
"kamu dimana?"
^^^"rumah tere"'^^^
"ngapain kabur-kaburan sih? kalau ada masalah itu hadepin bukan kabur-kaburan kayak gini,
aku barusan dari rumah bunda, bunda bilang hari ini kamu sama sekali gak pulang ke rumah bunda... kenapa bohong?"
^^^"siapa yang kabur-kaburan bentar lagi juga aku pulang ke rumah bunda"'^^^
"kita harus bicara"
^^^"ke rumah bunda aja"'^^^
raya langsung menutup panggilan telfon dari eza, malam ini memang raya masih berada di kontrakan tere karena keasikan tidur tanpa ada yang berani membangunkannya termasuk tere sendiri
raya masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya, raya melihat sekeliling tidak menemukan tere di manapun
raya menelfon tere untuk menanyakan keberadaannya namun sayang sudah tiga kali melakukan panggilan telefon tere sama sekali tidak menjawab telfon dari raya
akhirnya raya mengirim pesan kepada tere berpamitan untuk pulang ke rumah bunda lena
"kamu dari mana nak? tadi eza kesini nyariin kamu" tanya bunda lena saat raya sudah sampai di rumah
"aku lembur bun ini baru pulang, udah ngabarin eza juga kok suruh kesini" jawab ray bohong
"kamu makan dulu sana, kebetulan bunda masak banyak hari ini" titah bunda lena
"tumben, ada acara apa bun?"
"kamu lupa kalau seminggu sekali di mesjid depan suka mengadakan pengajian, bunda bantu kasih makanan aja kalau bantu beres-beres bunda udah gak kuat"
"bunda jangan capek-capek"
"engga sayang, ayok bunda temenin kamu makan"
"kak rara kemana bun? kok gak keliatan"
"lagi ke rumah sepupunya seno, besok juga pulang"
raya makan begitu lahap entah itu karena lapar atau memang raya sangat merindukan masakan bunda lena
bunda lena menatap raya yang matanya terlihat sedikit sembab, bunda lena juga memperhatikan tubuh raya yang semakin kurus banyak sekali pertanyaan yang ingin bunda lena tanyakan kepada raya namun bunda lena urungkan karena tidak ingin merusak suasana hati sang anak
__ADS_1
"kamu kangen banget ya sama masakan bunda, makannya lahap bener" seru bunda lena
"banget bun, masakan bunda gak ada duanya" sahut raya dengan mulut yang penuh dengan makanan
"assalamualaikum...."
bunda lena dan raya sontak menoleh ke arah sumber suara ternyata eza yang baru datang
"wa'alaikum salam..." sahut raya dan bunda lena bersamaan
"ayok makan sekalian za" titah bunda lena
"eza udah makan barusan di rumah bun" tolak eza
"ya sudah temani raya makan saja kalau gitu, bunda tinggal dulu ya"
"iya bun"
eza memperhatikan penampilan raya yang begitu berantakan, mulai dari rambut yang sedikit acak-acakan, wajah pucat tanpa make up dan mata sembab karena terlalu lama menangis
raya merasa risih karena di tatap begitu tajam oleh eza
"kenapa sih? mau makan juga?" tanya raya
"ini udah selesai, cuci piring dulu bentar "
"aku tunggu di kamar ya"
"hhmmm"
saat eza hendak memasuki kamar raya berpapasan dengan ayah burhan yang baru pulang dari mesjid
eza langsung mencium punggung tangan ayah burhan
"kapan kesini za? raya mana?" tanya ayah burhan
"barusan yah, raya lagi di dapur baru selesai makan" jawab eza
"ya sudah ayah ke kamar ya, ngantuk mau tidur" pamit ayah burhan
"silahkan yah"
tak lama setelah eza sampai di kamar raya pun ikut masuk membawa secangkir kopi dan beberapa cemilan untuk eza
__ADS_1
ada rasa hangat menjalar ke dalam relung hati eza di perlakukan layaknya seorang suami oleh raya sudah beberapa bulan terakhir ini eza sudah tidak mendapat perhatian seperti itu oleh raya bukan karena raya yang tidak mau melayani melainkan eza yang tidak pernah ada waktu hanya untuk sekedar mengobrol dengan raya, eza selalu pulang larut malam bahkan tak jarang eza pulang saat raya sudah tertidur dan jika ada kesempatan pulang lebih awal raya dan eza selalu saja berdebat dan berujung dengan pertengkaran di antara keduanya
"ray..." panggil eza lembut
"apa" sahut raya
"kamu beneran di usir nenek?" tanya eza
"di usir secara gamblang sih engga tapi nenek terus nyindir aku za, aku cukup tahu diri lah disana cuman numpang apalagi sejak pertama kali aku tinggal di sana kayaknya nenek gak suka kalau aku tinggal satu atap sama nenek kamu" jawab raya sejujur-jujurnya
"mungkin kamu salah paham ray, nenek kan sifatnya emang gitu kita harus bisa maklum kata orang kan kalau udah tua sifatnya suka balik lagi kayak anak kecil"
"salah paham gimana sih za? tiap aku ngomong selalu salah di mata nenek, tiap aku ngelakuin sesuatu selalu di cela dan yang paling buat aku sakit hati adalah aku mau pamit kerja tangan aku malah di tepis kasar banget sama nenek kamu za, seandainya kamu yang ada di posisi aku apa kamu bisa nyimpulin kalau semua ini cuman salah paham?"
"dengan terang-terangan nenek sukma ngeliatin ketidaksukaannya sama aku za, aku juga punya perasaan siapa yang bener-bener tulus sayang sama aku atau sekedar ada udang di balik batu"
"maksud kamu?"
"sudahlah gak usah di bahas lagi, aku tahu kamu gak akan pernah percaya dan gak akan pernah peduli sama aku percuma juga aku ngomong sama kamu"
"jadi menurut kamu kita baiknya sekarang gimana? aku bingung lho kalau kondisinya kayak gini"
"untuk saat ini aku gak mau tinggal di rumah nenek kamu dulu za"
"tapi kalau untuk nyicil rumah pun sekarang aku belum mampu ray"
"aku bisa tinggal disini, terserah kamu mau ikut tinggal disini atau engga... aku cuma butuh ketenangan dan kenyamanan itu aja"
"ya udah kalau gitu kamu tinggal dulu aja disini, sekali-kali aku juga akan ikut nginep disini juga"
bukan... bukan jawaban seperti itu yang raya ingin dengan dari mulut eza tapi raya hanya bisa pasrah apapun keputusan eza, raya akan menerimanya jika seandainya raya menyeruakan keinginannya pasti obrolan mereka akan berakhir dengan perdebatan yang tidak ada ujungnya
mungkin memang eza sudah tidak ada keinginan lagi buat mempertahankan pernikahannya dengan raya dan raya mulai sadar jika selama ini dia hanya berjuang sendirian dalam pernikahannya
raya mengira malam ini eza akan ikut tidur di rumahnya namun ternyata pikirannya salah, tepat pukul 21:00 eza meminta izin untuk pulang dengan alasan tidak membawa pakaian untuk bekerja besok
eza pulang tanpa berpamitan kepada bunda lena dan ayah burhan karena tidak ingin mengganggu waktu istirahat mereka
satu jam setelah kepulangan eza raya mendapat pesan dari anita yang membuat dirinya tercengang
"kak,, apa kak eza ikut nginep disana? kok belum pulang?"
sebuah pesan yang sangat biasa namun memberikan efek yang luar biasa bagi raya, raya terus menekan rasa sesak di dalam dadanya membayangkan sang suami yang saat ini sedang bersama wanita lain bukan sekedar menuduh tapi raya sudah memastikan ke semua teman-teman eza jika eza tidak sedang berada bersama teman-temannya dan sudah di pastikan malam ini eza sedang bersama selingkuhannya
__ADS_1
"sampai kapan aku bertahan dengan semua rasa sakit ini ya Allah"