Broken Wedding

Broken Wedding
37


__ADS_3

raya terus larut dalam lamunannya memang semua yang di katakan fahmi benar, untuk apa raya terus bertahan dalam hubungan yang sudah jelas membuat dirinya tersakiti, fahmi sangat peduli kepada raya sebagai sahabat meskipun Fahmi kenal raya lewat eza tapi fahmi sangat yakin kalau raya wanita yang mempunyai hati yang tulus tentang masa lalu raya yang kurang baik fahmi tidak pernah memandang raya rendah karena itu justru fahmi merasa iba karena raya di perlakukan tidak adil oleh eza, tidak ada satupun manusia yang tidak mempunyai dosa dan kesalahan di dunia ini kesempurnaan hanyalah milik sang pencipta kita sebagai manusia tidak berhak menghakimi seseorang atas kekhilafan yang sudah mereka perbuat asalkan orang itu mau berubah dan tidak melakukan kesalahan yang sama


"jadi kamu disini hah? kamu tahu gak aku muter-muter nyari kamu sampai puyeng eh taunya yang di cari malah enak-enak nongkrong disini" semprot eza melihat raya sedang duduk manis di cafe fahmi


"ngomongnya gak usah kasar gitu kali za, raya itu istri lo bukan orang lain" sergah fahmi tak suka melihat sikap eza


"lo gak usah ikut campur kalau gak tahu masalah antara gue sama raya" sentak eza dengan tatapan nyalangnya


"gue sangat tahu za apa yang sedang terjadi di antara kalian, bersikaplah sewajarnya jangan sampai raya muak karena sikap lo yang gak berprikemanusiaan itu"


"kayaknya lo tahu banget tentang raya, jangan-jangan lo suka sama bini gue ya"


"siapa sih yang gak suka sama raya, dia cewek yang mendekati sempurna di mata gue"


setelah mengatakan itu fahmi pergi ke belakang meninggalkan eza dan raya memberikan waktu keduanya untuk berbicara,eza semakin emosi mendengar sahabatnya sendiri memuji istrinya secara terang-terangan sedangkan raya tersenyum miris mendengar pujian yang di ucapkan fahmi untuknya bahkan eza yang suaminya saja tidak pernah sekalipun memuji raya, raya merasa kalau eza mengganggap raya tak lebih dari sebutir debu yang harus di bersihkan


"ayok pulang" ajak eza dengan nada membentak


raya ingin berpamitan kepada fahmi namun eza menarik tangan raya agar segera keluar dari cafe milik sahabatnya itu


raya berpapasan dengan inez saat berada di ambang pintu cafe, inez menatap raya aneh karena eza sedikit menyeret raya untuk mengikuti langkahnya


"kenapa?" tanya inez tanpa bersuara


"nanti gue cerita, gue cabut ya" jawab raya tanpa mengeluarkan suara juga


inez menganggukan kepalanya sebagai jawaban sudah bisa di pastikan akan terjadi pertengkaran antara eza dan raya, inez sangat tahu bagaimana sifat eza jika sedang marah inez hanya berharap semoga eza tidak bertindak kasar kepada raya


"woy..... ngelamun aja lo" fahmi mengaggetkan inez yang sedang melamun


"raya sama eza kenapa mi?" tanya inez to the point

__ADS_1


"biasa lah lagi ribut mereka" jawab fahmi jujur


"gara-gara eza lagi?" tanya inez lagi


"ya begitulah"


"benar-benar gak pernah berubah si eza selalu nyakitin perasaan cewek"


"lo tenang aja tadi gue udah kasih siraman rohani buat raya"


"semoga raya bisa mengambil keputusan yang membuat hidupnya bahagia mi, gue kasian ngeliat raya"


"raya cinta mati sama si eza nez, pusing gue"


"cinta mati kok sama taplak meja" cibir inez membuat fahmi tertawa


sementara di sebuah villa mewah yang terletak di pinggiran kota terlihat seorang pria tampan yang sedang tidur lemas di atas tempat tidur dengan di pasang beberapa alat medis di tubuhnya


pria itu di temani oleh seorang perawat yang selalu setia menjaganya selama dia berada di villa itu, berulang kali pria tampan itu terus saja memanggil seorang nama wanita yang selama ini masih sangat dia cintai namun karena kondisi kesehatan yang dia alami dia terpaksa untuk melepaskan gadis yang sangat berarti dalam hidupnya itu dengan alasan tidak ingin membuat wanitanya bersedih karena yang sudah dia derita sejak dua tahun yang lalu


"sedang di perjalanan tuan muda mungkin sebentar lagi sampai" jawab perawat itu ramah


"semoga lo bisa bawa dia buat ketemu gue sekarang" gumam pria itu di sela lamunannya


"apa ada yang anda butuhkan tuan?" tanya sang perawat


"tidak ada sus, kalau adik saya sudah datang suruh langsung masuk saja" pinta pria itu


ceklek


tepat setelah pria itu selesai bicara pintu kamarpun terbuka, sang adik sudah datang dengan tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi putihnya sedangkan pria yang sedang terbaring lemas itu mengernyitkan keningnya karena melihat adiknya yang datang seorang diri tanpa membawa seseorang yang sangat pria itu temui

__ADS_1


"gimana keadaan lo hari ini bang?" tanya sang adik


"dia mana?" bukannya menjawab pria itu malah balik bertanya


"sorry bang gue belum bisa bawa dia kesini buat nemuin lo"


"kenapa?"


"gue lagi ribut sama dia bang udah seminggu ini gue perang dingin sama dia"


"kok bisa?"


"hanya salah paham, lo gak usah banyak pikiran mending fokus sama kesembuhan lo dulu"


"waktu gue gak banyak, gue mau secepatnya ketemu raya"


"jangan ngomong gitu bang lo pasti sembuh, lo harus ngelawan penyakit lo"


"dokter udah memvonis kalau umur gue udah gak lama lagi, percuma lo terus semangat gue raff"


"bang..."


"gue cuman mau ketemu raya"


pria yang sedang terbaring lemas tak berdaya itu adalah baramantara wicaksono mantan kekasih raya yang tak lain adalah kakak dari raffael wicaksono, bara di vonis mengidap penyakit kanker hati stadium tiga oleh dokter satu tahun sebelum hubungannya berakhir dengan raya, bara berusaha untuk sembuh dan melakukan segala pengobatan agar sel kanker dalam tubuhnya segera menghilang namun ternyata semuanya sia-sia saja sel kanker yang ada di dalam tubuh bara bukannya hilang malah semakin menyebar ke seluruh bagian tubuhnya bara terpaksa memutuskan hubungannya dengan raya dengan alasan hubungan mereka tidak mendapat restu dari kedua orang tua bara karena hanya dengan alasan itu raya bisa secepatnya pergi meninggalkan bara sebelum mengetahui bahwa bara hanya seorang pria lemah yang penyakitan


awalnya raffael dan kedua orang tuanya pun tidak setuju dengan rencana bara namun bara mengancam akan pergi mengasingkan diri jika semua anggota keluarganya menentang keinginan bara untuk berpisah dengan raya bahkan kedua orang tua bara saja sangat menyukai raya saat itu sampai mereka terpaksa mengikuti sandiwara bara dengan berpura-pura tidak merestui hubungan mereka dan saat ini penyakit bara sudah memasuki stadium akhir, bara ingin di sisa hidupnya ingin bertemu terlebih dahulu dengan raya sebelum bara benar-benar pergi meninggalkan dunia ini


"bang lo gak lupa kan kalau raya sekarang udah punya suami" ucap raffael mengingatkan


"gue gak peduli" sahut bara

__ADS_1


"kalau lo masih belum bisa kehilangan raya kenapa waktu itu lo putusin buat ninggalin dia hah? dasar pengecut"


"lo gak paham dengan posisi gue raff"


__ADS_2