
setelah drama percekcokan di pagi hari itu eza tetap mengantarkan raya, rasa sesak yang raya rasakan karena ucapan eza sungguh tidak bisa raya lupakan begitu saja. raya benar-benar merasa terhina karena ucapan suaminya sendiri, suami yang seharusnya bisa menjadi pelindung baginya, seorang suami yang seharusnya bisa menjadi tempat bersandar ketika dirinya sedang bersedih tapi kenyataannya eza lah orang yang paling menyakiti hati raya saat ini, apa pantas raya mendapat perlakuan seperti ini hanya karena masa lalunya yang tidak baik semua orang pasti pernah melakukan kesalahan bukan tapi kenapa sedikit saja eza tidak pernah melihat sisi baik dari diri raya tidak ada manusia yang sempurna, manusia tempatnya salah dan dosa bukan tapi kenapa di mata eza seakan hamya raya yang mempunyai dosa besar sedangkan dirinya merasa paling benar dan paling suci
"kak raya aku rindu" ucap tari saat melihat raya masuk ke dalam ruangan mereka
"aku juga rindu" balas raya tersenyum ramah
"kemarin kakak kenapa tidak masuk kerja? kakak sakit?" tanya tari perhatian
"kurang enak badan aja sih kemaren makanya gak masuk kerja, gimana soal event produk kecantikan itu tar udah ada perkembangan belom?"
"kemarin aku sama pak haris sudah nentuin sih siapa yang akan menjadi host dan bintang tamunya kak tapi kakak bisa lihat lagi kali aja kakak kurang cocok sama ide aku"
"mau siapapun itu aku gak masalah sih yang penting profesional aja, dan satu lagi honornya jangan melebihi budget yang di kasih sama perusahaan ya"
"siap kak aku udah pastiin itu semua kok, kakak tenang aja"
"oke mari kita mulai bekerja, semangat"
"semangat kak"
raya mencoba melupakan masalah rumah tangganya dengan sibuk bekerja, dengan kehadiran tari yang cukup cerewet bisa menghibur kegundahan hati raya saat ini raya bersyukur masih mempunyai pekerjaan untuk mengalihkan permaslahan yang kini tengah menimpa kehidupan rumah tangganya setidaknya jika berada di kantor raya bisa melupakan rasa sakitnya
saat raya sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya tiba-tiba ponsel raya berdering menandakan ada panggilan telefon yang masuk
"iya hallo bun"
raya menjawab panggilan telefon dari bunda lena
"apa kabar nak? bunda dan ayah kangen kapan mau nginap disini?"
"insyallah akhir pekan ini ya bun soalnya raya lagi sibuk-sibuknya di kantor"
"baiklah bunda tunggu, kalau jadi rara juga akan pulang akhir pekan ini sekalian kita bisa berkumpul"
"iya, bunda sama ayah sehat kan? jangan terlalu banyak pikiran ya"
"alhamdulilah bunda sama ayah sehat, bunda hanya rindu anak-anak bunda"
"bunda jangan sedih, raya janji akhir pekan ini raya nginep di rumah bunda ya"
"baiklah nak bunda tunggu"
raya kembali bekerja setelah mematikan panggilan telfon dengan bunda lena, tiba-tiba raya teringat dengan kondisi pernikahannya yang sedang rumit tidak mungkin raya mengajak eza untuk menginap di rumah orang tuanya jika hubungannya dengan eza sedang bermasalah pasti akan menimbulkan kecurigaan untuk kedua orang tuanya
__ADS_1
raya berpikir kerasa memikirkan alasan yang tepat jika dirinya menginap seorang diri tanoa di temani sang suami
"bengong mulu, kerja woy kerja" gertak salna saat melihat raya melamun saat jam kerja
"ini juga lagi kerja kali mbak" sahut raya
"di bilangin jangan manggil saya mbak, ngeyel banget sih"
"iya maaf kak salma yang terhormat"
"kerja yang bener jangan kebanyakan ngelamun rugi dong perusahaan kalau ngasih gaji buta buat karyawannya"
"baik"
dari pada berdebat dengan sekretaris sang bos raya memilih untuk mengalah karena jika di ladeni urusannya akan panjang, raya tak mengerti kenapa salma begitu ketus padanya berbeda sikapnya jika dengan karyawan lain jelas-jelas jika di bandingkan dengan dirinya sudah pasti salma yang lebih beruntung disini
"kak makan siang yuk" ajak tari
"emangnya udah jam makan siang ya?" tanya raya
"kakak sibuk banget ya sampai gak sadar waktu gitu"
"ya begitulah, ya sudah ayo kita makan"
"cafe depan aja deh ya aku sekalian mau ngopi ngantuk banget rasanya"
"oke capcus"
raya dan tari makan siang di cafe yang bersebrangan dengan kantor, raya memesan beberapa cemilan dan hot cappucinno favorinya sedangkan tari yang memang sudah sangat lapar memesan nasi goreng plus salad buah untuk makanan penutupnya
"kamu gak salah pesen nasi goreng sama salad buah tar?" tanya raya melongo
"engga dong kan biar kenyang kak" jawab tari tertawa
"salad buahnya mau pake nasi sekalian gak biar tambah kenyang" ledek raya tergelak
"ish kak raya" sahut tari mengerucutkan bibirnya
saat sedang asyik memakan makanannya raya tidak sengaja melihat eza yang baru datang dengan seorang wanita berhijab, mereka terlihat begitu dekat katena sang wanita menggandeng tangan eza begitu erat layaknya sepasang kekasih yang akan makan siang bersama
"apa dia cewek selingkuhan eza, tapi kok bisa sih cewek pake hijan gitu jadi pelakor"
raya bergelut dengan pikirannya sendiri sampai ucapan tari tidak di gubrisnya sama sekali, raya berusaha menekan rasa sesak di dalam dadanya kala melihat eza yang terkihat semakin mesra dengan wanita berhijab itu, tari mengikuti arah pandangan raya dan betapa terkejutnya saat tari melihat eza yang sedang makan siang bersama wanita lain, tari merasa geram karena eza bernai mengkhianati raya yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri
__ADS_1
"kak raya" panggil tari dengan nada tinggi
"astagfirullah tar ada apa?" tanya raya kaget
"kenapa kakak diem aja?" raya mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan pertanyaan tari
"itu" tunjuk tari dengan dagunya
"aku kira kamu gak liat" ucap raya lirih
"mata aku masih berfungsi dengan baik kak, kenapa kakak diem aja? apa jangan-jangan kakak udah tahu ya kalau kak eza selingkuh di belakang kakak?" tanya tari mengintimidasi
"biarin aja eza ngelakuin apa yang dia mau tar" sahut raya menundukan kepalanya menahan tangis
sungguh raya sudah berusaha menahan airmatanya untuk tidak tumpah, tapi mendengar ucapan tari membuat rasa sesak di hati raya semakin mengujam jantungnya, sakit sungguh sakit melihat eza bermesraan dengan wanita lain di depan mata raya sendiri, raya berusaha untuk kuat namun apalah daya raya hanya manusia yang tidak menahan rasa sakit yang begitu menusuk ulu hatinya akhirnya airmata raya luruh juga
"gak bisa di biarin" ucap tari dengan nada marah berusaha bangkit dari kursinya dan berniat untuk menghampiri eza dan selingkuhannya
"jangan tar, please" raya menahan tari yang hendak berjalan ke arah eza
"kenapa kak? kak eza udah nyakitin kakak, kakak berhak marah dan hajar itu cewek, berhijab kok hatinya kayak iblis" geram tari melihat tingkah eza yang di luar batas
"ini di tempat umum tar biar nanti di rumah kakak akan selesaikan masalah kakak sama eza"
"aku gak rela ya kalau kakak di sakitin kayak gini, mending kalau selingkuhannya cantik mukanya tua banget gitu juga, cantikkan kak raya kemana-mana lah dasar kak eza be go"
"udah jangan marah-marah nanti cepet tua"
"awas aja ya kak kalau sampai kak eza bener selingkuhin kakak jangan kasih ampun kak tinggalin aja dia masih banyak cowok yang mau sama kakak, kakak itu cantik, seksi, pinter, baik hati pasti banyak para pengusaha yang mau sama kakak"
"iya, makasih ya udah belain aku sampai segitunya"
"kak aku nganggep kak raya udah kayak kakak aku sendiri, jelas lah aku gak rela kalau kakak di sakitin sama cowok pas-pasan kayak gitu....." tari melirik raya karena keceplosan
"ooppss maaf keceplosan kak" lanjut tari menutup bibirnya merasa tak enak hati
"gak apa-apa emang kenyataannya wajah eza pas-pasan kan" sahut raya terkikik dengan sisa airmata yang masih menetes di sudut matanya
tari menghapus airmata raya sambil tersenyum manis membuat raya terharu karena perhatian yang di berikan oleh tari, bukannya berhenti menangis raya semakin terisak melihat tari yang sangat menyayanginya meskipun di antara keduanya tidak ada hubungan darah
"jangan nangisin cowok kayak kak eza ya kak janji ini tangisan kakak yang terakhir untuk kak eza, kakak lebih cantik kalau tersenyum" ucap tari menggenggam tangan raya
"makasih ya tar"
__ADS_1
"iya kak"