
hubungan raya dan raffael semakin hari semakin lengket saja semua ucapan raffael yang mengatakan jika dirinya sungguh-sungguh dan serius menjalani hubungannya dengan raya benar-benar raffael buktikan membuat semua ketakutan raya kepada raffael selama ini menguap begitu saja
seperti malam ini raffael berniat untuk makan malam di rumah kedua orang tua raya untuk membicarakan tentang status hubungannya dengan raya yang bukan hanya sekedar sahabat saja
raffael juga berniat untuk melamar raya dalam waktu dekat ini, raffael sudah tidak ingin menunda waktu lebih lama lagi sudah cukup selama bertahun-tahun raffael diam dalam ketidakpastian dan sekarang raffael sudah bertekad untuk menjadikan raya istrinya tak peduli dengan ucapan orang-orang yang mencibirnya karena akan menikahi seorang janda
"malem bun, yah" sapa raffael ketika sudah sampai di rumah raya
"malam raffael, semakin gagah saja kamu nak" sahut ayah burhan menepuk-nepuk pundak raffael
"ayah bisa saja, ayah juga selalu terlihat awet muda dan perkasa" bisik raffael yang di hadiahi pukulan kecil dari ayah burhan
"kamu itu kalau ngomong suka jujur" sahut ayah burhan di akhiri dengan gelak tawa di antara mereka
"ayok makan dulu jangan bercanda terus" ucap bunda lena
raffael terperangah saat tiba di ruang makan melihat semua masakan yang di hidangkan merupakan makanan kesukaannya, raffael melirik raya yang sedang sibuk menata hasil masakannya di atas meja sambil tersenyum
ada rasa bahagia di dalam hati raffael karena sekarang raya sudah benar-benar menyadari perasaannya kepada raffael bukan peralihan atas rasa sakit yang eza torehkan selama ini kepada raya, raffael bisa merasakan itu dari semua cara raya memperlakukan raffael mulai dari memperhatikan kegiatan raffael setiap harinya, mengingatkan untuk tidak telat makan dan perhatian-perhatian kecil yang selalu raya berikan kepadanya selama beberapa bulan mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih
"jangan di liatin terus ayok di cobain makanannya nak raffael" titah bunda lena menepuk pundak raffael dengan lembut
"siap bun, ini siapa yang masak?" tanya raffael pura-pura tidak tahu
"siapa lagi kalau bukan putri bungsu ayah yang cantik ini, ayok cobain semua makanannya nak raffael anggap saja di rumah sendiri" timpal ayah burhan
"ayok raff jangan malu-malu biasanya juga kamu malu-maluin" ledek raya
"ambilin dong" raffael menyodorkan piring kosong kepada raya untuk di isi nasi dan lauknya
setelah di isi penuh oleh nasi dan lauknya raffael segera melahap makanan yang sudah tersaji di atas piringnya
berulang kali raffael berdecak kagum dengan rasa masakan raya yanh begitu luar biasa lezat tak kalah dengan masakan restoran-restoran mewah yang pernah dia kunjungi
__ADS_1
dari dulu memang raffael belum sempat merasakan bagaimana rasa masakan raya kecuali hanya nasi gorengnya saja yang selalu raya bawa untuk bekal sekolah dulu
seolah rasa malunya hilang raffael sampai menambah sampai dua kali saking nikmatnya masakan yang sudah di sajikan oleh sang kekasih
"kamu laper apa rakus?" ledek raya
"dua-duanya... masakan kamu enak yang aku sampai nambah terus ini" ceplos raffael membuat ayah burhan dan bunda lena saling melempar pandangan
"Ehemmmmm...." raya berdehem sengaja membuat suasana agar tidak canggung
"ya sudah kalau masakannya enak habiskan saja nak raffael, bunda sama ayah sudah selesai kita tunggu di halaman belakang ya ray" ucap ayah burhan seolah memberikan kode untuk meminta penjelasan
"iya yah" sahut raya
"awwwwww.... sakit sayang kenapa sih main cubit aja" ringis raffael karena tiba-tiba raya mencubit perutnya saat bunda lena dan ayah burhan meninggalkan mereka berdua di meja makan
"kamu kalau ngomong itu di filter dong ayah sama bunda tadi sempet curiga tuh" protes raya
"jangan macem-macem ya"
"aku cuma mau satu macem aja"
"raff aku serius"
"aku juga serius, aku udah gak mau buang-buang waktu lagi sayang... kamu cerai sama eza juga udah cukup lama kan gak masalah kalau aku lamar kamu sekarang-sekarang"
"tapi raff aku belum siap"
"belum siap kenapa? kamu masih cinta sama mantan suami breng sek kamu itu?" tanya raffael penuh penekanan
"bukan gitu, belum juga genap setahun aku cerai sama eza masa udah mau nikah lagi, gimana tanggepan orang-orang nanti"
"yang penting status kamu udah resmi jadi seorang janda gak akan jadi masalah, yang akan jadi masalah itu kalau kamu nerima lamaran aku disaat kamu masih berstatus istri orang"
__ADS_1
"apa kamu yakin orang tua kamu bisa nerima keadaan aku raff?"
"maksud kamu?"
"ya status aku"
"ya Tuhan raya, udah aku bilang beribu kali mami sama papi sama sekali gak keberatan soal itu bahkan sejak awal aku bilang sama mami kalau kita pacaran mami langsung setuju dan nyuruh aku cepet-cepet lamar kamu"
"aku gak percaya"
"weekend ini aku ajak kamu ke rumah biar kamu percaya"
raya langsung bungkam mendengar semua ucapan raffael yang terdengar sangat serius dan tidak ada unsir bercanda sedikitpun, bukannya raya tidak mau menikah dengan raffael tapi apakah tidak terlalu cepat bagi raya untuk melepas masa jandanya saat belum genap setahun menyandang status sebagai seorang janda
banyak yang raya pertimbangkan disini terutama kedua orang tua raya yang belum mengetahui hubungan antara raya dan raffael saat ini, apalagi semenjak raya resmi bercerai dengan eza tidak ada satupun pihak keluarga eza yang datang secara pribadi ke rumah raya untuk mengembalikan raya secara baik-baik sama seperti dulu eza meminta untuk menikahi raya kepada kedua orang tuanya, raya merasa seperti sampah yang di buang begitu saja tanpa ada harganya sama sekali bahkan mama yeni dan anita yang mengaku sangat menyayanginya dan menganggap raya seperti anak sendiri sama sekali tidak pernah memberi kabar bahkan sekedar berbasa-basi menanyakan proses perceraian dirinya dan eza saja tidak
"hey kenapa ngelamun, ayok kita samperin ayah sama bunda aku mau ngomong sesuatu sama mereka" ajak raffael menarik tangan raya agar mengikutinya
"kamu mau ngomong apa?" tanya raya
"nanti juga kamu tahu sendiri"
dengan langkah tegap dan tangan yang tak melepaskan genggamannya dari tangan raya, raffael menghampiri ayah burhan dan bunda lena yang sedang duduk di halaman belakang di temani secangkir teh di tangan masing-masing
"bun, yah... ada sesuatu yang aku sampaikan" ucap raffael to the point
ayah burhan dan bunda lena langsung menoleh ke arah raffael yang terus menggenggam tangan raya membuat bunda lena dan ayah burhan bisa menebak apa yang ingin raffael sampaikan kepada mereka
"bicara saja nak raffael, ayah dan bunda pasti mendengarkan"
"malam ini di hadapan ayah dan bunda dengan perasaan tulus dan rasa cintaku kepada raya aku ingin melamar raya jadi istriku yah, bun"
deg
__ADS_1