Broken Wedding

Broken Wedding
52


__ADS_3

"muka kamu kenapa nak?" tanya mami aruni ketika raffael sampai di rumah sakit


"berantem sama siluman biawak" jawab raffael ngasal


"raffael mami tanya serius" sentak mami aruni mkesal


"udah lah mi gak usah di bahas, aku gak apa-apa aku kan anak mami yang paling kuat" seru raffael nyengir kuda


"anak sableng"


"mami jangan marah-marah nanti keriputnya makin nambah"


mami aruni langsung memeriksa wajahnya di cermin kecil yang selalu ia bawa dalam tasnya, mami aruni memastikan jika kerutan di wajahnya belum terlihat sama sekali memang tidak bisa di pungkiri mami aruni yang usianya akan menginjak kepala lima namun masih terlihat cantik dan fresh belum terlihat kerutan sama sekali di wajahnya tentu saja karena perawatan yang mami aruni keluarkan biaya nya tidak sedikit


raffael tergelak karena melihat mami aruni yang ketar ketir karena ucapan asal raffael


"mami lebay" bisik raffael


"kamu ngerjain mami?" tanya mami aruni dengan tatapan tajamnya namun Raffael hanya mengedikan bahunya sebagai jawaban


"keadaan abang gimana mi? bukannya kemarin udah baikan ya" tanya raffael mengalihkan pembicaraan


"sel kanker di tubuh abang kamu sudah semakin meluas fael, dan sekarang sudah sampai di pembuluh darah di dalam otaknya... kakak kamu di nyatakan koma sampai waktu yang tidak bisa di tentukan" jawab mami aruni sendu


"lebih baik ikhlaskan abang mi" celetuk raffael


"kamu mendoakan abang kamu meninggal? adik kurang ajar" sungut mami aruni


"bukan gitu mi, aku gak tega aja liat abang yang selalu tersiksa karena menahan rasa sakitnya kita tidak bisa bantu apa-apa bukan ketika sakit abang kambuh? jika harus bertahan lebih lama pun aku gak tega mi, badan abang semakin kurus pasti rasa sakit yang di derita abang sangat luar biasa setidaknya jika kita semua mengikhlaskan abang untuk pergi abang tidak akan merasakan kesakitan lagi" ucap raffael panjang lebar


mami aruni terisak mendengar ucapan raffael, mami aruni belum ikhlas jika harus berpisah untuk selama-lamanya dengan anak sulungnya selama ini mami aruni maupun papi hendro selalu berusaha apapun untuk kesembuhan bara namun ternyata sel kanker yang bersarang dalam tubuh bara sudah semakin menyebar dan untuk sembuh pun harapannya sangat kecil


jika bisa mami aruni meminta , mami aruni rela jika harus menggantikan sakit yang di derita oleh bara namun apalah daya semua yang terjadi sudah di gariskan oleh Tuhan


di tempat lain raya saat ini sedang mendapat ceramah dari kedua sahabatnya tere dan sashi

__ADS_1


raya tidak bisa menyela apapun yang di katakan oleh tere dan sashi karena memang yang di katakan oleh keduanya memang benar raya saja yang bo doh karena menilih bertahan dengan pria yang sudah jelas menyakitinya begitu dalam


"jadi sekarang keputusan lo gimana?" tanya tere dengan tatapan mengintimidasi


"gue belum tahu" jawab raya menundukan wajahnya


"ya Tuhan raya lo itu di kasih pelet apa sih sama si taplak meja itu, heran gue udah di bikin bonyok juga itu muka tetep aja cinta, lo mau nunggu sampai kapan hah?" timpal sashi kesal


"guys kasih gue waktu please"


"terserah lo aja" sahut tere dan sashi membuat raya semakin merasa bersalah


"maafin gue" ucap raya terisak


"gak usah minta maaf ray kita cuman mau lo bahagia bukan tersiksa kayak gini, kita gak akan nyuruh lo pisah kalau eza memperlakukan lo dengan baik, sayang sama lo dengan tulus... lo setia aja dia nyakitin lo sampe kayak gini apalagi kalau lo selingkuh? ini gak adil buat lo ray" ucap tere mencoba memberi pengertian


"kita berdua sayang sama lo, kita gak tega ngeliat lo terluka sendirian kayak gini ray... pikirin baik-baik apapun keputusan lo kita berdua selalu ada buat ada lo" timpal sashi


raya memeluk kedua sahabatnya begitu erat, di tengah luka yang eza berikan untuknya raya bersyukur masih di kelilingi sahabat yang sangat sayang dan peduli padanya,


dulu memang raya berharap jika dia ingin menjalani pernikahan sekali seumur hidupnya namun ternyata realita tidak sesuai ekspektasi


raya tidak ingin mengambil keputusan saat sedang marah dia ingin memutuskan segala sesuatunya dengan kepala dingin dan tidak akan menimbulkan penyesalan di akhir nanti


malam ini raya memutuskan untuk menginap di kontrakan tere, kedua orang tua tere menetap di semarang sejak tere lulus SMA karena ayah tere di pindah tugaskan ke kota yang terkenal dengan makanan khas bakpia itu namun tere tidak ingin ikut karena merasa disana tidak akan mempunyai teman seperti raya dan sashi dan tere memutuskan untuk mengontrak rumah saja dari pada harus ikut dengan kedua orang tuanya


raya tidak mungkin pulang ke rumah kedua orang tuanya dengan kondisinya yang seperti itu dan untuk pulang ke rumah mertuanya pun raya masih malas mengingat kejadian dimana eza tega menampar dan memukulnya dengan brutal bahkan sampai saat ini jangankan untuk meminta maaf menanyakan keadaan raya pun tidak


raya ingin melupakan sejenak masalahnya dan ingin segera terbang ke alam mimpi, tepat pukul 23:00 raya terlelap di dalam pelukan kedua sahabatnya


*


*


*

__ADS_1


pukul 06:30


pagi ini tere di kejutkan karena ada seseorang yang menggedor pintu rumahnya begitu kencang


dengan setengah sadar tere membuka pintu karena takut penghuni rumah yang lain akan terganggu


"mana raya?" tanya raffael dengan senyuman saat tere membuka pintu rumahnya


"ya Tuhan raffael lo bisa kan ketuk pintu pelan aja, kayak rentenir yang mau nagih utang tahu gak" sungut tere masih setengah mengantuk


"lo aja yang kebo cewek kok jam segini masih mo lor jodoh lo di patok kodok nanti, cepet bangunin raya dia harus kerja hari ini" titah raffael


"ogah lo bangunin aja sendiri"


"gue takut khilaf kalau bangunin raya cuman sendirian"


"bang ke.... tunggu bentar"


dengan malas tere masuk kembali ke dalam kamar berniat untuk membangunkan raya namun ternyata raya sudah bangun dan baru keluar dari kamar mandi


"ada raffael, samperin sono" ucap tere


"ngapain tuh anak kesini pagi-pagi" sahut raya


"mana gue tahu" tere menjatuhkan kembali tubuhnya ke atas ranjang dan kembali tidur


"astaga raya lo belom siap-siap?" tanya raffael melihat raya yang masih mengenakan piyama


"emang mau kemana?"


"kerja lah lo mau gue pecat hah?"


"kasih gue ijin sehari lagi deh raff, lo gak liat muka gue masih gak berbentuk gini"


"big no... lo siap-siap sekarang gue tunggu disini lima belas menit"

__ADS_1


"raffael lo tega"


"bodo amat"


__ADS_2