
"hai calon istri" sapa raffael saat raya sedang berjalan menuju ruang kerjanya
"jangan gila raff" sahut raya ketus
"gue rela kalau harus gila karena lo" ceplos
raffael
"raff gue serius jangan bersikap berlebihan hubungan kita di kantor sebagai bos dan bawahannya jangan membuat karyawan yang lain mikir macem-macem tentang gue"
"lo masih bisa mikirin orang lain tapi lo gak pernah mikirin diri lo sendiri"
"raff please jangan melebar kemana-mana"
"apanya yang melebar? orang badan lo kurus begini ayok kita makan siang bareng" raffael merangkul pundak raya dan membawanya ke arah kantin
"raff jangan bikin posisi gue makin sulit, kenapa sih lo jadi nyebelin kayak gini? lagian gue gak laper lo aja yang makan sendirian"
"apanya yang sulit sih ray? lo hanya perlu tinggalin suami gak berguna lo itu terus Lo bisa hidup bebas dan bahagia tanpa dia, gampang kan?"
"raff jangan buat gue bener-bener ngejauhin lo ya" ancam raya
"coba aja kalau bisa" tantang raffael
karena sudah terlalu kesal dengan sikap raffael, raya melepaskan rangkulan tangan raffael dari pundaknya dengan kasar dan pergi meninggalkan raffael yang masih mematung memandangi kepergian raya
berulang kali raffael berusaha menghibur raya dengan semua tingkah konyolnya berharap raya akan sedikit melupakan masalahnya dengan eza tapi ternyata apa yang di lakukan raffael kali ini malah semakin membuat raya kesal
"sampai kapan lo terus kayak gini ray, hati gue sakit ngeliat sikap lo yang berubah dingin sama gue padahal gue cuman mau ada di saat lo butuh tempat untuk bersandar"
raya menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang kerjanya, raya benar-benar merasa sangat lelah dengan semua permasalahan yang sedang menimpanya saat ini jika bisa memilih raya hanya ingin menyendiri dan melupakan tentang pekerjaannya barang sejenak tapi apalah daya raya hanya seorang karyawan biasa yang harus mematuhi aturan perusahaan jika tidak ingin kehilangan pekerjaannya secara cuma-cuma meskipun perusahaan ini adalah milik sahabatnya sendiri tetap saja raya tidak bisa seenaknya karena raya sangat tahu raffael sangat profesional dalam masalah pekerjaan
sedangkan di tempat lain tepatnya di salah satu mall terbesar di ibukota eza dan dini sedang memilih cincin pernikahan untuk mereka
setelah mendapat restu dari nenek sukma eza memutuskan untuk menikahi dini akhir pekan ini, seolah tidak peduli dengan mama yeni yang tidak memberikannya restu eza nekad akan menikah dengan dini tanpa di hadiri oleh mama yeni dan anita
eza tidak ingin membuang-buang waktu untuk segera menikmati hidup dalam kemewahan yang di janjikan oleh keluarga dini terlebih eza begitu tidak sabar untuk segera melakukan penyatuan dengan dini karena menurut pengakuan wanita yang berhijab itu dia masih perawan tulen belum pernah terjamah oleh pria manapaun
__ADS_1
"ya Allah kenapa dadaku rasanya sangat sesak, ada apa ini?" batin raya memegang dadanya yang seperti di tusuk belati
"kak, kak raya gak apa-apa?" tanya tari yang sejak tadi memperhatikan raya
"aku gak apa-apa hanya sedikit pusing aja, nanti juga hilang sendiri" jawab raya bohong
"kalau sakit jangan maksain kerja kak, mending kakak minta ijin pulang lebih cepet atau bisa tidur di klinik perusahaan" saran tari
"aku baik-baik aja tari, jangan khawatir"
"tapi wajah kakak pucet lho"
"masa sih? aku abis cuci muka belum sempat touch up lagi makanya keliatan pucet"
"ya Allah kak raya mau sampai kapan sih pura-pura kuat terus kayak gini" batin tari menatap raya sedih
jam pulang kerja pun tiba raya bergegas menuju parkiran untuk mengambil motornya, ya sejak dua minggu lalu raya memutuskan untuk membeli motor sendiri agar lebih mudah berangkat untuk bekerja ketimbang harus memesan taksi atau ojek online, raya juga sudah mulai melanjutkan kembali kuliahnya dan mengambil jurusan sesuai yang dia cita-citakan selama ini
raya hendak mengendarai motornya namun tiba-tiba ada seorang pria yang memanggil namanya
"kamu kenapa buru-buru raya? ada sesuatu yang mau saya sampaikan" seru haris ketika sampai di hadapan raya
"ada apa ya pak? saya buru-buru karena ada kelas setelah ini" jawab raya jujur
"kelas? kamu kuliah?" tanya haris
"iya saya baru kuliah lagi pak"
"oh gitu"
"jadi apa yang mau bapak sampaikan"
"mmm begini..... weekend ini ada perusahaan ponsel yang mau kerja sama dengan perusahaan kita buat launching ponsel keluaran terbaru di perusahaan mereka, apa kamu bisa handle?"
"baik pak saya usahakan, di bantu bapak sama tari juga kan?"
"ya iyalah masa kamu kerja sendirian tapi disini kerjaan kamu akan lebih banyak"
__ADS_1
"maksud bapak?" raya mengernyitkan keningnya
"kamu yang di minta untuk ngisi acaranya" ucap haris
"nyanyi lagi?" tanya raya dengan nada malas
haris hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban setelah itu dia langsung pergi karena mendapat wejangan dari raffael agar tidak terlalu berdeketan dengan raya karena menurut raffael, haris bisa jatuh cinta kepada raya jika terlalu lama memandang wanita pujaan hatinya itu dan raffael tidak mau sampai itu terjadi
raya hanya akan menjadi miliknya seorang
raya menatap kepergian haris dengan tatapan jengah karena ide konyol darinya yang pertama kali menyuruh raya untuk bernyanyi sampai sekarang jika akan mengadakan event besar selalu dirinya yang meminta mengisi acaranya untuk menyanyikan beberapa lagu bukan tidak suka tapi setelah namanya viral di sosmed jadi banyak orang-orang iseng yang mengirim pesan kepadanya lewat media sosial membuat raya tidak nyaman bahkan sempat beberapa kali ada seorang pemilik cafe menawarkan bekerja untuk bernyanyi namun raya selalu menolak karena bernyanyi hanya menjadi hobby nya saja
raya sampai di rumah tepat pukul 21:00 setelah menyelesaikan kuliahnya
raya terlihat sangat lelah dan hal itu mengundang perhatian sang ibu yang merasa kasihan melihat putri bungsunya harus kuliah sambil bekerja karena sang ayah tidak memiliki uang untuk membiayai kuliahnya serta permasalahan rumah tangganya dengan eza yang tak kunjung menemukan titik terang berulang kali bunda lena menyuruh raya untuk mengjukan gugatan perceraian kalau memang sudah tidak ada lagi kecocokan antara dirinya dengan eza namun raya selalu menolak dengan alasan akan menunggu eza yang menceraikan saja tanpa harus repot-repot mengurus ke pengadilan agama
"baru pulang nak? makan dulu gih bunda masak kesukaan kamu" titah bunda lena mengelus pucuk rambut raya lembut
"iya bun capek banget" sahut raya lesu
"maafin bunda sama ayah ya, karena gaji ayah yang pas-pasan kamu jadi membiayai kuliah kamu sendiri" ucap bunda lena sendu
"hussss, bunda jangan ngomong gitu raya malah seneng bisa kuliah dengan biaya sendiri dari pada uang hasil kerja raya habis percuma mending di pake buat kuliah kan bun lebih bermanfaat" sahut raya tidak ingin membuat bunda lena sedih
"bunda tahu kamu anak bunda yang paling luar biasa sayang, bunda bangga sama kamu tapi...."
"tapi apa?"
"sampai kapan hubungan kamu dan eza akan seperti ini? status kamu masih seorang istri tapi malah seperti janda bunda gak tega denger ucapan tetangga yang selalu menjelek-jelekan kamu nak"
"bunda gak usah dengerin omongan orang lain toh kita juga gak minta makan sama mereka, jangan banyak pikiran nanti malah bunda yang sakit
raya janji secepatnya akan menyelesaikan masalah raya dengan eza biar kita bisa hidup tenang lagi"
bunda lena menatap sedih anak bungsunya yang selalu berusaha terlihat kuat namun bunda lena sangat tahu jika raya sebenarnya sangat rapuh saat ini
bunda lena tetap diam pura-pura tidak mengetahui apa yang menjadi sebab kacaunya pernikahan raya dan eza karena selama raya tinggal di rumahnya tanpa eza para tetangga dan teman-teman sekolah raya dulu sering membicarakan kelakuan eza yang selalu terlihat jalan bersama dengan beberapa wanita di belakang raya namun bunda lena tidak ingin percaya begitu saja dengan omongan para tetangganya. meskipun dalam hatinya bunda lena juga merasa bahwa eza bukan pria yang baik untuk di jadikan suami bunda lena lebih memilih akan menunggu sampai raya yang siap untuk bercerita sendiri kepadanya tentang permasalahan rumah tangganya dengan eza
__ADS_1