
raffael berusaha memejamkan matanya namun nihil raffael tidak merasakan ngantuk sedikitpun, raffael tidak bisa menghilangkan raya dari pikirannya barang sedikitpun
raffae mencoba mengirim pesan kepada raya berharap raya masih terjaga dan membalas pesan darinya
tiga puluh menit berlalu raya tak kunjung membalas pesan yang di kirim raffael.
raffael langsung melihat jam yang menempel di dinding kamarnya sudah menunjukan pukul 02:00
"pasti sudah tidur" gumam raffael mencoba untuk kembali memejamkan matanya
pagi menjelang raffael masih terlelap di bawah selimut yang menutupi seluruh badannya padahal seharusnya pagi ini raffael harus menghadiri meeting penting di perusahaannya
raya yang sudah siap dan rapi dengan pakaian kerjanya yang sengaja raffael siapkan di apartemennya berulang kali menghubungi raffael namun tidak ada jawaban sama sekali terpaksa raya memesan ojeg online untuk berangkat ke kantor karena tidak sampai di tegur karena kesiangan
"masih berani kamu datang ke kantor?" sentak pak haris ketika raya baru sampai di loby kantor
"maaf pak" ucap raya menundukan kepalanya
"maaf kamu bilang? kamu sudah membuat malu perusahaan kita raya, dan yang harus kamu tahu perusahaan itu langsung memutuskan kontrak kerjasama nya dengan kita karena kita di anggap tidak profesional masih untung perusahaan mereka tidak meminta kita untuk ganti rugi" cerocos pak haris panjang lebar membuat telinga raya terasa pengang di buatnya
"saya minta maaf pak ini semua murni kesalahan saya, saya akan menerima apapun konsekuensinya atas kelalaian saya sekalipun bapak akan memecat saya, saya terima" sahut raya membuat haris menautkan kedua alisnya tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar
"pecat?" beo haris
"kamu sudah tidak ingin bekerja di perusahaan lagi?" lanjut haris
"jika memang saya membuat perusahaan merugi dan tidak bertanggung jawab atas pekerjaan saya ikhlas kalau memang bapak berniat untuk memecat saya"
raya yang memang belum bisa mengendalikan emosinya setelah kejadian di mana dia harus menyaksikan eza menikah lagi membuat raya tidak bisa berpikir jernih dalam berucap
__ADS_1
raya seakan enggan untuk berdebat dengan siapapun, raya pasrah akan semua yang akan terjadi dalam hidupnya
perceraian, bahkan jika sampai di pecat dari perusahaan raya akan terima mungkin saat ini nasib baik sedang tidak berpihak padanya
raya masih mematung menunggu keputusan pak haris yang tak kunjung memecat dirinya
"jadi bagaimana keputusannya pak? saya jadi di pecat tidak?" gertak raya dengan wajah datarnya
"siapa yang mau memecat kamu raya" sahut haris
"ya sudah kalau begitu saya permisi mau ke ruangan saya" pamit raya melenggang pergi meninggalkan haris yang merasa aneh dengan sikap raya pagi ini
"tuh anak kesambet setan apaan? aneh bener" gumam haris berjalan menuju ruangannya
weekend kemaren tepat dimana eza melangsungkan pernikahannya dengan dini seharusnya raya juga melakukan tugasnya untuk menjadi penanggung jawab atas event yang sedang di adakan di perusahaannya namun raya nekad tidak hadir dalam event itu karena ingin menyelesaikan masalah pernikahannya dengan eza, sebelum benar-benar menggugat eza ke pengadilan agama beberapa hari sebelumnya setelah mendapat kabar dari anita raya langsung mengumpulkan beberapa bukti atas semua perselingkuhan dan kekerasan yang di lakukan oleh eza kepadanya tentu saja dengan bantuan raffael
saat itu raya sudah bertekad untuk mengakhiri pernikahannya dengan eza karena sudah tidak ada gunanya lagi raya bertahan sedangkan eza dengan mudah mengucapkan ijab kabul dengan perempuan lain disaat dirinya masih sah berstatus sebagai suami raya
tari merasa ada sesuatu yang terjadi dengan kakak jadi-jadiannya itu karena tidak biasanya raya bersikap dingin seperti itu
perlahan tari mendekat ke meja raya memandang wajah raya dan sangat jelas terlihat jika mata raya sembab karena habis menangis semalaman
"kak apa yang terjadi?" tanya tari menggenggam erat jari jemari raya seakan sudah tahu apa yang sedang raya rasakan saat ini
"cerita sama aku kak jangan di pendem sendiri" lanjut tari karena melihat kedua mata raya mulai berembun
raya sudah tidak mampu lagi untuk berucap raya memilih menumpahkan semuanya ke dalam tangisannya, tari langsung memeluk raya erat mencoba menenangkan raya meskipun raya belum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi
seakan ikut merasakan apa yang saat ini sedang menimpa raya, hati tari merasa ikut sakit mendengar tangisan raya yang begitu menyesakkan dada
__ADS_1
"ada aku kak, kakak jangan pernah ngerasa sendirian
menangislah sampai perasaan kakak merasa lebih lega" ucap tari membuat raya semakin terisak
raya semakin memeluk tubuh tari begitu erat rasanya sangat sakit jika mengingat semua pengkhianatan yang sudah di lakukan eza kepadanya, tidak bisa di pungkiri saat ini raya masih memiliki rasa cinta untuk eza meskipun tidak sebesar dulu, butuh waktu bagi raya untuk menghilangkan semua rasa cinta yang masih raya punya untuk eza
haris yang tidak sengaja lewat ruangan raya melihat raya yang sedang menangis terisak, haris diam sejenak untuk menguping apa yang sedang tari bicarakan kepada raya namun nihil yang terdengar hanya suara isakan tangis raya saja
haris berlalu dari ruangan raya dan langsung menelfon raffael untuk memberitahukan keadaan raya saat ini
"ya Tuhan kenapa gak di angkat juga sih" umpat haris kesal karena panggilan telefonnya tidak di jawab oleh raffael
"lo dimana? buruan ke kantor raya nangis kejer karena abis gue tegor tadi pagi"
akhirnya haris mengirimkan pesan kepada raffael berharap agar pesan darinya cepat di baca oleh sahabat sekaligus bos nya itu
raffael terbangun karena ada suara gedoran pintu yang mengusik tidurnya dengan enggan raffael bangun dan membuka pintu kamarnya dengan mata yang masih terpejam
"ya Allah raffael sudah siang begini kenapa masih tidur?" sentak mami aruni melihat anak bungsunya yang malas-malasan
"apaan sih mi, berisik tahu gak ini tuh masih pagi banget" sahut raffael setengah sadar
"pagi gundulmu... lihat matahari udah tinggi begitu kamu bilang masih pagi hah?"
raffael langsung membulatkan matanya saat melihat sang raja siang sudah benar-benar meninggi raffael langsung beringsut masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena harus segera menghadiri meeting penting
setelah selesal dengan ritual mandinya raffael baru mengecek ponselnya betapa kagetnya raffael karena melihat panggilan tak terjawab dari raya sampai berulang kali apalagi ketika membaca pesan yang di kirimkan haris tanpa pikir oanjang raffael langsung bergegas menuju kantornya
"fael kamu mau kemana?" teriak mami aruni melihat raffael yang pergi dengan terburu-buru
__ADS_1
"ada urusan mi nanti aku balik lagi" sahut raffael tak kalah berteriak