Broken Wedding

Broken Wedding
39


__ADS_3

seperti yang sudah di janjikan weekend ini raya menginap di rumah bunda lena dan ayah burhan, disana sudah ada rara dan sang suami beserta anak pertama mereka yang berusia tiga tahun satria namanya


raya memeluk erat sang kakak karena setelah menghadiri pernikahannya dulu dengan eza raya tidak pernah bertemu lagi dengan rara karena saat itu rara langsung kembali ke kota suaminya


"kamu makin kurus ray, kenapa?" tanya rara di sela pelukan mereka


"masa sih kak? perasaan badan aku gini-gini aja dari dulu" elak raya


"lihat ini pipi chuby keliatan tirus ray, meluk kamu juga gak sehangat dulu apa pernikahan kamu baik-baik aja?" tanya rara menatap intens raya


"baik-baik aja kak"


"jangan bohong sama kakak"


bukan tanpa alasan rara menanyakan tentang pernikahan raya dengan eza, rara curiga dengan raya yang datang ke rumah orang tuanya seorang diri tanpa di dampingi eza terlebih sangat terlihat jelas dari sorot mata raya kesedihan yang berusaha raya pendam sendiri, rara memang tidak terlalu mengenal eza karena bertemu dengan adik iparnya itu hanya beberapa kali saja


"jangan perlihatkan kesedihan kamu di depan bunda sama ayah ya, cerita sama kakak apapun yang kamu rasakan sekarang ray jangan di pendam sendiri" ucap rara seakan tahu apa yang sedang raya rasakan saat ini


"kak aku baik-baik aja, kakak jangan khawatir" elak raya lagi


"jangan sok kuat ray, kamu gak bisa sembunyikan apapun dari kakak" tekan rara gemas karena raya tidak mau jujur kepadanya


"apapun masalah kamu kakak harap kamu mau berbagi sama kakak, kakak akan menjadi pendengar yang baik untuk adik cantik kakak ini, jangan pernah merasa sendiri" lanjut rara pergi meninggalkan raya di halaman belakang rumah


raya berpikir apakah separah itu permasalahan rumah tangganya bersama eza sampai semua orang bisa menebak apa yang sedang terjadi dalam pernikahan mereka meskipun raya tidak cerita sekalipun


raya menghembuskan nafasnya kasar, mengusap wajahnya yang sejak tadi sangat gusar apalagi mendengar ucapan sang kakak yang sudah kalau dirinya saat ini sedang ada masalah meskipun rara belum tahu pasti permasalahan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan adik bungsunya itu


"ray kamu disini nak, eza gak ikut nginap?" tanya ayah burhan yang baru pulang dari rumah pak rt


"nanti nyusul yah ada pekerjaan sedikit" elak raya


"pekerjaan apa? weekend gini kok masih kerja kapan waktu buat keluarga"


"eza kan kerja juga buat keluarga yah"

__ADS_1


"memang susah ngomong sama kamu ray, selalu saja bisa ngejawab" ayah burhan mengacak rambut raya gemas


sementara eza saat ini sedang sibuk di sebuah pesta yang di adakan oleh dini bukan pesta di perusahaan seperti yang eza bilang kepada raya, eza memang sangat sering berbohong sampai raya saja sudah malas jika terus berdebat dengan eza karena eza yang pandai bersilat lidah


dini terus saja menempel kepada eza seperti perangko, dini tidak membiarkan eza lepas sedikit saja dari genggamannya kadang eza merasa risij dengan sikap posesif dini tapi dengan apa yang sudah dini berikan kepada eza membuat eza berusaha untuk menerima setiap perlakuan dini meskipun eza merasa tidak nyaman


"za jamu nginep di apartemen aku ya" rengek dini bergelendot manja di pundak eza


"gak bisa din aku mau pulang ke rumah mertuaku" tolak eza


"ish ngapain sih kamu nginep disana mending di apartemen aja sama aku"


"aku malas berdebat din, jangan memaksaku kalau kamu masih tetep mau hubungan kita terus berlanjut"


"katanya gak cinta nikah cuman kasian aja tapi kok berat banget buat lepasin dia za kalau dia sampai hamil anak kamu gimana? nanti kamu makin terikat sama dia za" ucap dini panjang lebar


"itu biar jadi urusan aku aja din, btw gimana permintaan aku udah bisa di realisasikan blom?"


"yang mana?" tanya dini mengernyitkan keningnya


"masa lupa"


"kamu pikir apa"


"baiklah, besok kita liat-liat ke showroom mobil"


"beneran?"


"tapi malem ini nginep di apartemen ya"


"ya udah kalau kamu maksa"


sisi matrealistis seorang eza meronta karena di iming-imingi sebuah mobil oleh sang kekasih padahal di rumah sang istri sedang setia menunggu kepulangannya


eza benar-benar bukan pria yang bisa berkomitmen apalagi bertanggung jawab pria yang tidak bisa setia dengan satu wanita itu hanya mementingkan kepuasan dirinya saja bahkan ketika statusnya kini sudah menjadi seorang suami eza sama sekali tak memikirkan untuk menafkahi sang istri yang merupakan kewajiban seorang suami entah apa alasan raya yang masih bertahan dengan pria yang sama sekali tidak bisa di andalkan

__ADS_1


"eza kemana sih katanya jam sembilan sudah ada di rumah ini hampir jam sepuluh belum pulang juga" gumam raya sambil melirik ponselnya berharap ada pesan masuk dari sang suami


ting.....


satu buah pesan masuk ke ponsel raya, dia langsung membuka aplikasi room chat dengan wajah berbinar raya sangat yakin jika yang mengirim pesan adalah eza


"ray lo sibuk gak?"


raya mengernyitkan keningnya kala membaca pesan masuk di ponselnya berharap eza yang mengirim pesan ternyata malah sang sahabat yang sudah seminggu ini menghilang seperti di telan bumi


^^^"sibuk" ^^^


balas raya singkat karena masih merasa kesal dengan raffael yang tiba-tiba mendiamkannya tanpa alasan yang jelas


"ya udah kalau lo sibuk, sorry ganggu"


^^^"ada apa?"^^^


"ada yang mau gue omongin penting"


^^^"yang ngomong tinggal ngomong"^^^


"harus ketemu langsung, lo dimana sekarang?"


^^^"di rumah bunda"^^^


"gue kesana ya"


^^^"terserah"^^^


raffael langsung melesat menuju rumah bunda lena dan ayah burhan, setelah melihat kondisi bara yang semakin memprihatinkan raffael untuk memutuskan untuk membujuk raya agar mau bertemu dengan bara soal umur memang tidak pernah ada yang tahu setidaknya raffael sudah berusaha mewujudkan keinginan sang kakak yang ingin bertemu terlebih dahulu dengan mantan terindahnya sebelum ajal benar-benar menjemputnya


bukan bermaksud untuk mengusik rumah tangga orang raffael hanya membantu seseorang yang tengah sekarat mewujudkan keinginan terakhirnya hanya bertemu dan bukan untuk berselingkuh seperti yang eza lakukan di belakang raya


"bocah sableng udah diemin gue bukannya nanyain kabar basa basi kek gitu, ini malah cuek aja... nyebelin" gerutu raya kesal dengan sikap raffael yang memang terkadang nasih seperti anak kecil

__ADS_1


entah kenapa mendengar raffael yang akan menemuinya, raya bergegas mematut dirinya di depan cermin memastikan penampilan malam masih terlihat kece memoles make up tipis-tipis agar tidak terlihat kucel di depan sang sahabat tak lupa raya memoles liptin agar bibirnya tidak terlihat kering, rambut panjangnya sengaja dia cepol sembarang leher jenjangnya yang putih mulus terekspose sempurna memberikan kesan seksi bagi siapapun pria yang akan melihat penampilan raya malam ini


"gue masih waras kan? kok dandan sih cuman mau ketemu raffael doang" gumam raya menggeleng-gelengkan kepalanya merasa konyol dengan tingkahnya sendiri


__ADS_2