Broken Wedding

Broken Wedding
54


__ADS_3

raya saat ini sedang menunggu eza di lobi kantor bukan semata-mata ingin bertemu eza karena rindu raya ingin memperjelas hubungan mereka yang semakin hari semakin rumit saja


ketika raya sibuk menghubungi eza tiba-tiba raya melihat raffael yang sedang berjalan terburu-buru sambil menghubungi seseorang dari ponselnya


raya yang penasaran langsung menghampiri raffael yang hendak membuka pintu mobilnya


"raff ada apa?" tanya raya serius


"abang gue ...." ucapan raffael terjeda


"bara kenapa?"


"kritis ray gue mau ke rumah sakit sekarang"


"gue boleh ikut? please mungkin aja ini yang terakhir kalinya gue ketemu sama abang lo"


"lo bukannya lagi nunggu laki lo"


"dia gak dateng, ayok pergi"


raya langsung masuk ke dalam raffael tanpa menunggu persetujuan raffael, raya terlihat sangat cemas ketika raffael mengatakan jika keadaan bara kritis


raffael melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh karena ingin segera sampai di rumah sakit


tanpa raya tahu ternyata eza sudah sampai di depan kantor sejak raya berbicara dengan raffael, eza memperhatikan apa yang di lakukan oleh raya dengan raffael tanpa ada niatan untuk menghampiri keduanya ketika mobil raffael melaju meninggalkan perusahaan diam-diam eza mengikuti kemana arah mobil raffael


"rumah sakit" gumam eza saat melihat mobil raffael berhenti di salah satu rumah sakit terbesar di jakarta


butuh waktu dua puluh menit sampai akhirnya raffael dan raya tiba di rumah sakit


raya dan raffael berlari menuju ruang rawat bara disana sudah ada mami aruni dan papi hendro awalnya raya merasa sangat segan untuk ikut bergabung bersama kedua orang tua raffael namun raffael meyakinkan raya jika kedua orang tua nya tidak akan keberatan dengan keadaan raya


eza yang memang terus mengikuti kemana langkah kaki raya dan raffael memperhatikan raya dari kejauhan, eza sangat ingin tahu ada keperluan apa raya dan raffael datang ke rumah sakit ini dengan wajah yang terkihat sangat cemas


"mi, pi... bagaimana keadaan abang?" tanya raffael kepada mami aruni dan papi hendro


"masih di tangani dokter fael" jawab papi hendro sambil melirik ke samping raffael dimana raya berdiri disana


"raya kamu disini?" tanya papi hendro menatap raya


"ii ..iya om, maaf kalau kedatangan raya membuat om dan tante tidak suka" jawab raya terbata

__ADS_1


"tidak nak, kami senang kamu ada disini" sahut mami aruni dengan sisa tangisannya


"kamu semakin cantik raya" lanjut mami aruni mengajak raya untuk duduk di sampingnya


"terima kasih tante" sahut raya canggung


"tante senang kamu masih peduli dengan bara nak, terima kasih ya" ucap mami aruni tulus


"iya tante, bagaimana keadaan bara sekarang?"


"bara kritis nak tante sudah coba segala pengobatan untuk bara bisa sembuh tapi ternyata takdir tuhan berkata lain kondisi bara malah semakin memburuk" ucap mami aruni menitikan air matanya


"tante yang sabar ya, semoga bara bisa melewati masa kritisnya dan bisa sembuh seperti sedia kala"


"sulit ray kata dokter sel kanker yang ada di dalam tubuh bara sudah semakin menyebar"


raya tidak menjawab kembali ucapan mami aruni, raya sendiri tidak begitu yakin jika bara akan bertahan lebih lama lagi melawan penyakitnya raya hanya berusaha membesarkan hati mami aruni jika bara akan kembali sembuh seperti sedia kala meskipun raya tahu itu sangatlah sulit


tiba-tiba mami aruni memeluk raya erat menumpahkan kesedihannya, raya membeku mendapat pelukan tiba-tiba dari calon ibu mertua tidak jadinya itu


raya memberanikan diri untuk mengusap punggung mami aruni untuk sedikit menguatkan mami aruni yang benar merasa sedih saat ini


tiba-tiba dokter keluar dari ruang rawat bara dengan wajah yang sulit di artikan


"saya papi nya dok, bagaimana keadaan putra saya?" tanya papi hendro


"mohon maaf pak saya sudah berusaha semaksimal mungkin tapi ternyata Tuhan berkehendak lain pak bara sudah berpulang" jawab dokter paruh baya itu dengan berat hati


"innalilahi wainailaihirojiun" lirih papi hendro mencoba untuk tetap kuat mengahadapi kenyataan pahit ini


"dok kakak saya sangat kuat tidak mungkin dia meninggalkan kami secepat ini" ucap raffael tidak percaya dengan meninggalnya sang kakak


"kami tim dokter disini turut berduka cita yang sedalam-dalamnya, ikhlaskan kakak anda agar dia bisa pergi dengan tenang" sahut dokter itu menepuk pundak raffael yang mulai terisak


"bara anak mami, mami belum siap kamu tinggalkan nak" lirih mami aruni yang sedang menangis di dalam pelukan raya


"dok saya boleh melihat jenazah anak saya" seru papi hendro dengan suara bergetar menahan tangis


"silahkan pak"


papi hendro menopang tubuh mami aruni yang sudah lemas tak bertenaga masuk ke dalam ruang rawat bara

__ADS_1


disana terlihat para perawat sedang melepaskan semua alat bantu yang masih menempel di tubuh bara


wajah bara yang terlihat sangat pucat namun senyum simpul terlihat dari bibirnya


dengan tubuh bergetar mami aruni memeluk tubuh bara untuk yang terakhir kalinya


rasa sesak di dalam dada dan air mata yang terus berjatuhan tidak membuat mami aruni lebih baik


mami aruni mencoba untuk mengikhlaskan kepergian putra sulungnya ke pangkuan ilahi meskipun sangat berat


papi hendro tak berhenti terus menguatkan mami aruni yang terus menangis memeluk jenazah bara


"sayang kenapa tinggalkan mami secepat ini, katanya mau menikah dan memberikan mami banyak cucu tapi kenapa kamu malah pergi nak, mami gak sanggup kehilangan kamu sayang mami gak sanggup" lirih mamu aruni pilu


"yang kuat mi ikhlaskan bara, bara tidak akan merasakan sakit lagi setelah ini


bara akan tetap hidup di hati kita semua meskipun raga nya tidak lagi bersama kita" ucap papi hendro menenangkan mami aruni


"hati mami sakit pi, segala cara mami lakukan untuk kesembuhan bara tapi kenapa Tuhan mengambil bara dari kita hati mami hancur pi"


"yang sabar, yang kuat, yang ikhlas mi


hati papi juga sama hancurnya tapi kita harus ikhlas menerima kenyataan ini"


pegangan tangan mami aruni kian melemah, suara tangisannya mulai tidak terdengar dan....


brukkkkk


mami aruni jatuh pingsan untung saja papi hendro selalu sigap berada di samping mami aruni


mami aruni segera di tangani oleh dokter di ruangan lain di dampingi oleh papi hendro


hati raffael sangat sakit melihat rapuhnya papi hendro dan mami aruni


awalnya raffael adalah satu-satunya orang yang mulai ikhlas menerima bara jika harus di panggil oleh maha kuasa tapi di saat hari ini tiba ternyata raffael tidak cukup ikhlas menerima kepergian sang kakak yang selama ini menjadi panutan baginya


raffael memandangi wajah pucat sang kakak yang sudah berpulang hatinya terasa di remat sangat sakit dan hancur


"bang kenapa lo pergi, gue masih butuh lo disini bang" lirih raffael yang sudah tidak bisa lagi membendung airmatanya


"gue turut berduka cita raff, lo yang ikhlas lo yang sabar ya ini yang terbaik buat bara" ucap raya tulus mengelus lembut pundak raffael yang sedang menangis di hadapan jenazah sang kakak

__ADS_1


"ternyata gue gak sekuat itu ray, hati gue hancur"


__ADS_2