Broken Wedding

Broken Wedding
41


__ADS_3

selepas menunaikan sholat malam raya tidak kembali tidur raya melantunkan dzikir dan membaca al quran sampai menunggu waktu sholat subuh datang


raya merasa hatinya lebih tenang setelah mencurahkan semua keluh kesahnya lewat doa, ternyata memang benar sumber ketenangan dalam hidup kita hanya mengadu kepada-Nya


waktu sholat subuh pun tiba raya segera melaksanakan dua rakaat subuh sebelum mengawali aktifitasnya pagi ini


sayup-sayup raya mendengar suara motor yang berhenti di halaman rumah raya mengintip dari balik jendela ternyata suaminya yang baru pulang


"berani banget pulang kesini subuh-subuh" gumam raya dengan matanya tak lepas menatap sang suami yang akan masuk ke dalam rumah


raya langsung membuka pintu utama sebelum keduluan dengan yang lain, raya tidak ingin membuat keributan karena suaminya pulang subuh tanpa alasan yang jelas


"cepet masuk kamar" titah raya ketus


"galak bener" sahut eza cengengesan


raya langsung mengunci kembali pintu utama agar tidak membuat seisi rumah curiga, raya langsung menyusul suaminya yang sudah masuk kamar terlebih dahulu raya ingin meminta penjelasan kenapa eza sampai pulang subuh seperti ini, tanpa raya sadari rara yang berniat ingin menyeduh susu untuk satria melihat raya membukakan pintu untuk eza, dahi rara mengekerut apa yang sudah di lakukam suami dari adiknya itu sampai pulang subuh seperti itu rara benar-benar harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam pernikahan adiknya


"kenapa baru pulang? ngapain aja semalaman sampai gak bisa pulang?" tanya raya sarkas


"ngumpul sama anak-anak kantor" jawab eza santai


"jangan bohong za" tuduh raya


"terserah kalau kamu gak percaya, aku males debat ngantuk mau tidur" sahut eza masa bodoh


"enak bener ya dateng-dateng langsung tidur kamu pikir rumah ini hotel hah?" bentak raya sudah merasa muak dengan semua kebohongan yang di lakukan eza


sebetulnya raya tidak ingin banyak bertanya saat melihat eza pulang namun raya tak sengaja melihat ada tanda merah di leher eza seperti sebuah kissmark, dada raya bergemuruh hebat rasa sakit seperti di hujam sebuah belati yang begitu tajam tepat di ulu hatinya membuat raya sudah tidak tahan lagi dan mengeluarkan semua unek-uneknya


"mau kamu itu apa sih ray? nuduh-nuduh gak jelas" ucap eza tak kalah membentak


"seenggaknya kamu tutupin dulu tanda merah di leher kamu sebelum pulang za, hargai perasaan aku sedikit saja" lirih raya dengan tubuh yang mulai melemas


deg


eza langsung meraba lehernya menatap dirinya dalam pantulan cermin yang berada di hadapannya, benar saja ada tanda kissmark di lehernya bahkan terlihat begitu jelas

__ADS_1


eza sudah tidak bisa berkutik lagi tidak mengelak apa yang sudah raya tuduhkan padanya


"aa....akuu" ucap eza terbata-bata


"mau sampai kapan za?" tanya raya sambil menahan rasa sesak di dalam dadanya


"maksud kamu?" tanya eza tidak mengerti


"mempertahankan pernikahan kita"


"kamu mau kita pisah?"


"rasanya sulit za jika hanya aku yang berjuang sendirian untuk mempertahankan pernikahan kita"


"kamu menyerah?"


"mungkin menyerah akan lebih baik daripada terus bertahan tapi cuman luka yang aku dapetin za"


tidak ada lagi jawaban yang terucap dari mulut eza jujur saja eza gamang dengan perasaannya saat ini antara harus bertahan atau melepaskan raya secepat ini, eza memang menyayangi raya tapi harus bertahan dengan pernikahan itu pun terasa berat bagi eza, eza yang memang awalnya menginginkan wanita yang sempurna, wanita yang mampu membawa perubahan dalam hidup eza yang sederhana menjadi lebih baik bahkan jika bisa eza ingin menggantungkan hidupnya kepada pasangannya tanpa harus repot-repot bekerja


akting eza sangat berhasil membuat raya percaya bahwa eza benar-benar mencintainya dengan tulus tanpa ada niat lain dalam pernikahan mereka dan semua yang di lakukan eza suskes membuat raya bertekuk lutut kepada eza sampai tidak bisa berpaling kepada yang lain


eza yang niat awalnya ingin melanjutkan tidurnya kembali tiba-tiba merasa malas karena perdebatan yang terjadi di antara dirinya dan eza, eza memutuskan untuk pergi lagi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada raya membuat raya semakin yakin bahwa eza tidak menganggap penting kehadirannya di samping eza


karena merasa kesal dengan eza yang mengacuhkannya raya langsung menghubungi raffael, raya akan ikut raffael bekerja hari ini kemanapun raffael mengajaknya raya akan ikut


"hallo"


^^^"jadi gak?"'^^^


"kemana?"


^^^"bukannya mau kerja"'^^^


"ini masih subuh ray, nanti aja agak siangan gue masih ngantuk"


^^^"sekarang atau gue gak akan ikut"^^^

__ADS_1


"oke, gue mandi dulu"


^^^"gue tunggu di rumah bunda''^^^


"iya, bawel"


raya bersiap-siap memakai pakaian terbaiknya raya ingin terlihat berbeda dari biasanya hari ini, raya tidak ingin terus menerus memikirkan nasib rumah tangganya yang di ambang kehancuran jika eza bisa bertindak sesuka hatinya raya juga bisa melakukan lebih dari itu, raya ingin bersenang-senang melupakan sejenak kemelut rumah tangganya meskipun tujuannya adalah bekerja tapi raya bisa meminta raffael untuk mengajaknya liburan sebelum kembali pulang


satu jam berlalu raffael baru menjemput raya di kediaman orang tuanya, raffael menatap raya tanpa berkedip melihat penampilan raya yang sedikit berbeda dari biasanya raya mengenakan mini dress motif floral di padukan dengan jaket jeans oversize serta rambutnya yang di cepol sembarang dengan mengenakan bando sebagai pemanis, terlihat sangat cantik, lucu dan menggemaskan. raya terlihat beberapa tahun lebih muda dari usianya sekarang


"kenapa lo liatin gue kayak gitu?" tanya raya heran


"lo kok unyu-unyu sih ray, beda banget gak kayak biasanya" sahut raffael jujur


"pengen beda aja sih, gue salah kostum ya?" tanya raya lagi


"not bad, ayo berangkat"


ada sedikit keraguan di dalam hati raffael antara tetap membawa raya untuk menemui bara atau mengajak raya berlibur hari ini, jujur saja raffael sangat merindukan moment berdua dengan raya apalagi semenjak raya sudah menikah raffael seperi memiliki batasan untuk tidak terlalu berhubungan intens dengan raya


"ray gue mau tanya sesuatu tapi lo jangan marah" seru raffael yang fokus pada kemudinya


"nanya apa?" tanya raya


"tapi janji gak akan marah"


"iya apa dulu?"


"tentang bara gimana perasaan lo sama Abang gue sekarang?"


"hah...??? maksud lo apa tiba-tiba ngebahas bara?"


"gue pengen tahu aja ray posisi abang gue di hati lo saat ini seperti apa"


"sejak abang lo mutusin buat ninggalin gue dan gak mau perjuangin hubungan kita, sejak saat itu gue hapus semua rasa yang ada di dalam hati gue buat abang lo"


"kalau seandainua bara pengen ketemu lagi sama lo gimana?"

__ADS_1


__ADS_2