
"sayang kita ketemu anak-anak dulu yu" ajak eza
"dimana? gak kemaleman apa?" tanya raya
"engga lah baru juga jam sembilan biasanya juga kita pulang tengah malem"
"ya udah aku ikut kamu aja"
"ok let's go"
setelah puas menikmati acara karaoke bersama saudara-saudara eza, kini raya dan eza menemui teman-temannya yang masih berkumpul di cafe langganan mereka
kebiasaan mereka sejak berpacaran setiap weekend selalu berkumpul dengan teman-teman eza sampai larut malam berunting teman-teman eza itu sangat baik dan welcome membuat raya tidak merasa canggung lagi berada di antara mereka
"yoo pengantin baru makin cerah aja kalian" seru fahmi yang menyambut kedatangan raya dan eza
"harus cerah dong masa iya mendung" sahut eza tergelak
"duduk samping gue ray" titah inez yang paling dekat dengan raya
"dari mana lo?" tanya inez lagi
"abis dari jazz di kasih voucher sama mba via" sahut raya
"lo bahagia kan nikah sama eza?" tanya inez lagi
"napa lo nanya begitu ya jelas gue bahagia lah"
"semoga eza pria yang tepat dan benar-benar baik buat lo" ucap inez ambigu
"maksud lo selama ini eza gak baik buat gue gitu? apa sih gue gak ngerti"
"sayang kamu sama inez dulu ya aku sama anak-anak dulu" sergah eza yang akan keluar dari cafe bersama teman-temannya
"jangan macem-macem yank" sahut raya
setelah eza dan teman-temannya pergi raya melanjutkan obrolannya yang semoat terhenti bersama inez
"ray lo nganggep gue sahabat lo kan? lo percaya sama semua ucapan gue kan?" tanya inez lagi
"nez jujur sama gue ada apa sih? gue gak ngerti sumpah sama semua yang lo omongin, lo tahu sesuatu yang gak gue tahu tentang eza?
"lo percaya kan eza bener-bener sayang sama lo? lo percaya kan eza setia sama lo?"
__ADS_1
"selama ini gue masih percaya kalau untuk kedepannya gue gak tahu"
"kenapa?"
"entahlah, mendadak hati gue kayak ngerasa ragu aja gitu sama dia"
"jangan terlalu di pikirin, lo nikmatin aja dulu masa-masa pengantin baru lo sama eza jangan mikir macem-macem"
"lah lo aneh tadi lo yang ngomong seakan-akan eza itu gak baik buat gue sekarang ngomongnya beda lagi"
"gue cuman ngetes lo doang anggap aja gue gak pernah ngomong gitu"
"gak jelas lo"
sama dengan raya dan inez yang sedang mengobrol eza dan teman-temannya pun sama curhat seputar kehidupan percintaan mereka di antara semua teman-teman eza hanya eza lah yang baru menikah, teman-teman eza pun merasa tidak percaya saat eza memutuskan menikah secepat itu namun setelah mendapat undangan pernikahan dari eza barulah mereka percaya, eza yang notabene nya seorang playboy membuat orang-orang di sekitarnya tidak percaya kalau eza melabuhkan cinta terakhirnya secepat itu
"za bini lo makin bening banget gila, lo pasti beruntung bisa dapetin raya" ucap erlan
"biasa aja sih gak ada yang spesial" sahut eza
"kok biasa aja sih"
"iya lah orang raya pas nikah sama gue udah gak vir gin lagi"
"hari gini udah biasa kali za kalau cewek udah gak vir gin kayak kelakuan lo bener aja" seru fahmi
"lah ngapain lo nikahin dia kalau lo sendiri aja masih belum ikhlas nerima keadaan dia"
"tapi gue sayang sama dia, cinta banget malah"
"berarti rasa sayang lo gak tulus sama raya"
"maksud lo apa?"
"satu hal yang harus lo ingat za jodoh kita adalah cerminan dari diri kita sendiri, pandai-pandai bersyukur di luar sana banyak cowok yang mau ada di posisi lo saat ini" fahmi menepuk pundak eza
"nih minum dulu za biar gak panik" mirza menyodorkan satu gelas minuman pada eza
"wah lo gila bini gue bisa ngamuk kalau gue mabok" seru eza saat melihat minuman yang di sodorkan mirza adalah minuman beralkohol
"ya jangan sampai mabok lah, sok polos banget lo"
"bukan gitu gue cuman gak mau ribut aja sama bini gue"
__ADS_1
"ciihh ngomongnya aja belum bisa nerima sepenuhnya tapi bini nya ngambek malah ketar ketir, gak jelas lo"
tak ingin mendengarkan ocehan teman-temannya akhirnya eza meminum minuman yang di berikan oleh mirza, awalnya memang hanya satu tegukan namun lama-lama eza menghabiskan beberapa gelas sampai membuat eza mulai mabuk dan meracau tidak jelas
fahmi memanggil raya yang masih berada di dalam cafe untuk membawa eza pulang
"ray laki lo mabok" bisik fahmi
"kok bisa?" tanya raya kaget
"ya bisa lah orang dia doyan" jawab fahmi apa adanya
"pasti kalian yang ngajak laki gue buat minum kan" tuduh raya
"sembarangan aja lo nuduh-nuduh, laki lo yang mau kok"
"ayok buruan liat laki lo jangan ngoceh aja"
raya sedikit berlari menghampiri eza yang sedang meracau di pinggir jalan, melihat eza yang sedang te *** membuat raya merasa sangat kesal sebelum menikah eza berjanji tidak akan mabuk lagi tapi sekarang di depan matanya sendiri eza malah melanggar janjinya
"sayang,,," ucap eza setengah sadar melihat raya berdiri di hadapannya
"mau pulang apa mau aku tinggal disini" tanya raya ketus
"pulang dong kan mau enak-enak sama istri aku yang cantik" eza memeluk dan mencium pipi raya tanpa rasa malu di hadapan teman-temannya
"jijik gue liat tingkah si eza, pengen muntah" bisik inez kepada fahmi
"apalagi gue pengen gue tenggelemin dia di sungai nil" sahut fahmi tak kalah kesal
"kok pada ngobrol bantuin gue naekin laki gue ke atas motor biar gue yang bawa motornya" titah raya
"lo gak ada niat buat ganti laki gitu ray, ngerepotin banget an jing" sahut fahmi namun tetap membantu menaikan eza ke atas motor
"ba cot lo" umpat raya
"ray yakin lo bisa bawa motornya? gue ngeri eza ngejungkel deh" seru inez
"kalau ngejungkel ya gue tinggal, gue cabut ya "
raya mengendarai motornya sangat pelan sejujurnya raya pun takut kalau eza tiba-tiba jatuh namun pikiran raya buyar saat tangan nakal eza mulai mere mas buah da da sintal milik raya bukan hanya itu bibir eza terus saja menge cup leher jenjang raya yang terekspos, sungguh ingin rasanya raya mencekik eza saat ini bisa-bisanya suaminya itu berbuat mesum saat dirinya sedang mengendari motor
"tangan kamu bisa diem gak sih, kamu mau kita masuk rumah sakit bareng-bareng hah" bentak raya yang sudah sangat kesal kepada suaminya
__ADS_1
"sayang aku pengen, udah gak kuat ini" bukannya menghentikan aksinya eza malah semakin liar menja mah tubuh raya
"ya Allah kalau bukan suami udah gue cekek lo" batin raya geram