepat pulang dan memeluk eza


"hari ini aku lembur yank, pulang jam 20:00"


raya mengirimkan pesan balasan untuk eza, tak sampai lima menit eza kembali membalas pesan dari raya membuat raya tersenyum bahagia


" iya gak apa-apa, nanti aku jemput kabarin kalau mau pulang"


raya memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, suasana hatinya kini kembali ceria karena sudah di pastikan hubungannya dengan eza akan kembali baik


"senyum mulu kak, kenapa sih?" tanya tari penasaran


"kepo deh" jawab raya membuat tari mendengus


"kok ngeselin sih kak" tari mencebikkan bibirnya


"becanda adek sayang, tadi eza yang kirim pesan katanya nanti mau jemput"


"seseneng itu"


"yes"


"awas PHP lagi"


"kali ini gak akan tar"


raya dan tari melanjutkan pekerjaannya dengan penuh semangat sampai tak terasa waktu sudah menunjukan 19:50, semua karyawan yang ikut lembur siap-siap untuk segera pulang termasuk raya yang sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan sang suami


"bentar lagi aku pulang, kamu jemput sekarang ya"


setelah mengirimkan pesan kepada eza, raya segera membereskan meja kerjanya yang sangat berantakan


pekerjaan hari ini benar-benar menguras waktu dan tenaganya


sebelum benar-benar keluar raya memoles dengan make up tipis-tipis agar tidak terlihat pucat tidak lupa memoleskan lipmatte yang berwarna soft, raya berjalan menuju parkiran untuk menunggu eza disana


"kak yakin gak mau pulang bareng aku?" tanya tari hendak menyalakan mesin motornya


"yakin adek sayang, eza udah jalan sana gih pulang nanti keburu malem" raya mengacak gemas rambut tari yang belum tertutup helm


"baiklah, aku duluan ya kak"


"hati-hati, pake helmnya"

__ADS_1


tara mengacungkan jari jempolnya lalu melesat meninggalkan raya seorang diri, raya duduk di sebuah bangku dengan perasaan bahagia senyum manis tak luntur dari bibir seksinya


10 menit


20 menit


30 menit


eza tak kunjung datang untuk menjemput raya, raya berusaha untuk menelfon eza namun eza sama sekali tidak menjawab telefon dari raya padahal di lihat dari semua akun sosmed milik eza saat ini eza sedang online tapi kenapa pesan dan panggilan telefon dari raya malah dia abaikan


raya mencoba positive thinking dan memutuskn untuk terus menunggu eza


pukul 21:15


eza belum terlihat batang hidungnya sekalipun, rasa takut dan kedinginan mulai mendera raya melihat kesekekilingnya sudah tidak ada siapapun disana hanya seorang security yang berjaga di pos keamanan


raya berjalan berharap menemukan taksi atau ojeg namun nihil raya tidak menemukannya sama sekali


untuk yang kesekian kalinya raya merasakan kecewa yang teramat sangat kepada eza


"***masih dimana? aku nunggu kamu hampir dua jam za"


"seharusnya kasih kabar kalau emang tidak jadi jemput, kamu tega ya bikin aku nunggu berjam-jam malam-malam gini***"


lagi-lagi pesan yang raya kirimkan sama sekali tidak mendapat respon dari eza, raya memutuskan untuk meminta bantuan kepada pak security untuk mencarikan taksi atau ojeg


"eh mba raya kok belum pulang?" tanya pak security itu


"anu pak boleh minta tolong gak?"


"minta tolong apa mba?"


"bisa tolong bantu carikan taksi atau ojeg gak pak, saya mau pulang"


"wah kalau sudah malam begini susah nyari kendaraan di daerah sini mba, memangnya mba raya pulang ke daerah mana?"


"oh gitu ya pak, saya pulang ke komplek taman sari pak"


"kalau mba gak keberatan mba pulang sama saya saja kebetulan saya mau pergantian shift sama yang lain"


"apa tidak merepotkan"


"engga mba kita satu arah kok, lagipula ini sudah jam sepuluh lewat pasti susah banget cari kendaraan"


akhirnya raya ikut pulang bersama bapak security itu, raya bersyukur masih ada orang baik yang mau mengantarnya pulang sepanjang perjalanan pulang raya merenungi nasibnya yang begitu nenyedihkan, raya benar-benar yakin bahwa eza sudah tidak peduli lagi kepadanya bahkan biasanya raffael yang selalu ada kapanpun dan dimanapun untuknya kini juga menghilang entah kemana sejak makan siang tadi


"miris bener hidup gue"

__ADS_1


tak lama raya sampai di depan rumah mertuanya, raya turun dari motor dan melepas helmnya


"makasih banyak ya pak, maaf sudah merepotkan"


"sama-sama mba tidak merepotkan sama sekali, saya permisi ya mba"


setelah pak security itu benar-benar pergi raya berjalan memasuki rumahnya, raya melihat eza yang sedang duduk manis di teras rumah dengan memegang ponselnya sambil tersenyum sendiri bahkan eza masih mengenakan setelan kerjanya lengkap dengan sepatu dan tas kerjanya yang dia simpan di atas jok motornya


sesak itulah yang raya rasakan saat ini, kenapa untuk membalas chat dan telfon dari raya tidak bisa sedangkan eza sedang fokus pada ponselnya


raya berjalan tanpa menyapa eza yang sedang sibuk dengan ponselnya


"lho sayang kok udah pulang kenapa gak ngabarin?" tanya eza tanpa dosa


tidak berniat untuk menjawab pertanyaan eza, raya langsung masuk ke dalam kamarnya. eza yang melihat sikap dingin raya langsung menyusul raya


melihat eza yang masuk ke dalam kamarnya semakin membuat amarah raya meluap, raya malas untuk menyapa eza, raya bersikap masa bodo dan tidak menganggap keberadaan eza meskipun eza berulang kali menyapa dirinya raya lebih tertarik untuk memainkan ponselnya dan berbalas pesan dengan para sahabatnya sambil tertawa tidak jelas membuat eza merasa sangat karena di abaikan olehnya


"kamu itu paham adab seorang istri gak sih sebenernya?" bentak eza merebut ponsel di tangan raya


"balikin handphone aku" pinta raya


"suami pulang kerja itu layani dengan baik, ambilin minum atau apa gitu bukannya sibuk sendiri, apa seperti itu yang di sebut istri yang baik hah?"


"apa kamu juga bisa di sebut sebagai suami yang baik za?" tanya raya membuat eza semakin tersulut emosi


"kamu marah karena aku gak jadi jemput kamu hah"


"setidaknya kamu kasih kabar kalau gak jadi jemput bukannya biarin aku nunggu berjam-jam kayak orang be go"


"aku sibuk seharusnya kamu ngerti itu"


"aku harus mengerti kayak gimana lagi za, apa susahnya sih cuman jawab telfon atau balas pesan dari aku? apa sebegitu gak pentingnya aku sekarang buat kamu? bahkan sedikitpun kamu gak ngerasa cemas sama sekali sama aku, mungkin kalau aku mati juga kamu gak akan peduli"


brakkk


eza mendorong tubuh raya sampai tersungkur dan menubruk lemari pakaian miliknya, eza mencengkram kasar dagu raya sampai wajah raya memerah menahan sakit mata eza menatap nyalang ke arah raya menyiratkan kemarahan yang begitu kentara di wajah eza saat ini, baru kali raya melihat eza yang tampak menyeramkan seperti ini apa memang raya yang baru tahu jika memang sifat asli eza adalah seperti ini ketika sedang marah


sangat kasar


"gak usah sembarangan ngomong kamu raya" bentak eza dengan suara menggelegar di dalam kamarnya


"kalau emang kamu masih peduli gak mungkin kamu biarin aku nungguin kamu malem-malem sendirian kalau aku kenapa-kemapa gimana za" sahut raya dengan suara tersengal-sengal


"buktinya kamu masih sehat dan masih utuh kan, kamu masih bisa pulang sendiri kenapa harus jadi masalah, aku lagi sibuk balas pesan dari kantor harusnya kamu ngerti aku kerja banting tulang juga buat kamu" eza melepaskan cengkaramannya dari dagu raya dengan kasar


"cih buat aku kamu bilang? gak pernah ngasih nafkah, gak pernah ada disaat aku butuh kamu sebagai sosok suami, selalu buat aku kecewa karena seribu kebohongan kamu? fungsi kamu apa sebagai suami hah?"

__ADS_1


PLAKKK.....


__ADS_2