Broken Wedding

Broken Wedding
72


__ADS_3

"selama ini aku selalu sabar menerima setiap sikap kasar kamu, aku selalu berharap suatu hari nanti kamu akan kembali berubah seperti eza yang dulu tapi ternyata aku salah selama ini aku hanya berjuang sendirian larut dalam bayangan jika keluarga kecil kita akan bahagia dan di karuniai anak-anak yang lucu dan menggemaskan tapi hari ini, hari dimana aku harus menyaksikan suami aku sendiri menikahi perempuan lain, pria yang berperan utama untuk aku jadikan sumber kebahagiaanku tapi kenyataannya kamu adalah pria pertama yang menggoreskan luka paling dalam di hidup aku za" ucap raya dengan lelehan airmata yang jatuh begitu saja tanpa permisi


"maaf ray, aku tidak berniat sedikitpun untuk menyakiti kamu sampai sedalam ini tapi sebelum aku menikahi dini aku udah tanya sama orang pinter kalau pernikahan kita tidak akan berjalan baik dan kamu bukan istri yang cocok untuk mendampingi aku, karena kalau aku terus mempertahankan kamu seumur hidup aku gak akan punya apa-apa berbeda dengan dini yang akan membawa kekayaan buat aku" sahut eza tak berperasaan membuat raya tersenyum sinis


"sedangkal itu pikiran kamu tentang pikiran kita?" tanya raya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan


"maaf aku cuma ingin merubah hidup aku jadi lebih baik dan berkecukupan tapi bukan dengan kamu" jawab eza semakin membuat


hati raya semakin teriris


"oke, tanda tangani ini dan kita akan bertemu di pengadilan agama" raya menyodorkan sebuah map yang berisi surat gugatan cerainya kepada eza


tanpa basa basi lagi eza langsung menandatangani surat gugatan itu, raya semakin sadar jika tidak ada lagi tempat untuknya di hati eza sekuat apapun dia mencoba bertahan biarlah rasa sakit ini raya rasakan sendiri sampai dia menyembuhkan lukanya dengan caranya sendiri


berulang kali raya menyusut airmatanya yang semakin mengalir deras


raya sama sekali tidak menyangka jika pernikahan yang selama ini dia perjuangkan ternyata berakhir dengan sia-sia


"terima kasih untuk dua tahun kebersamaan kita za, meskipun yang kamu beri hanya luka tapi setidaknya cukup menyadarkan aku bahwa apapun yang kamu berikan dan kamu ucapkan semua itu tidak pernah tulus" ucap raya setelah eza menandatangani surat gugatan itu


"aku benar-benar minta maaf ray, aku yakin kamu akan menemukan kebahagiaan kamu setelah ini meskipun bukan sama aku, jujur aku sayang sama kamu tapi aku gak belum bisa sepenuhnya menerima masa lalu kamu yang selalu menghantui pikiran aku"


"aku pergi za" tanpa merespon ucapan eza, raya bangkit dan meninggalkan eza


"aku pasti datang ke sidang perceraian kita" teriak eza membuat raya menghentikan langkahnya


"gak datang sekalipun itu lebih bagus, karena bisa mempercepat proses perceraian kita" sahut raya tegas dan entah mengapa eza merasakan sesak di dadanya kala perpisahan itu sudah berada di pelupuk matanya


"maafin aku ray maaf sudah memberikan luka yang begitu dalam dan mungkin saja sulit buat kamu lupakan, berbahagialah dengan kehidupan kamu yang baru tanpa ada sosok laki-laki pe nge cut seperti aku di dalamnya" lirih eza terus menatap kepergian raya dengan setetes airmata yang menjatuhi pipi nya

__ADS_1


raya berjalan tanpa tujuan tubuhnya seakan terombang-ambing mengikuti arah angin yang akan membawanya tanpa arah


raya menangis terisak dadanya terasa semakin sesak mengingat pernikahannya telah hancur


rasa kecewa dalam hatinya sudah tidak bisa di lukiskan dengan apapun lagi, mungkin ini adalah teguran bagi raya karena sudah melakukan dosa besar di masa lalunya yang telah melakukan per zi nahan dengan bara sang mantan kekasih


"sakit yaa Allah... kenapa semesta tidak pernah berpihak kepada hamba" lirih raya dengan airmata yang terus mengalir deras


setelah menyelesaikan urusannya dengan raya, eza masuk kembali ke dalam hotel untuk memberikan penjelasan kepada kedua mertuanya agar tidak berubah pikiran dan memecatnya sebagai menantu


eza melihat ballroom hotel sudah sepi tanpa ada tamu undangan satupun hanya terlihat keluarga inti saja dan dini yang sedang mendapat amukan dari sang ayah


dini menundukan kepalanya saat ayahnya mengatakan jika dini sudah berdosa karena merebut sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain hanya demi ambisinya saja


ayah dini sangat tahu jika putri ya adalah tipe orang yang dangat ambisius dan keras kepala dini akan melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginannya meskipun dengan cara yang salah sekalipun


"pa...." panggil eza lirih


"eza minta maaf pa tapi hari ini raya sudah menggugat eza hanya menunggu sidang perceraian kami dan eza dan raya akan segera resmi berpisah"


"kamu pikir saya masih sudi menerima kamu sebagai menantu saya setelah mempermalukan saya di depan semua orang?"


"pa jangan seperti itu, dini cinta sama eza lagian eza dan istrinya juga akan segera bercerai tidak akan ada masalah lagi bukan?" seloroh dini membantu membela eza


"ternyata cinta sudah membutakan mata hati kamu andini"


"pa please untuk kali ini saja" rengek dini


"baiklah papa tidak akan menyuruh kalian untuk berpisah tapi dengan satu syarat"

__ADS_1


"apa syaratnya" tanya dini


"kamu dan eza tetap tinggal terpisah sebelum eza dan istrinya resmi berpisah dan eza tidak boleh sekalipun menyentuh kamu sampai status eza dan istrinya sudah bercerai" ucap ayah dini tanpa ingin menerima bantahan


"tapi pa kita kan sudah menikah masa tinggalnya terpisah" lagi-lagi dini merengek


"patuhi perintah papa atau hari ini juga kamu harus bercerai dengan eza"


"baiklah eza setuju pa" ucap eza mengalah karena tidak ingin cita-citanya menjadi orang kaya akan pupus begitu saja


"bagus... sekarang kamu pulanglah ke rumah kamu dan saya akan mengajak dini pulang bersama saya ingat patuhi semua perintah saya jika kamu tidak ingin kehilangan anak saya" titah ayah dini dengan tegas dan tidak bisa di bantah


di tempat lain raya yang masih terus berjalan tidak memperdulikan rasa lelahnya sama sekali, wajah raya terlihat sangat berantakan dengan make up yang sudah luntur namun masih tetap terlihat cantik dengan hijab yang masih membalut kepalanya


raya sudah berhenti menangis meskipun matanya terlihat sangat sembab, raya berhenti tiba-tiba kala mendengar suara seseorang yang begitu mengusik pendengarannya


"mau jalan sampe mana? gak cape apa jalan tanpa tujuan? nanti kalau pingsan gimana? mana di hubungi gak bisa dari tadi bikin gue khawatir aja" ucap raffael yang terkesan sangat bawel menurut raya


"ngapain ngikutin gue? pergi sana, puas kan lo liat gue kayak gini?" sahut raya ketus


"puas banget lah akhirnya lo berani juga buat


gugat cerai tuh taplak meja, bahagia banget gue sumpah" seru raffael sumringah seolah tak peduli dengan perasaan raya saat ini


"pergi lo, gue mau sendiri" usir raya


"gue mau nemenin lo"


"gue mau sendiri, ngerti gak sih" bentak raya namun tak mengurungkan niat raffael sedikitpun

__ADS_1


"gue cuman mau nemenin lo doang anggap aja gue gak ada, gue gak mau lo kenapa-napa raya... ngerti gak sih"


__ADS_2