Broken Wedding

Broken Wedding
19


__ADS_3

berulang kali raya menepis bahwa parfum yang menempel di kemeja eza bukan aroma parfum wanita lain, raya mencium kemeja sampai berulang kali namun tetap saja hatinya tidak bisa berdusta bahwa saat ini dia sedang di landa rasa sesak yang begitu menghujam ulu hatinya sudah sangat jelas bahwa aroma parfum itu bukannya aroma parfum milik suaminya


raya meremat kuat kemeja eza dengan air mata yang luruh begitu saja tanpa permisi


"ya Allah yakinkan hatiku bahwa dugaanku salah" lirih raya dengan lelehan airmata yang terus mengalir


raya mengusap airmata nya yang terus mengalir, raya berusaha berpikir positif dia tidak akan menduga-duga jika belum melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri jika eza benar-benar berselingkuh


raya memasukan semua pakaian kotor milik eza ke dalam keranjang, raya berulang kali menghembuskan nafasnya terus meyakinkan hatinya bahwa rumah tangganya akan tetap baik-baik saja


eza yang baru selesai mandi langsung mengenakan pakaian yang sudah raya siapkan


eza mendekap erat tubuh raya yang sedang berbaring membelakanginya mengecup pucuk kepala raya dan mengucapkan selamat tidur untuk sang istri


raya yang sebenarnya belum tidur tiba-tiba air matanya lolos kembali entah kenapa dengan perlakuan manis reza kepadanya membuat dada raya semakin sesak kembali teringat jika eza benar-benar bermain dengan wanita lain di belakangnya


"apa kamu juga memperlakukan selingkuhanmu sama seperti ini za" batin raya teriris


susah payah raya menepis pikiran buruknya tentang eza namun tetap saja hatinya berkata jika memang eza menyembunyikan sesuatu darinya batinnya menjerit ingin mengeluarkan semua yang dia simpan dalam pikirannya namun raya tidak ingin gegabah dia akan mencari tahu terlebih dahulu apa yang mengganggu pikirannya itu benar atau hanya dugaannya saja


pagi menjelang raya terbangun terlebih dahulu karena mendengar suara adzan subuh berkumandang setelah dia memakai mukena barulang raya membangunkan eza untuk sholat berjamaah di mesjid bersama ayah burhan


"siapa sih pagi-pagi begini udah nelfon aja" gerutu raya mendengar ponsel eza tak henti berdering


raya melihat nama doni yang terpampang dalam layar ponsel milik eza


raya mengernyitkan keningnya merasa aneh dengan teman eza yang bernama doni itu hampir setiap menit dia menghuhungi eza bahkan disaat hari libur seperti ini pun pria bernama doni itu tak henti menghubungi suaminya bahkan andi seperti jarang menghubungi eza meski di hari kerja sekalipun


"sebenarnya siapa sih si doni-doni itu, apa aku tanya sama andi aja ya" gumam raya


ceklek


pintu kamarpun terbuka terlihat eza yang baru pulang dari mesjid masih menggunakan peci lengkap dengan baju koko dan sarung yang menempel di tubuhnya


"ngapain yank?" tanya eza melihat raya memegang ponsel miliknya

__ADS_1


"temen kamu yang namanya doni dari tadi nelfonin terus, berisik banget" jawab raya menggerutu


deg


dada eza seketika bergemuruh ada rasa ketakutan dihatinya jika raya sampai menjawab panggilan telfon dari kontak yang eza beri nama doni itu, eza berusaha bersikap biasa saja agar raya tidak curiga bahwa sebenarnya kontak yang bernama doni itu adalaha selingkuhannya yang tak lain adalah atasannya sendiri di kantor


"itu dia ngajak aku jogging pagi ini mumpung weekend" ucap eza beralasan


"sejak kapan kamu suka olahraga?" tanya raya merasa aneh karena selama ini eza sangat malas dengan olahraga


"sejak hari ini, biar badan aku tetep bagus biar kamu juga gak ngelirik cowok lain" kilah eza


bukannya senang raya malah berdecih mendengar ucapan eza yang terdengar menggelitik di telinganya


sejak semalam raya berusaha untuk terlihat baik-baik saja menyembunyikan suasana hatinya yang sedang gundah gulana terlebih saat ini raya dan eza masih berada di rumah bunda lena dan ayah burhan, raya tidak mau jika harus beradu di depan kedua orang tuanya


saat akan keluar untuk membuat sarapan tiba-tiba ponsel raya bergetar, raya melihat siapa yang menghubunginya pagi-pagi begini raya langsung menjawab panggilan telefon itu setelah tari yang menelfonnya rekan kerjanya di kantor tempatnya bekerja


raya terlihat manggut-manggut mendengar tari yang sedang berbicara di balik telfon sesekali raya tertawa karena mendengar lelucon yang tari buat


"ray ayah dan bunda rencananya akan mengunjungi kakak kamu di rutan, apa kamu mau ikut?" tanya ayah burhan saat semuanya sudah berkumpul di meja makan


"kapan yah?" raya balik bertanya


"rencananya sekitar dua minggu lagi" jawab ayah burhan


"kalau raya lagi gak ada kerjaan pasti raya ikut yah soalnya jadwal event yang seharusnya di adakan bulan depan jadwalnya akan di majukan" sahut raya


"kalau memang kamu dan eza ada kerjaan jangan memaksakan untuk ikut, biar ayah dan bunda saja yang pergi" seru bunda lena


"memangnya kak rara tidak akan ikut?" tanya raya lagi


"kakakmu sedang sibuk dengan usaha barunya"


"wah hebat sepertinya kita bakalan susah buat ketemu sama kak rara kalau usahanya makin sukes" ucap raya

__ADS_1


"ibu bersyukur kakak kamu hidupnya sudah terjamin dalam segi financial itu artinya sony mendukung apapun yang rara kerjakan asalkan tidak meninggalkan kodratnya sebagai seorang istri" sahut ayah burhan


raya begitu antusias membicarakan semua anggota keluarganya berbeda dengan eza yang hanya diam saja tidak merespon apapun, eza memang tidak terlalu dekat dengan kedua kakak iparnya apalagi resky berbeda dengan raya yang sangat dekat dengab anita bahkan raya sudah menganggap anita sebagai adiknya kandungnya bukan seperti adik ipar


setelah menghabiskan sarapannya mereka semua meninggalkan ruang makan begitupun dengan eza yang sudah ada janji dengan seseorang


"kamu jadi mau pergi jogging?" tanya raya dan eza pun menganggukan kepalanya sebagai jawaban


"udah siang begini masa mau jogging" ucap raya


"baru jam delapan matahari juga masih belum tinggi" sahut eza


"oh ya besok aku udah mulai kerja lagi nanti selesai kamu jogging kita langsung pulang ke rumah ya"


"bukannya kaki kamu masih sakit? gimana mau kerja kalau jalannya belum bener gitu"


"ya mau gimana lagi aku udah tanda tangan kontrak gak bisa mangkir"


"tapi kan kondisinya beda"


"gak apa-apa semoga besok kaki nya udah gak terlalu sakit kalau di bawa jalan"


"ya udah terserah, aku jalan dulu"


setelah mengantarkan eza sampai ke teras depan raya kembali masuk ke dalam kamarnya, mata raya memicing melihat ponsel eza yang tertinggal di atas tempat tidur


secepat kilat raya menyambar benda pipih itu dan mencari tahu siapa sebenernya pria yang bernama doni itu


seakan keberuntungan memihak kepadanya saat akan membuka kunci ponsel milik eza tiba-tiba pria yang bernama doni melakukan panggilan telfon raya segera menjawab panggilan berharap bisa segera tahu siapa sebenarnya sosok pria yang bernama doni yang teramat sering menghubungi suaminya


" hallo"


*deg


deg

__ADS_1


deg*


__ADS_2