
sore itu eza benar-benar merealisasikan niatnya untuk mengajak raya jalan-jalan, pukul 17:00 raya sudah bersiap dan memakai pakaian terbaiknya untuk pergi bersama sang suami
selama menunggu eza mandi raya memainkan ponselnya berselancar ke dalam akun sosial media miliknya, tanpa sengaja raya melihat salah satu postingan reva sahabat raya sejak mereka kecil raya melihat reva memposting beberapa foto reva bersama sahabatnya yang lain sedang berada di sebuah cafe sembari tertawa bahagia
sontak saja rasa rindu itu kian menyeruak ke dalam relung hati raya yang paling dalam tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca
"kamu kenapa?" tanya eza melihat ekspresi wajah raya menjadi murung saat menatap ponselnya
"gak apa-apa" jawab raya mencoba menyembunyikan apa yang dia rasakan saat ini
"serius?" tanya eza lagi
"iya" sahut raya beranjak keluar dari kamar mereka
"tunggu dulu, kamu kenapa pake celana yang itu sih?" sergah eza dengan tatapan tak suka nya
"emangnya kenapa kalau aku pake celana ini? ada yang salah?" tanya raya
"kalau pergi sama aku itu harus terlihat sempurna jangan cuman pake celana jeans sama tshirt doang, biasa banget"
"terus aku harus pake baju apa? cuman mau jalan-jalan doang kan bukan mau pergi ke acara pesta"
"ganti pake mini dress, sepatunya juga ganti pakai hills biar keliatan lebih anggun" titah eza meneliti penampilan raya dari atas sampai bawah
"ribet kalau pake hills nanti jalannya susah, kalau jatoh gimana?"
"makanya jangan sampai jatoh, ayo cepetan ganti keburu magrib"
dengan terpaksa raya mengikuti keinginan eza untuk berganti pakaian meskipun sebenarnya raya lebih nyaman menggunakan pakaian seperti yang sudah ia kenakan saat ini celana jeans sobek dan tshirt di padukan dengan sepatu casual berwarna putih namun untuk melawan perintah eza, raya pun tak kuasa sejak pacaran eza selalu menuntut raya untuk terlihat sempurna dalam keadaan apapun tak peduli raya merasa nyaman atau tidak yang terpenting eza bisa membanggakan raya di hadapan semua teman-temannya
"nah beginikan lebih cantik dari pada yang tadi keliatan kayak preman" celetuk eza membuat hati raya mencelos
"ayo berangkat" lanjut eza menarik tangan raya keluar dari rumah
__ADS_1
setelah berpamitan dengan mama yeni eza dan raya langsung pergi begitu saja tanpa pamit kepada nenek sukma
tanpa sepengetahuan eza dan raya nenek sukma melihat dari dalam kamar kepergian raya dan eza, nenek sukma merasa tidak suka melihat penampilan raya yang menurutnya kurang sopan karena menggunakan dress yang terlalu pendek
"seharusnya kamu bisa nyuruh istri kamu buat berhijab za bukan mengumbar aurat seperti itu" gumam nenek sukma yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri
*
*
*
eza mengajak raya untuk memasuki sebuah store pakaian khusus pria di dalam sebuah mall, tangan keduanya terpaut dari awal mereka menginjakan kaki di mall itu terlihat sangat mesra dan membuat iri setiap kaum jomblo yang melihatnya
eza meminta raya untuk memilihkan beberapa kemeja dan sebuah jaket untuk eza karena eza sangat tahu selera raya dalam memilih fashion tidak bisa di ragukan lagi sangat up to date dan selalu terlihat keren
senyum raya terus tercetak di bibir mungilnya raya mengira bahwa eza juga akan membelikannya pakaian sama seperti eza namun senyum raya menghilang begitu saja saat eza menarik tangan raya keluar dari mall itu tanpa menawari raya untuk membeli satu helai pakaianpun
"baju kamu masih bagus-bagus yank dan masih up to date juga nanti kalau aku gajian baru aku beliin buat kamu" jawab eza
meskipun sedikit kecewa raya menganggukan kepalanya menyetujui ucapan eza
eza terus saja menarik raya agar berjalan lebih cepat mengimbangi dirinya seakan lupa kalau raya saat ini memakai hills sangat sulit untuk berjalan cepat apalagi mengimbangi jalan eza yang terlihat buru-buru
dengan terseok-seok raya mengikuti langkah lebar eza bahkan raya harus berlari kecil untuk menyusul sang suami namun karena tak terlalu fokus melihat jalanan, raya tidak tahu bahwa di hadapannya ada sebuah turunan
brukkkkkk
"awwwwwww"
"ya Allah kenapa yank?" tanya eza menghampiri raya yang sudah duduk di atas aspal sambil memegang kakinya
"kayaknya kaki aku terkilir sakit banget, ssshhhh" ucap raya meringis menahan sakit
__ADS_1
"kok bisa?" celetuk eza
"kamu gak nyadar jalan kamu cepet banget, gak lupa kan kalau aku pake hills" tunjuk raya pada hills miliknya yang nyaris patah
"kan aku bilang jangan sampai jatoh, repot kan jadinya"
"bukannya bantuin berdiri kenapa jadi kamu yang ngomel"
"ya udah ayok berdiri kuat gak" tanya eza konyol
raya merasa sangat jengkel dengan sikap eza yang seakan tidak peduli dengan rasa sakit yang raya rasakan, raya mencoba berdiri namun semakin di tekan kakinya semakin terasa sakit dan berdenyut tapi melihat sikap eza yang cuek raya memaksakan untuk berjalan menuju cafe milik fahmi yang tak jauh dari tempatnya terjatuh
"masih sakit?" tanya eza di sela-sela langkah kaki mereka tanpa menjawab raya hanya menganggukan kepalanya saja menahan rasa sakit dan kesal secara bersamaan
raya berjalan sambil berpegangan di lengan eza, sejenak raya menghentikan kakinya karena terasa semakin sakit untuk di bawa berjalan raya melihat keadaan kakinya yang ternyata sudah membengkak dan sedikit membiru akhirnya raya menyerah dan meminta eza untuk meninggalkannya jika eza tidak mau menggendongnya sampai ke cafe fahmi
"itu cafe nya udah di depan masa gak kuat sih" ucap eza membuat raya tak percaya
"ini sakit banget kamu gak liat kaki aku bengkak kayak gini" sentak raya sudah sangat kesal dengan sikap eza
"ya tahan sebentar, gak usah manja deh" seru eza lagi-lagi menyulut emosi raya
dengan perasaan kesal raya meninggalkan eza terlebih dahulu tak peduli kakinya yang makin terasa sakit, raya berjalan terpincang-pincang menahan rasa sesak di hatinya karena eza yang terlihat tidak peduli kepadanya perlahan air mata raya keluar begitu saja tanpa harus di minta rasa sakit di hatinya lebih dominan ketimbang rasa sakit di kakinya yang semakin terlihat membengkak
"ray lo kenapa?" tanya fahmi melihat raya masuk ke dalam cafe nya dengan langkah terpincang-pincang tanpa menggunakan alas kaki
"kaki gue sakit banget mi" jawab raya yang sudah tidak bisa lagi menahan airmatanya
"ya Allah kaki lo terkilir kayaknya bengkak banget" seru fahmi menatap ke arah kaki raya
"eza mana?" tanya fahmi lagi
bukannya menjawab raya semakin menangis dan menggelengkan kepalanya fahmi yang tidak tega melihat kondisi raya akhirnya berlari ke belakang mengambil es untuk mengompres kaki raya yang semakin membengkak
__ADS_1