
"eza hentikan"
teriakan mama yeni membuat eza mengurungkan niatnya untuk kembali menampar wajah raya, rasa perih yang raya rasakan di pipi nya tidak sebanding dengan rasa sakit hati nya, raya di sakiti bukan hanya hatinya saja tapi fisiknya juga terlihat jelas darah yang mengalir dari sudut bibir raya karena tamparan eza yang sangat keras, rahang raya juga terlihat lebam karena cekalan tangan eza yang cukup kuat
mama yeni merasa iba melihat keadaan raya yang sudah tak berbentuk
rambut berantakan, wajah yang terlihat lebam dan terluka serta airmata yang mengalir deras di pipi raya
mama yeni membawa raya dalam pelukannya mengusap lembut pucuk kepala raya dengan sayang, mama yeni merasa sangat bersalah karena tindakan eza membuat raya amat sangat terluka fisik dan batinnya
"jangan bela raya ma, dia pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari aku" ucap eza tak suka melihat mama yeni melindungi raya
"apapun kesalahan yang raya perbuat tidak sepantasnya kamu memperlakukan raya dengan kasar apalagi sampai main tangan za" sahut mama yeni masih memeluk raya
"mama jangan ikut campur urusan rumah tangga aku sama raya, raya bukan istri yang baik seperti yang mama kira" ucap eza menatap sinis ke arah raya
"perilaku seorang istri itu mencontoh perilaku imamnya sendiri, bersikaplah lebih baik dan menghargai istri kamu kalau kamu juga ingin di hargai oleh istri kamu sendiri"
"mama tahu apa tentang rumah tangga aku, raya itu sama sekali tidak tahu bagaimana adab seorang istri yang seharusnya"
"adab seperti apa yang kamu maksud eza? jangan kamu pikir mama tidak tahu kelakuan kamu di belakang raya selama ini"
__ADS_1
eza tersentak mendengar ucapan mama yeni bagaimana bisa mama yeni bisa tahu perilaku eza selama ini kalau bukan raya sendiri yang memberi tahu
eza semakin menatap marah ke arah raya yang sedang menangis di pelukan mama yeni, eza menarik tubuh raya dari pelukan mama yeni dengan begitu kasar membuat tulang-tulang di dalam tubuh raya terasa remuk
"kamu kan yang ngadu sama mama hah?" sentak eza kembali mencengkram kedua pipi raya
"kamu itu harusnya tahu diri ray beruntung aku masih mau nikahin kamu dan nerima kamu apa adanya seharusnya kamu bersyukur bukan banyak tingkah kayak gini" lanjut eza melepaskan cengkramannya dan berjalan meninggalkan raya yang diam membisu sambil menangis
"keterlaluan kamu eza, kamu itu persis seperti papa kamu, beraninya hanya menyakiti perempuan jangan sampai kamu menyesal ketika raya sudah muak dengan semua kelakuan kamu dan memilih menyerah dalam pernikahan kalian" sentak mama yeni membuat langkah eza terhenti
"mama akan kecewa kalau tahu sikap raya yang sebenarnya seperti apa" sahut eza tanpa menoleh ke arah mama yeni
eza tidak memperdulikan ucapan mama yeni, eza memilih untuk meninggalkan rumah dari pada harus terlibat kembali pertengkaran bersama raya, sebenarnya ada sedikit rasa sesal di hati eza ketika memperlakukan raya begitu kasar tapi sisi egoisnya mengatakan jika raya pantas mendapatkan perlakuan seperti itu karena berani membangkang kepada eza
sedangkan raya memilih untuk tetap diam rasanya raya sudah tidak punya tenaga lagi untuk sekedar berbicara, mama yeni menuntun raya agar duduk di sofa, mama yeni memandang lamat wajah raya yang penuh luka dan lebam tangannya bergerak mengusap wajah raya seakan mengurangi rasa sakit yang rasakan saat ini
"ini pasti sakit nak, maafkan eza ya sayang dia sudah sangat keterlaluan sama kamu" lirih mama yeni penuh penyesalan
"yang lebih sakit itu disini ma" sahut raya menunjukan tepat di bagian dada nya dengan deraian air matayang membanjiri pipi nya
"maafkan mama yang tidak bisa mendidik eza menjadi suami yang baik ray, mama tidak akan memaksa kamu untuk bertahan jika memang kamu sudah tidak sanggup hidup bersama eza" ucap mama yeni pasrah
__ADS_1
nenek sukma yang sejak tadi mendengar perbincangan antara raya dan mama yeni merasa sangat geram, nenek sukma tetap menyalahkan raya tentang semua yang terjadi di antara raya dan eza
"jangan terus membela menantu kamu yen, eza tidak akan berbuat seperti itu kalau raya tidak melakukan kesalahan" seru nenek sukma menghampiri raya dan mama yeni
"aku tidak akan membela yang salah ma sekalipun itu anak aku sendiri" tentang mama yeni
"kamu berani membentak mama hanya karena menantu pembawa sial ini hah?" bentak nenek sukma seakan ingin menerkam mama yeni saat itu juga
"cukup nek, nenek tidak seharusnya membentak mama seperti itu yang mama katakan memang semuanya benar, cucu kesayangan nenek yang terus saja membuat ulah selama ini aku cukup sabar menghadapi sikapnya tapi jika terus seperti ini aku juga punya hati nek, aku tidak ingin mati sia-sia karena terus di sakiti oleh cucu kesayangan nenek"
entah mendapat keberanian dari mana, malam ini raya dengan tegas membantah ucapan nenek sukma yang mengatakan jika pertengkarannya dengan eza adalah salah dirinya sepenuhnya jelas saja raya tidak terima sudah harus seberapa sabar lagi raya diam mendapat perlakuan tidak adil seperti itu seakan mendapat dorongan dan kekuatan raya mengeluarkan semua unek-unek yang dia tahan selama ini tidak peduli jika setelah ini hubungan raya dengan nenek sukma akan semakin memburuk bahkan raya saja sudah tidak memikirkan bagaimana nasib pernikahannya dengan eza kedepannya
"kurang ajar kamu raya, berani membangkang sama orang tua kamu hah? pantas saja eza sampai kelewat batas karena kamu memang wanita tidak tahu adat"
"aku memang bukan wanita lemah lembut dan penurut nek tapi aku selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk eza tapi kenapa di mata nenek semua yang aku lakukan selalu salah, aku capek selalu di salahkan, aku capek terus di tuduh sebagai istri yang hanya bisa menghabiskan uang suami asal nenek tahu sepeserpun aku tidak pernah mendapat uang nafkah dari eza semenjak kita menikah, itu kan yang nenek mau?"
raya sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya tidak peduli jika di hadapannya saat ini adalah orang tua yang harus di hormati dan di hargai, akal sehat raya seakan hilang yang ada hanya amarah yang siap dia luapkan kepada nenek sukma
mama yeni pun terkejut melihat sikap raya yang tidak seperti biasanya kilat kemarahan sangat terlihat jelas dari sorot mata raya, malam ini raya seperti orang kesetanan yang siap menghajar siapa saja yang berani mengusiknya
"ray sudah nak, ayo mama obati dulu luka kamu" mama ueni melerai perdebatan antara raya dan nenek sukma
__ADS_1